Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Optimalisasi Kacang Hijau: Solusi Pangan Lokal Murah untuk Tekan Angka Stunting

Basuki Eka Purnama
11/2/2026 07:47
Optimalisasi Kacang Hijau: Solusi Pangan Lokal Murah untuk Tekan Angka Stunting
Ilustrasi(Freepik)

MOMENTUM Hari Kacang-kacangan Sedunia (World Pulses Day) yang diperingati setiap 10 Februari menjadi pengingat pentingnya mengoptimalkan potensi pangan lokal dalam mendukung kesehatan masyarakat. Salah satu komoditas yang menjadi sorotan utama dalam upaya pencegahan stunting di Indonesia adalah kacang hijau.

Pemanfaatan kacang hijau dinilai sangat relevan karena aksesnya yang mudah, harga terjangkau, serta kandungan gizi yang tinggi. 

Pakar Gizi dari IPB University, Prof Ali Khomsan, menegaskan bahwa kacang hijau merupakan sumber protein nabati yang sangat krusial bagi pertumbuhan anak-anak dan kesehatan ibu hamil.

"Kalau kita bicara tentang kacang hijau sebagai leguminosa (kacang-kacangan), itu adalah tanaman yang memang kaya protein. Kandungan proteinnya bisa berkisar 20% sampai 35%, sehingga relatif tinggi," ujar Prof Ali Khomsan, yang juga merupakan dosen di Departemen Gizi Masyarakat IPB University.

MI/HO--Pakar Gizi dari IPB University, Prof Ali Khomsan

Selain faktor nutrisi, aspek ekonomis menjadi keunggulan tersendiri. Harga kacang hijau yang tergolong murah membuatnya terjangkau bagi keluarga di berbagai lapisan ekonomi. 

Namun, Prof Ali memberikan catatan kritis terkait metode pemberian makanan tambahan di lapangan, seperti di Posyandu.

Menurutnya, intervensi gizi tidak boleh dilakukan secara sporadis atau sekadar formalitas bulanan. Untuk memberikan dampak nyata bagi anak yang mengalami gizi kurang atau stunting, pendekatan pangan harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

"Kalau di Posyandu pemberiannya hanya satu bulan sekali, itu pasti tidak cukup. Anak-anak yang mengalami stunting atau masalah gizi harus diutamakan pendekatan pangan, diberikan makanan setiap hari, ada yang selama tiga bulan, ada yang sampai enam bulan," jelasnya.

Dari sisi akseptabilitas, olahan kacang hijau seperti bubur atau camilan cenderung mudah diterima oleh lidah anak-anak. Hal ini memudahkan para orang tua dalam menyajikan asupan bergizi tanpa kendala penolakan dari anak.

Meski demikian, Prof Ali mengingatkan masyarakat bahwa protein nabati memiliki keterbatasan dibandingkan protein hewani, terutama dalam hal daya cerna dan penyerapan nutrisi oleh tubuh. 

Oleh sebab itu, ia menekankan bahwa kacang hijau tidak bisa menjadi solusi tunggal yang berdiri sendiri.

"Protein nabati daya cernanya tidak setinggi pangan hewani, sehingga harus dikombinasikan dengan pangan hewani seperti susu, telur, atau sumber hewani lainnya. Tetapi pangan lokal kacang hijau ini tetap perlu dioptimalkan," tambahnya.

Sebagai langkah konkret, ia merekomendasikan agar pemanfaatan kacang hijau diintegrasikan secara berkelanjutan dalam program edukasi gizi dan pemberian makanan tambahan. 

Program yang rutin dan berjangka panjang diharapkan dapat memberikan perubahan signifikan terhadap status gizi anak-anak di Indonesia. (Z-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya