Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ahli nutrisi menyarankan penerapan kebiasaan makan yang dapat mendukung keseimbangan hormon dan kesehatan metabolisme kepada mereka yang berusaha untuk menurunkan berat badan.
Menurut siaran Health pada Senin (26/1), kebiasaan menyehatkan yang disarankan oleh ahli nutrisi meliputi konsumsi serat cukup, diet dengan komposisi makanan seimbang, pengaturan waktu makan, pengelolaan stres, dan konsumsi makanan dengan kandungan asam lemak omega-3.
1. Konsumsi serat cukup
Orang dewasa direkomendasikan mengonsumsi sekitar 25 gram sampai 38 gram serat per hari sesuai dengan usia dan jenis kelamin. Kecukupan asupan serat bisa menghadirkan rasa kenyang, mendukung fungsi usus, dan berpengaruh baik pada metabolisme.
Menurut dietisien Lizzy Swick, RDN, memprioritaskan makan makanan kaya serat dan minim pengolahan seperti kacang-kacangan, lentil, oat, sayuran, dan beri seringkali lebih penting daripada sibuk menghitung asupan kalori.
"Meskipun kalori yang masuk versus kalori yang keluar pada akhirnya menentukan berat badan, penelitian menunjukkan bahwa serat yang dapat difermentasi meningkatkan hormon kenyang (seperti GLP-1 dan PYY), yang secara alami membantu orang mengatur asupan energi tanpa perlu secara cermat melacak kalori," ia menjelaskan.
Nutrisionis Lisa Andrews, MEd, RD, LD mengatakan kepada Health bahwa mengonsumsi serat yang cukup mungkin merupakan kebiasaan yang terpenting untuk kesehatan metabolisme.
"Serat membantu mengatur nafsu makan, mengubah mikrobioma usus Anda, dan mengurangi risiko obesitas, kanker, dan penyakit kardiovaskular," katanya.
2. Mengonsumsi makanan dengan komposisi seimbang
Para ahli menyarankan penerapan diet dengan komposisi makanan seimbang, yang mencakup sayuran non-pati, protein, dan karbohidrat kaya serat.
Ahli gizi Sarah Glinski, RD menyampaikan bahwa setiap kali makan sebaiknya mengupayakan untuk mengonsumsi 1/4 piring sumber protein, 1/4 piring sumber karbohidrat bertepung, serta 1/2 piring sayuran dan buah.
3. Mengatur waktu makan
Pengaturan waktu makan juga penting dalam upaya pengendalian nafsu makan dan kadar gula darah.
"Memiliki pola makan yang stabil dan konsisten dapat membuat perbedaan besar dalam kesehatan metabolisme, jauh lebih besar daripada sekadar perhitungan kalori saja," kata nutrisionis Alyssa Simpson, RDN, CSDH, CGN, kepada Health.
Makan makanan dan camilan dengan jarak waktu yang teratur dengan tidak melewatkan makan dapat membantu tubuh menjaga kadar gula darah, nafsu makan, dan berat badan tetap stabil.
4. Mengelola Stres
Stres kronis dapat mengubah cara makan dan cara tubuh mengelola rasa lapar.
Stres kronis dapat meningkatkan kadar kortisol dan dikaitkan dengan lebih banyak makan emosional dan makan sebagai respons terhadap isyarat eksternal, seperti makan ketika makanan terlihat atau berbau enak, daripada karena lapar.
Menurut Simpson, stres memengaruhi perilaku makan dan respons hormonal dengan cara yang mengganggu keseimbangan energi, sebagian dengan memengaruhi hormon seperti kortisol dan pengaturan insulin.
Mengelola stres dapat menurunkan kemungkinan makan secara reaktif atau emosional.
5. Konsumsi makanan dengan kandungan asam lemak omega-3
Kathryn Durston, RDN selaku pemilik Naturally Good Nutrition menyampaikan bahwa mengonsumsi makanan yang mengandung asam lemak omega-3 seperti ikan dan kenari berdampak baik pada peradangan dan kesehatan jantung.
Ahli nutrisi menyarankan makan sayuran non-tepung lebih dulu sebelum protein dan karbohidrat untuk mengatur gula darah, memperlambat pencernaan karbohidrat.
Tren fibermaxxing atau konsumsi serat berlebihan picu masalah pencernaan dan defisit nutrisi. Simak takaran serat harian ideal menurut ahli gizi di sini.
Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis peringatkan bahaya kurang serat saat puasa yang bisa menyebabkan masalah pencernaan mulai dari sembelit, hemoroid, hingga gangguan mikrobiota usus dan mental.
Kunci utama pemenuhan serat terletak pada keberagaman jenis pangan yang dikonsumsi.
Yang paling sering terjadi saat asupan serat kurang itu sembelit. Banyak orang puasa mengalami sembelit dan perut tidak nyaman karena seratnya tidak cukup.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved