Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
HUTAN hujan Australia yang selama ini dikenal sebagai penyerap karbon andal kini berbalik arah. Studi terbaru menunjukkan kawasan hutan tropis di wilayah tersebut justru melepaskan lebih banyak karbon dioksida (CO2) ke atmosfer dibanding yang diserap.
Temuan itu menjadi peringatan bagi kebijakan iklim global yang selama ini bergantung pada kemampuan hutan untuk menahan laju emisi. Jika tren ini terus berlanjut, target pengurangan emisi dunia bisa semakin sulit dicapai.
Penelitian oleh Australian National University menemukan meningkatnya suhu, udara yang semakin kering, serta kekeringan dan badai yang lebih sering terjadi menjadi penyebab utama perubahan ini. Kondisi tersebut membuat banyak pohon mati dan pertumbuhan baru tak mampu mengimbanginya.
Penulis utama studi, Hannah Carle, mengatakan kemampuan hutan untuk menyerap karbon kini berada dalam ancaman. “Peningkatan kadar CO2 memang bisa mendorong pertumbuhan tanaman, tetapi tidak cukup kuat untuk melawan stres akibat panas dan kekeringan,” ujarnya.
Selain faktor cuaca ekstrem, badai tropis yang makin intens juga memperburuk keadaan. Angin kencang dan hujan deras menumbangkan banyak pohon, merusak kanopi hutan, dan membuat tanah lebih terbuka terhadap sinar matahari. Akibatnya, pemulihan hutan menjadi lambat, sementara kemampuan biomassa kayu untuk menyimpan karbon menurun tajam.
Perubahan hutan dari penyerap menjadi penghasil karbon berdampak besar bagi upaya penanggulangan krisis iklim. Selama ini, banyak kebijakan nasional dan internasional masih mengandalkan hutan tropis untuk menyeimbangkan emisi. Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa kemampuan tersebut mulai melemah.
Jika hutan tropis saja bisa kehilangan fungsinya di suhu saat ini, maka target pengurangan emisi harus direvisi dan dipercepat. Kondisi ini juga bisa memperburuk iklim regional. Suhu akan semakin panas, udara semakin kering, dan risiko kebakaran hutan pun meningkat.
Selain kehilangan kemampuan menyerap karbon, hutan hujan Australia juga menghadapi ancaman terhadap keanekaragaman hayati. Struktur hutan tua mulai rusak, habitat alami menyempit, dan banyak spesies kehilangan tempat hidupnya.
Para peneliti menegaskan kondisi ini bukan sekadar fenomena sementara. Data pemantauan selama beberapa dekade menunjukkan tren yang jelas dan konsisten. Mereka juga memperingatkan sebagian besar model iklim masih terlalu optimistis dalam memperkirakan kemampuan hutan untuk menyerap karbon di masa depan.
Oleh karena itu, perlindungan hutan menjadi semakin mendesak. Upaya seperti menjaga kawasan hutan tetap utuh, menghubungkan kembali bentang alam yang terpisah, dan menanam spesies pohon yang tahan kekeringan bisa membantu mempercepat pemulihan.
Namun, langkah yang paling penting adalah mengurangi emisi gas rumah kaca secara nyata. Tanpa itu, tekanan terhadap hutan hanya akan terus meningkat.
Temuan ini menjadi pengingat hutan hujan tetap menjadi sekutu penting dalam menghadapi krisis iklim, tetapi perannya bukan tanpa batas. Kemampuannya untuk membantu bumi sangat bergantung pada bagaimana manusia menjaga keseimbangan iklim hari ini. (Earth/Z-2)
Studi terbaru mengungkap suhu panas ekstrem kini membatasi aktivitas fisik manusia, terutama lansia. Simak wilayah yang paling terdampak dan risiko kesehatan yang mengintai.
Penelitian terbaru menunjukkan jamur patogen seperti Aspergillus berpotensi menyebar lebih luas akibat perubahan iklim dan resistensi obat, meningkatkan risiko infeksi pada manusia.
Ekspedisi CEFAS mengungkap rahasia laut dalam Karibia. Ditemukan gunung bawah laut, "blue hole" raksasa, hingga terumbu karang purba yang tak tersentuh perubahan iklim.
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Ilmuwan mengungkap penyebab zona gelap di lapisan es Greenland. Debu kaya fosfor memicu pertumbuhan alga yang mempercepat pencairan es akibat perubahan iklim.
Transformasi menuju praktik green mining semakin menjadi perhatian di sektor pertambangan Indonesia seiring meningkatnya tuntutan global terhadap dekarbonisasi.
Peneliti ETH Zurich temukan emisi gas rumah kaca dari danau hitam Kongo berasal dari gambut purba ribuan tahun.
Upaya mendorong sistem logistik rendah karbon dinilai menjadi langkah penting dalam mendukung komitmen iklim nasional, termasuk pencapaian target FOLU Net Sink 2030.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan rencana pembangunan PLTSa di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.
PT Medco Energi Internasional, melalui anak usahanya Medco E&P Grissik, memperkuat upaya pengurangan emisi melalui penerapan nitrogen gas blanketing.
Upaya efisiensi operasional di sektor pelayaran mulai menghasilkan dampak nyata bagi kinerja lingkungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved