Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
KESADARAN orangtua dinilai menjadi faktor penentu dalam keberhasilan penerapan gizi seimbang di lingkungan keluarga. Hal ini sangat krusial karena pola makan yang dibentuk sejak dini akan memengaruhi kesehatan jangka panjang serta kecerdasan anak.
Dokter Spesialis Gizi Klinik dari Departemen Ilmu Gizi FKUI, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK(K), menegaskan bahwa peran ibu dan ayah sangat vital dalam menyediakan keberagaman pangan bagi anggota keluarga.
“Kesadaran tadi kunci dari kesehatan keluarga itu adalah seorang ibu dan kalau bisa didukung oleh bapaknya juga lebih baik. Ini yang akan menentukan untuk menerapkan dalam segala kondisi, menyediakan keberagaman pangan maupun gizi seimbang,” ujar Diana, dikutip Sabtu (10/1).
Meski berbagai pedoman seperti kampanye GERMAS, materi edukasi Isi Piringku, hingga Tumpeng Gizi Seimbang mudah diakses, Diana menyayangkan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang masih belum optimal. Tantangan utama yang sering ditemui adalah kurangnya pemahaman mengenai keberagaman jenis zat gizi.
Menurutnya, kebutuhan anak mencakup makronutrien dan mikronutrien yang harus dipenuhi dari sumber makanan yang bervariasi.
“Kesadaran akan kebutuhan zat gizi yang beragam ini yang sering dilupakan. Karena zat gizi yang beragam ini bisa didapatkan dari makan-makanan yang beragam, jadi kalau makan sayur nggak boleh cuma wortel ataupun hanya bayam terus saja, tapi harus beragam,” tuturnya.
Selain jenis makanan, jumlah asupan atau porsi juga sering luput dari perhatian orang tua. Sering kali, orang tua merasa sudah memberikan sayur kepada anak, namun jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan serat harian.
“Jumlahnya sudah terpenuhi atau belum, seringkali kan lupa. Soalnya seringkali kita merasa bahwa ‘ah kita sudah makan sayur kok’, tapi sebenarnya hanya sayur sop yang jumlah seratnya sedikit,” ungkap Diana.
Penerapan gizi seimbang memiliki dampak langsung pada kesehatan saluran cerna. Asupan yang tepat akan menjaga keseimbangan bakteri baik (mikrobiota) di dalam usus. Pencernaan yang sehat inilah yang nantinya akan menjamin penyerapan nutrisi berjalan optimal.
Diana menjelaskan bahwa penyerapan zat gizi yang baik berbanding lurus dengan tumbuh kembang anak.
“Kalau kita ingin mendapatkan seorang anak yang tumbuh dengan optimal, kecerdasannya kognitifnya juga optimal, dibutuhkan zat-zat gizi, ini perlu diserap dengan baik. Itu kenapa gizi seimbang menjadi penting,” tegasnya.
Sebagai langkah praktis, Diana menyarankan orangtua untuk memperkenalkan menu makanan secara bertahap. Hal ini bertujuan agar anak dapat mengenali rasa dan tekstur sehingga tidak tumbuh menjadi pemilih makanan (picky eater).
Dalam menyiapkan bekal sekolah maupun menu harian, pastikan terdapat komponen makanan pokok, sumber protein hewani dan nabati, serta sayur dan buah.
“Yang terpenting memang pada anak sudah diberikan fondasi bahwa mereka mengenal makanan, mengenal beragam makanan, jadi tidak jadi picky eater, hanya makan makanan tertentu aja,” pungkasnya. (Ant/Z-1)
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Identifikasi trauma pada anak memerlukan kepekaan khusus karena mereka belum mampu mengomunikasikan perasaan mereka secara verbal.
Kondisi tubuh yang kuat sangat diperlukan agar anak mampu menghadapi berbagai efek samping akibat kemoterapi.
Screen time yang tidak tepat dinilai dapat memengaruhi tumbuh kembang anak secara signifikan.
Galaxy Tab A11 ditenagai prosesor Helio G99 yang memastikan perangkat berjalan responsif untuk berbagai kegiatan, mulai dari mengikuti kelas daring, mengerjakan tugas sekolah, dan hiburan.
Anak tengah memiliki risiko lebih besar merasa diperlakukan berbeda dibandingkan saudara sulung maupun bungsu.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Adil tidak berarti memberikan perlakuan yang identik kepada setiap anak, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Langkah pertama yang harus dilakukan bukanlah memaafkan secara terburu-buru, melainkan menyadari bagaimana pengalaman tersebut membentuk dinamika diri di masa kini.
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
DI tengah upaya pemerintah memperketat pengawasan digital bagi anak-anak, suara dari akar rumput mengingatkan bahwa regulasi teknis saja tidak cukup.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved