Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Sinergi Gizi Seimbang: Kunci Transformasi SDM Indonesia dari Janin hingga Sekolah

Basuki Eka Purnama
02/2/2026 07:30
Sinergi Gizi Seimbang: Kunci Transformasi SDM Indonesia dari Janin hingga Sekolah
Ilustrasi(Freepik)

PEMENUHAN gizi seimbang kini menjadi fokus utama dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Hal ini menuntut konsistensi yang dimulai jauh sebelum anak lahir, yakni sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia sekolah.

Dietisien dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Luthfianti Diana Mauludiyah SGz, RD, menekankan bahwa periode paling krusial bagi perkembangan manusia terjadi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Periode ini mencakup masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

"Waktu paling krusial disebut 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak kehamilan atau 270 hari, usia 0–2 tahun atau 730 hari," ujar Luthfianti saat dihubungi di Jakarta.

Menurutnya, intervensi gizi tidak boleh berhenti setelah melewati periode emas tersebut. Nutrisi harus terus dicukupi secara berkelanjutan pada fase balita dan prasekolah (usia 2–5 tahun) yang merupakan masa eksplorasi dan perkembangan bahasa. 

Memasuki usia sekolah, anak membutuhkan energi dan nutrisi yang lebih spesifik untuk mendukung konsentrasi dalam belajar intensif.

"Gizi seimbang harus diberikan secara konsisten setiap hari, bukan hanya di usia tertentu," tegasnya.

Dampak Nyata Program Makan Bergizi Gratis

Sejalan dengan urgensi tersebut, pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) mulai melihat dampak positif dari implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa program ini telah menjangkau sekitar 58 juta penerima manfaat, mulai dari ibu hamil, menyusui, balita, hingga pelajar tingkat PAUD hingga SMA.

Dadan mencatat adanya perubahan perilaku dan kondisi fisik yang signifikan pada siswa di berbagai daerah setelah mendapatkan asupan gizi yang terukur di sekolah.

"Dengan adanya MBG, anak-anak selalu semangat masuk sekolah. Di daerah-daerah, mereka kelihatannya lebih aktif belajar dan ketika beraktivitas, badannya kelihatan lebih kuat dan jarang sakit," ungkap Dadan dalam sebuah siniar di Jakarta.

Peran Vital Orangtua di Rumah

Meski program MBG menunjukkan hasil positif, Dadan menegaskan bahwa program pemerintah tidak dapat berdiri sendiri. Keberlanjutan kualitas kesehatan anak sangat bergantung pada kesadaran orangtua dalam memenuhi kebutuhan gizi di lingkungan rumah.

Untuk mencapai Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang ideal, komposisi makanan dalam satu kali saji harus diperhatikan secara detail. 

Orangtua diharapkan memastikan setiap porsi makan anak mengandung komponen lengkap yang terdiri dari sumber energi, protein, lemak, dan serat.

Tanpa adanya keselarasan antara program sekolah dan pola makan di rumah, tujuan utama untuk mencetak generasi unggul Indonesia akan sulit tercapai secara maksimal. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya