Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
BELAKANGAN ini, tren mengonsumsi makanan yang diolah dengan cara dikukus dan direbus kian digemari masyarakat. Fenomena ini dinilai bukan sekadar tren musiman, melainkan sinyal positif meningkatnya kesadaran publik terhadap konsumsi real food atau pangan alami yang minim proses demi menunjang pola hidup sehat.
Dosen Program Studi Supervisor Jaminan Mutu Pangan Sekolah Vokasi IPB University, Ai Imas Faidoh Fatimah, STP, MP, MSc, menjelaskan bahwa pilihan mengolah pangan dengan cara dikukus membawa dampak signifikan bagi kesehatan tubuh.
Menurutnya, bahan pangan seperti jagung, ubi jalar, singkong, dan labu adalah sumber nutrisi yang sangat baik.
"Pangan kukusan seperti jagung, pisang, ubi jalar, singkong, dan labu merupakan sumber karbohidrat kompleks, serat pangan, serta berbagai vitamin yang berperan dalam mendukung pemenuhan gizi tubuh," ujar Ai Imas.
Dari sisi teknis pengolahan, Ai Imas memaparkan bahwa mengukus atau merebus jauh lebih sehat dibandingkan menggoreng. Hal ini karena metode pengukusan mampu menekan penggunaan minyak goreng, sehingga makanan yang dihasilkan lebih rendah lemak jenuh dan kalori.
Selain itu, teknik ini lebih unggul dalam menjaga kualitas nutrisi bahan pangan.
"Pengukusan meminimalkan penggunaan minyak sehingga pangan menjadi lebih rendah lemak jenuh dan kalori," ucapnya.
Ia menambahkan bahwa suhu pengukusan yang relatif lebih rendah membantu mempertahankan kandungan vitamin dan mineral yang sering kali rusak jika terkena panas berlebih atau larut dalam air.
"Bahan pangan yang dikukus tidak kontak langsung dengan air, sehingga kehilangan vitamin dan mineral menjadi lebih kecil," kata dia.
Banyak bahan pangan lokal Indonesia yang sangat diuntungkan jika diolah dengan teknik ini.
Ai Imas merinci, umbi-umbian seperti talas dan kentang dapat menjadi sumber karbohidrat utama. Sementara itu, sayuran hijau dan berwarna cerah seperti brokoli serta wortel tetap kaya akan antioksidan jika dikukus dengan benar.
Untuk kebutuhan protein, kacang-kacangan seperti edamame dan kacang tanah, hingga protein hewani seperti telur, sangat cocok disajikan dalam bentuk kukusan.
Pemanfaatan bahan-bahan ini sekaligus memperkuat konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.
Mengenai frekuensi konsumsi, Ai Imas menegaskan bahwa makanan kukusan sangat aman, bahkan dianjurkan untuk dikonsumsi setiap hari. Namun, ia memberikan catatan penting mengenai prinsip keberagaman pangan.
Masyarakat diingatkan untuk tidak hanya terpaku pada satu jenis makanan agar kebutuhan gizi tetap seimbang.
"Makanan kukusan sebaiknya dikombinasikan dengan sumber protein hewani agar tidak hanya memberikan rasa kenyang dan mengikuti tren, tetapi juga mendukung pemeliharaan kesehatan tubuh secara optimal," pungkasnya. (Z-1)
Menurut Alzheimer's Association, sekitar 5 hingga 10 persen kasus Alzheimer termasuk dalam kategori onset dini.
Studi terbaru ungkap stres kronis dapat merusak tulang dan picu osteoporosis melalui hormon stres serta gangguan sistem tubuh.
Simak 7 tips dari dr Mimi Oktafia (IPB University) untuk menjaga kesehatan fisik dan mental agar tampil maksimal saat UTBK-SNBT 2026.
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program Health Talk.
Merasa terganggu dan takut kehilangan kewarasan, wanita tersebut mencari bantuan psikiater, Dr. Ikechukwu Obialo Azuonye.
Gagal ginjal sering berkembang tanpa gejala di tahap awal. Kenali tanda-tanda seperti kelelahan, edema, hingga perubahan urine untuk penanganan sedini mungkin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved