Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Susu bukan Satu-Satunya Sumber Protein, Ahli Gizi: Optimalkan Pangan Lokal

Basuki Eka Purnama
12/1/2026 05:42
Susu bukan Satu-Satunya Sumber Protein, Ahli Gizi: Optimalkan Pangan Lokal
Ilustrasi(Freepik)

SUSU sapi selama ini sering dianggap sebagai primadona tunggal dalam pemenuhan gizi anak. Padahal, dalam konsep piramida gizi seimbang, susu hanyalah salah satu opsi dari kelompok sumber protein

Masyarakat pun diimbau untuk tidak terpaku pada susu jika akses atau harganya sulit dijangkau, karena banyak sumber pangan lain yang memiliki nilai gizi serupa.

Ahli Gizi dari Asosiasi Ahli Gizi Olahraga Indonesia (ISNA), Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, menjelaskan bahwa protein dalam piramida gizi mencakup sumber hewani dan nabati. Menurutnya, pemenuhan gizi anak tidak harus dipaksakan melalui susu jika ketersediaannya terbatas.

“Susu sapi itu di dalam piramida gizi seimbang, dia masuk ke dalam kelompok sumber protein. Jadi artinya kita tidak harus memaksakan pemberian susu jika kemudian tidak tersedia atau harganya relatif tidak terjangkau misalnya, karena mereka bisa digantikan dengan sumber protein yang lain,” ujar Rita, dikutip Senin (12/1).

Keberagaman Pangan sebagai Kunci

Rita memaparkan bahwa protein hewani dapat diperoleh dengan mudah dari telur, daging ayam, daging sapi, hingga ikan. Sementara itu, protein nabati bisa didapat dari tahu, tempe, serta kacang-kacangan.

Namun, ia menggarisbawahi bahwa tidak semua bahan pangan memiliki kandungan kalsium yang tinggi. Untuk menyiasati asupan kalsium tanpa susu, Rita menyarankan konsumsi ikan yang dimakan bersama tulangnya, seperti ikan teri basah atau ikan presto. 

Selain itu, tempe, kacang merah, kacang kedelai, kacang tanah, hingga sayuran hijau seperti brokoli juga menjadi sumber kalsium yang baik.

“Ketika anak diberikan makanan beraneka ragam, artinya pemberian ikan, ada sayur, tempe, kalsiumnya itu relatif bisa terpenuhi walaupun memang tidak setinggi yang terdapat pada susu sapi. Kalau mereka diberikan secara beraneka ragam, kemungkinan kalsium itu relatif bisa memenuhi kebutuhan gizi anak,” tambah Dosen Pascasarjana Universitas Faletehan tersebut.

Fleksibilitas Program Makan Bergizi Gratis

Senada dengan pandangan ahli gizi, Pemerintah, melalui Badan Gizi Nasional (BGN), juga menerapkan prinsip fleksibilitas dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menekankan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah tidak perlu memaksakan menu susu jika sumber lokal tidak memadai.

Pemerintah lebih mengutamakan penggunaan produk segar yang tersedia di wilayah masing-masing untuk menjaga kualitas dan efisiensi.

"Untuk daerah-daerah yang ada sapi perahnya kami izinkan mereka memberikan susunya, tapi bagi mereka yang jauh sapi perahnya dan belum ada, saya kira tidak perlu dipaksakan menggunakan susu. Bisa diganti dengan sumber kalsium lainnya," tegas Dadan saat meninjau pelaksanaan MBG di Jakarta Utara.

Melalui pendekatan ini, pemenuhan gizi nasional diharapkan tidak lagi bergantung pada satu komoditas saja, melainkan mengoptimalkan potensi pangan lokal yang jauh lebih beragam dan mudah diakses oleh masyarakat luas. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya