Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Ahli Gizi Tegaskan Susu bukan Pengganti Makanan Utama

Basuki Eka Purnama
11/1/2026 09:57
Ahli Gizi Tegaskan Susu bukan Pengganti Makanan Utama
Ilustrasi(Freepik)

ORANGTUA sering kali menganggap pemberian susu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi anak yang sulit makan. Namun, persepsi ini diluruskan oleh ahli gizi dari Asosiasi Ahli Gizi Olahraga Indonesia (Isna), Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes. Ia mengingatkan bahwa susu tidak boleh diposisikan sebagai pengganti makanan utama bagi anak.

Rita menjelaskan bahwa susu sejatinya berfungsi sebagai bagian dari makanan lengkap atau sekadar makanan selingan, terutama saat sarapan. Peran utamanya adalah melengkapi, bukan menggantikan nutrisi dari makanan padat.

“Kalaupun anak suka susu, orangtua tetap harus mengondisikan bahwa anak harus makan lengkap ketika makan utama, misalnya siang hari makan lengkap. Tapi jangan sampai diposisikan susu menggantikan makan lengkap, tidak demikian,” ujar Rita, dikutip Minggu (11/1).

Risiko Kekurangan Gizi

Kekhawatiran utama jika susu dijadikan pengganti makan besar adalah ketimpangan nutrisi. Meski kaya akan protein dan kalsium, susu tidak memiliki komposisi selengkap makanan padat yang terdiri dari karbohidrat kompleks, serat, dan berbagai mikronutrien lainnya.

Rita memaparkan bahwa mengandalkan makanan cair saja dapat berdampak buruk pada keseimbangan gizi dan sistem biologis anak.

“Tidak ada seratnya dan juga keseimbangan antara karbo, protein, lemak dan mikronutrien itu enggak tercipta kalau mengonsumsi hanya berupa makanan cair saja. Tentunya, proses pencernaan di dalam tubuh juga tidak baik kalau hanya menerima makanan cair saja,” tuturnya.

Membentuk Kebiasaan Makan

Lebih dari sekadar urusan perut, masa kanak-kanak adalah periode krusial untuk pembentukan kebiasaan makan. 

Dosen Pascasarjana Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Faletehan ini menekankan bahwa orang tua memiliki peran besar sebagai pelatih bagi anak dalam mengenal pola makan yang benar.

Jika anak telanjur lebih menyukai susu dibandingkan makanan utama, Rita menyarankan orangtua untuk lebih cermat menyiasati situasi tersebut. 

Salah satu caranya adalah dengan membangun komunikasi melalui kesepakatan menu dan melakukan modifikasi sajian agar sesuai selera anak tanpa menghilangkan nilai gizinya.

Strategi pemberiannya pun harus diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu nafsu makan anak terhadap menu utama.

“Berikanlah makan utama dulu, nanti ketika selingan apa yang masih kurang di makan utama misalnya anak kurang dapat kalsium, protein, maka susu bisa melengkapi sebagai makanan selingan bersama dengan makanan lain misalnya buah,” jelas lulusan Universitas Indonesia tersebut.

Dengan pola asuh yang tepat, susu akan tetap menjadi pendukung pertumbuhan yang optimal tanpa mengesampingkan pentingnya asupan makanan padat yang beragam. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya