Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Waspada Sembelit Saat Puasa: Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Asupan Serat untuk Pencernaan dan Mental

Basuki Eka Purnama
19/2/2026 04:52
Waspada Sembelit Saat Puasa: Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Asupan Serat untuk Pencernaan dan Mental
Ilustrasi(Freepik)

PERUBAHAN pola makan selama bulan Ramadan sering kali membuat seseorang mengabaikan komposisi nutrisi yang tepat saat sahur dan berbuka. Salah satu masalah yang paling sering muncul adalah pengabaian asupan serat, yang jika dibiarkan dapat memicu gangguan kesehatan serius.

Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, mengingatkan bahwa kekurangan asupan serat selama berpuasa merupakan pemicu utama masalah pencernaan. 

Ia menyoroti fenomena sembelit atau susah buang air besar yang kerap dikeluhkan umat Muslim saat menjalani ibadah puasa.

"Yang paling sering terjadi saat asupan serat kurang itu sembelit. Banyak orang puasa mengalami sembelit dan perut tidak nyaman karena seratnya tidak cukup," kata Rita, Rabu (18/2).

Penyebab dan Dampak Langsung

Menurut Rita, penurunan konsumsi sayur dan buah-buahan akibat perubahan jadwal makan menjadi faktor utama kebutuhan serat harian tidak terpenuhi. 

Sebagai dosen di Universitas Faletehan Serang, ia menjelaskan bahwa serat memiliki peran mekanis dalam sistem pencernaan manusia.

Saat asupan serat rendah, pergerakan usus akan melambat. Hal inilah yang menyebabkan proses pembuangan sisa makanan menjadi tidak lancar dan menimbulkan rasa begah atau tidak nyaman di area perut. 

Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, risikonya tidak lagi sekadar sembelit biasa.

"Sembelit berkepanjangan dapat memicu peradangan dan meningkatkan risiko hemoroid (wasir)," tuturnya memperingatkan.

Kaitan Serat dengan Metabolik dan Kesehatan Mental

Lebih jauh, Rita memaparkan bahwa fungsi serat tidak terbatas pada urusan "belakang" saja. Serat juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan metabolik tubuh. 

Minimnya serat dapat menyebabkan kontrol penyerapan zat gizi menjadi kurang optimal, yang berujung pada lonjakan kadar gula dan lemak dalam darah.

Selain itu, ia menjelaskan hubungan unik antara pencernaan dan kondisi psikologis. Serat merupakan sumber makanan utama bagi mikrobiota atau bakteri baik di dalam usus. 

Jika populasi bakteri baik ini menurun akibat kurangnya asupan serat, dampaknya bisa merembet ke kesehatan mental.

"Kesehatan mikrobiota usus juga berkaitan dengan kesehatan mental. Jadi kalau asupan serat kurang, efeknya tidak hanya ke pencernaan, tapi bisa berdampak lebih luas," jelas Rita.

Rekomendasi Menu

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat sangat ditekankan untuk menjadikan sumber serat sebagai elemen wajib dalam piring makan, baik saat sahur maupun berbuka. 

Bahan pangan seperti sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian harus dikonsumsi secara konsisten.

Dengan terpenuhinya kebutuhan serat, diharapkan masyarakat dapat menjalani ibadah puasa dengan kondisi fisik yang prima tanpa terganggu oleh masalah pencernaan maupun ketidakseimbangan metabolik. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya