Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Guadalajara Meksiko Dilanda Kekerasan Kartel Jelang Piala Dunia 2026

Khoerun Nadif Rahmat
24/2/2026 16:13
Guadalajara Meksiko Dilanda Kekerasan Kartel Jelang Piala Dunia 2026
GUADALAJARA, Meksiko, salah satu kota tuan rumah Piala Dunia 2026.(Dok. Google Maps)

GUADALAJARA, Meksiko, bersiap menjadi tuan rumah empat laga Piala Dunia 2026 di tengah bayang-bayang kekerasan kartel dan gelombang penghilangan paksa yang masih menghantui negara bagian Jalisco.

Kota terbesar kedua di Meksiko itu diguncang kekerasan akhir pekan lalu menyusul operasi militer yang menewaskan pemimpin Kartel Generasi Baru Jalisco, Nemesio "El Mencho" Oseguera, sekitar 130 kilometer dari Guadalajara.

Sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Amerika Serikat dan Kanada, Meksiko akan menggelar sejumlah pertandingan Piala Dunia musim panas ini. Guadalajara dijadwalkan menjadi tuan rumah empat pertandingan Piala Dunia 2026.

Pemerintah negara bagian Jalisco, yang beribu kota di Guadalajara, menyiapkan pengamanan berbasis teknologi untuk memastikan kelancaran ajang sepak bola Piala Dunia 2026 tersebut. Drone, perangkat anti drone, serta sistem pengawasan video berbasis kecerdasan buatan akan dikerahkan untuk menjaga keamanan.

Langkah itu dilakukan di tengah situasi Jalisco yang menghadapi epidemi penghilangan orang dan penemuan kuburan rahasia. Berdasarkan data resmi, Jalisco mencatat 12.575 orang hilang, lebih dari separuhnya berasal dari wilayah metropolitan Guadalajara.

Pada Minggu (22/2) waktu setempat, kartel bereaksi keras atas tewasnya Oseguera. Baku tembak dengan aparat keamanan dilaporkan menewaskan sedikitnya 57 orang di berbagai wilayah Meksiko, baik dari kalangan tentara maupun anggota kartel. Blokade jalan raya terjadi di 20 negara bagian, disertai pembakaran bus dan tempat usaha.

Akibat situasi tersebut, otoritas menangguhkan pertandingan sepak bola di Guadalajara dan negara bagian Queretaro. FIFA selaku badan sepak bola dunia menolak berkomentar terkait kekerasan di salah satu kota tuan rumah.

Hingga Senin (23/2), jalan jalan di Guadalajara masih relatif lengang. Sejumlah usaha tetap tutup dan kegiatan belajar mengajar di Jalisco dihentikan. Sekolah di sekitar selusin negara bagian lain juga ditutup. Beberapa hari sebelumnya, pejabat keamanan negara bagian menyatakan Guadalajara dalam kondisi "damai".

Situasi Mengerikan

Penghilangan orang di Jalisco dipicu antara lain oleh perekrutan paksa oleh kelompok kriminal, ujar akademisi Universitas Guadalajara, Carmen Chinas.

Dikutip dari AFP, keluarga korban penghilangan telah menemukan ratusan kuburan rahasia dalam upaya mencari kerabat mereka. Sebagian aktivis menyayangkan penunjukan Guadalajara sebagai tuan rumah Piala Dunia.

"Saya tidak berpikir ada yang bisa dirayakan. Bagi saya ini situasi yang sangat mengerikan," kata Carmen Ponce, 26, yang kehilangan saudara laki lakinya, Victor Hugo, pada 2020.

"Negara merayakan gol sementara kami di sini masih mencari," ujarnya di sebuah lahan tempat ia dan ibunya menemukan kantong plastik berisi jasad lima orang pada September lalu.

Kekhawatiran juga muncul terkait potensi protes warga yang marah kepada pemerintah saat pencarian anggota keluarga mereka masih berlangsung. Juan Carlos Contreras, yang mengawasi jaringan kamera keamanan kota, mengatakan bahwa protes semacam itu mungkin terjadi.

Pukulan Ekonomi

Dampak kekerasan juga terasa pada sektor pariwisata. Missael Robles, 31, pemandu wisata di Guadalajara, mengatakan bahwa ia membatalkan hingga 25 tur sejak kekerasan meletus pada Minggu.

"Pukulan ekonominya sangat besar," katanya.

Otoritas juga menemukan properti yang diduga digunakan kelompok kriminal hanya beberapa kilometer dari Stadion Akron yang akan menjadi lokasi pertandingan Piala Dunia.

Kurang dari dua kilometer dari kompleks olahraga tersebut, kantor kejaksaan negara bagian menggerebek sebuah rumah dan menangkap dua orang yang dituduh melakukan penculikan.

Dikutip dari AFP, terdapat rantai melilit jeruji besi di bangunan kosong itu, dengan Stadion Akron terlihat di kejauhan.

Jose Raul Servin, yang mencari putranya Raul sejak hilang pada April 2018, khawatir wisatawan yang datang untuk Piala Dunia bisa menjadi sasaran kelompok kriminal.

"Kami tidak ingin terjadi apa apa," katanya, "seperti yang terjadi pada kami."

Servin mengenang putranya sebagai penggemar sepak bola. "Jika dia ada di sini, dia pasti senang dengan Piala Dunia," ujarnya. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya