Headline

Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.

2000 Spesies Serangga Tropis Terancam Punah Akibat Gagal Adaptasi Panas

Thalatie K Yani
06/3/2026 08:13
2000 Spesies Serangga Tropis Terancam Punah Akibat Gagal Adaptasi Panas
Sampel dari semua serangga yang dipelajari disiapkan di lapangan untuk pengkodean DNA. Metode ini menggunakan informasi genetik untuk mengidentifikasi hewan pada tingkat spesies.(Kim Lea Holzmann / Universitas Würzburg)

SEBUAH studi komprehensif terhadap lebih dari 2.000 spesies serangga mengungkap kenyataan pahit. Banyak serangga jauh lebih rentan terhadap kenaikan suhu daripada yang diperkirakan sebelumnya. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature ini menunjukkan serangga di dataran rendah tropis, wilayah dengan keanekaragaman hayati tertinggi, sangat kurang dalam fleksibilitas adaptasi suhu.

Kondisi ini memicu kekhawatiran besar bagi keseimbangan alam. Sebagai penyerbuk, pengurai, dan predator, kerentanan serangga diprediksi akan menimbulkan efek domino yang merusak seluruh ekosistem global.

Dilema Dataran Rendah dan Ketinggian

Riset yang didukung oleh Yayasan Penelitian Jerman ini menemukan perbedaan mencolok dalam cara serangga merespons panas. Dr. Kim Holzmann, peneliti dari Julius-Maximilians-Universität Würzburg (JMU), menjelaskan evaluasi saat ini terhadap toleransi panas serangga seperti ngengat, lalat, dan kumbang memberikan gambaran yang mengkhawatirkan.

"Meskipun spesies di ketinggian yang lebih tinggi dapat meningkatkan toleransi panas mereka, setidaknya dalam jangka pendek, banyak spesies dataran rendah sebagian besar tidak memiliki kemampuan ini," jelas Holzmann.

Artinya, serangga yang tinggal di hutan hujan panas tidak memiliki "ruang aman" untuk beradaptasi ketika suhu lingkungan terus merangkak naik.

Batasan Biologis yang Kaku

Mengapa serangga sulit beradaptasi? Para peneliti menemukan bahwa toleransi panas sangat terkait dengan struktur dan stabilitas termal protein dalam tubuh mereka. Sifat-sifat ini rupanya telah tertanam kuat dalam pohon evolusi keluarga serangga.

Dr. Marcell Peters, ekolog hewan dari Universitas Bremen, memaparkan bahwa karakteristik dasar toleransi panas ini berakar dalam secara biologis dan tidak dapat diadaptasi dengan cepat terhadap kondisi iklim baru.

"Kenaikan suhu dapat berdampak masif pada populasi serangga, terutama di wilayah dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Karena serangga menjalankan fungsi sentral dalam ekosistem sebagai penyerbuk, pengurai, dan predator, terdapat ancaman konsekuensi yang luas bagi seluruh ekosistem," tegas Peters.

Ancaman Nyata di Kawasan Amazon

Data lapangan yang dikumpulkan sepanjang 2022 dan 2023 di Afrika Timur dan Amerika Selatan menunjukkan proyeksi yang suram, terutama untuk wilayah Amazon.

"Jika ekosistem global terus memanas tanpa kendali, suhu di masa depan diperkirakan akan menyebabkan stres panas kritis bagi hingga separuh dari spesies serangga di sana," ujar Holzmann.

Mengingat serangga mencakup sekitar 70 persen dari seluruh spesies hewan yang dikenal manusia, kegagalan mereka dalam beradaptasi bukan sekadar masalah biologi kecil, melainkan ancaman nyata bagi fondasi kehidupan di bumi. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya