Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
KESADARAN orangtua dinilai menjadi faktor penentu dalam keberhasilan penerapan gizi seimbang di lingkungan keluarga. Hal ini sangat krusial karena pola makan yang dibentuk sejak dini akan memengaruhi kesehatan jangka panjang serta kecerdasan anak.
Dokter Spesialis Gizi Klinik dari Departemen Ilmu Gizi FKUI, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK(K), menegaskan bahwa peran ibu dan ayah sangat vital dalam menyediakan keberagaman pangan bagi anggota keluarga.
“Kesadaran tadi kunci dari kesehatan keluarga itu adalah seorang ibu dan kalau bisa didukung oleh bapaknya juga lebih baik. Ini yang akan menentukan untuk menerapkan dalam segala kondisi, menyediakan keberagaman pangan maupun gizi seimbang,” ujar Diana, dikutip Sabtu (10/1).
Meski berbagai pedoman seperti kampanye GERMAS, materi edukasi Isi Piringku, hingga Tumpeng Gizi Seimbang mudah diakses, Diana menyayangkan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang masih belum optimal. Tantangan utama yang sering ditemui adalah kurangnya pemahaman mengenai keberagaman jenis zat gizi.
Menurutnya, kebutuhan anak mencakup makronutrien dan mikronutrien yang harus dipenuhi dari sumber makanan yang bervariasi.
“Kesadaran akan kebutuhan zat gizi yang beragam ini yang sering dilupakan. Karena zat gizi yang beragam ini bisa didapatkan dari makan-makanan yang beragam, jadi kalau makan sayur nggak boleh cuma wortel ataupun hanya bayam terus saja, tapi harus beragam,” tuturnya.
Selain jenis makanan, jumlah asupan atau porsi juga sering luput dari perhatian orang tua. Sering kali, orang tua merasa sudah memberikan sayur kepada anak, namun jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan serat harian.
“Jumlahnya sudah terpenuhi atau belum, seringkali kan lupa. Soalnya seringkali kita merasa bahwa ‘ah kita sudah makan sayur kok’, tapi sebenarnya hanya sayur sop yang jumlah seratnya sedikit,” ungkap Diana.
Penerapan gizi seimbang memiliki dampak langsung pada kesehatan saluran cerna. Asupan yang tepat akan menjaga keseimbangan bakteri baik (mikrobiota) di dalam usus. Pencernaan yang sehat inilah yang nantinya akan menjamin penyerapan nutrisi berjalan optimal.
Diana menjelaskan bahwa penyerapan zat gizi yang baik berbanding lurus dengan tumbuh kembang anak.
“Kalau kita ingin mendapatkan seorang anak yang tumbuh dengan optimal, kecerdasannya kognitifnya juga optimal, dibutuhkan zat-zat gizi, ini perlu diserap dengan baik. Itu kenapa gizi seimbang menjadi penting,” tegasnya.
Sebagai langkah praktis, Diana menyarankan orangtua untuk memperkenalkan menu makanan secara bertahap. Hal ini bertujuan agar anak dapat mengenali rasa dan tekstur sehingga tidak tumbuh menjadi pemilih makanan (picky eater).
Dalam menyiapkan bekal sekolah maupun menu harian, pastikan terdapat komponen makanan pokok, sumber protein hewani dan nabati, serta sayur dan buah.
“Yang terpenting memang pada anak sudah diberikan fondasi bahwa mereka mengenal makanan, mengenal beragam makanan, jadi tidak jadi picky eater, hanya makan makanan tertentu aja,” pungkasnya. (Ant/Z-1)
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
WHO menekankan mayoritas anak yang bunuh diri sebenarnya menunjukkan tanda peringatan sebelumnya, namun sering tidak terbaca atau diabaikan.
Pemerintah mengingatkan orangtua agar tidak melepas anak-anak ke dunia maya tanpa bekal pemahaman yang cukup mengenai konten yang mereka konsumsi beserta konsekuensinya.
Tantangan ruang digital bagi anak-anak di Indonesia kini telah bergeser dari sekadar konten negatif menuju ancaman yang bersifat personal dan sulit terdeteksi.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Pemerintah mengingatkan orangtua agar tidak melepas anak-anak ke dunia maya tanpa bekal pemahaman yang cukup mengenai konten yang mereka konsumsi beserta konsekuensinya.
Tantangan ruang digital bagi anak-anak di Indonesia kini telah bergeser dari sekadar konten negatif menuju ancaman yang bersifat personal dan sulit terdeteksi.
Ancaman utama dari Virus Nipah terletak pada angka kematiannya yang sangat tinggi, yakni mencapai 75%.
Udara malam yang dingin dikombinasikan dengan paparan polusi udara dapat merusak sistem pernapasan anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
Pengenalan puasa yang dilakukan dengan paksaan berisiko menimbulkan tekanan emosional yang berdampak negatif pada kesehatan mental anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved