Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Menggali Kembali Identitas Bangsa Melalui Melacak Jejak Pangan Nusantara

Basuki Eka Purnama
19/12/2025 21:46
Menggali Kembali Identitas Bangsa Melalui Melacak Jejak Pangan Nusantara
Talkshow edukatif bertajuk Melacak Jejak Pangan Nusantara, yang digelar pada Kamis (18/12) di Jakarta.(MI/HO)

INDONESIA dikenal sebagai salah satu negara dengan keberagaman pangan lokal terbesar di dunia. Namun, ironisnya, kekayaan nutrisi dan nilai budaya ini perlahan mulai tersisih oleh dominasi produk olahan, makanan instan, dan bahan pangan impor yang dianggap lebih praktis dan modern oleh masyarakat urban.

Hal itu terungkap dalam talkshow edukatif bertajuk Melacak Jejak Pangan Nusantara, yang digelar pada Kamis (18/12) di Jakarta. Diskusi ini bertujuan mengajak masyarakat untuk kembali mengenali potensi pangan lokal yang sebenarnya berada sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pangan sebagai Identitas dan Sejarah

Hilangnya kedekatan masyarakat dengan pangan lokal bukan sekadar masalah perubahan selera. 

Kondisi ini berdampak serius pada berkurangnya keragaman konsumsi, melemahnya pola makan berimbang, hingga pudarnya pengetahuan tradisional. Padahal, pangan lokal menyimpan filosofi hubungan harmonis antara manusia, alam, dan budaya.

Repa Kustipia, Research Director Center for Study Indonesian Food Anthropology (CS-IFA), menjelaskan bahwa pangan lokal adalah cerminan sejarah panjang bangsa.

“Pangan lokal merupakan hasil dari trajektori sejarah panjang, mulai dari fase pemburu-peramu, pertanian awal, sistem agraris kerajaan, hingga masuknya sistem pangan kolonial dan industri modern. Setiap fase tersebut membentuk cara masyarakat Nusantara mengenal, mengolah, dan memaknai makanan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ungkap Repa.

Pendekatan Ilmiah dan Inovasi Masa Depan

Dari sisi riset, Dr. Dra. Dwinita Wikan Utami, M.Si., Kepala Riset Hortikultura dan Perkebunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menekankan bahwa keberlanjutan pangan lokal memerlukan kolaborasi aktif dari berbagai pihak. 

Menurutnya, pengembangan pangan lokal hanya akan optimal jika temuan riset dapat diterjemahkan menjadi praktik nyata yang bermanfaat bagi masyarakat dan memperkuat posisi pangan lokal di pasar.

Selain tanaman hortikultura, inovasi sumber protein juga menjadi sorotan. Pakar entomologi Dr. Ir. Dadan Hindayana melihat potensi besar pada serangga sebagai alternatif protein masa depan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan ternak konvensional.

“Serangga unggul dari sisi kandungan protein dan efisiensi produksi dibandingkan ternak konvensional, sehingga membuka peluang besar sebagai sumber protein masa depan,” jelas Dadan. 

Ia bahkan menegaskan, “Serangga adalah masa depan pangan kita. Bukan tidak mungkin serangga sumber protein masa depan.”

Mendorong Literasi Pangan

Dialog terarah ini diharapkan dapat meningkatkan literasi pangan berbasis masyarakat. Fokus utama acara ini bukan hanya membedah sisi sosial dan budaya, tetapi juga memberikan solusi praktis bagaimana mengolah bahan Nusantara secara kreatif tanpa kehilangan identitas aslinya.

Diharapkan, kolaborasi lintas sektor antara akademisi, industri, dan komunitas ini dapat menumbuhkan kesadaran publik bahwa pangan lokal adalah pilihan yang sehat, berkelanjutan, dan tetap relevan di masa kini. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik