Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH studi komprehensif terhadap lebih dari 2.000 spesies serangga mengungkap kenyataan pahit. Banyak serangga jauh lebih rentan terhadap kenaikan suhu daripada yang diperkirakan sebelumnya. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature ini menunjukkan serangga di dataran rendah tropis, wilayah dengan keanekaragaman hayati tertinggi, sangat kurang dalam fleksibilitas adaptasi suhu.
Kondisi ini memicu kekhawatiran besar bagi keseimbangan alam. Sebagai penyerbuk, pengurai, dan predator, kerentanan serangga diprediksi akan menimbulkan efek domino yang merusak seluruh ekosistem global.
Riset yang didukung oleh Yayasan Penelitian Jerman ini menemukan perbedaan mencolok dalam cara serangga merespons panas. Dr. Kim Holzmann, peneliti dari Julius-Maximilians-Universität Würzburg (JMU), menjelaskan evaluasi saat ini terhadap toleransi panas serangga seperti ngengat, lalat, dan kumbang memberikan gambaran yang mengkhawatirkan.
"Meskipun spesies di ketinggian yang lebih tinggi dapat meningkatkan toleransi panas mereka, setidaknya dalam jangka pendek, banyak spesies dataran rendah sebagian besar tidak memiliki kemampuan ini," jelas Holzmann.
Artinya, serangga yang tinggal di hutan hujan panas tidak memiliki "ruang aman" untuk beradaptasi ketika suhu lingkungan terus merangkak naik.
Mengapa serangga sulit beradaptasi? Para peneliti menemukan bahwa toleransi panas sangat terkait dengan struktur dan stabilitas termal protein dalam tubuh mereka. Sifat-sifat ini rupanya telah tertanam kuat dalam pohon evolusi keluarga serangga.
Dr. Marcell Peters, ekolog hewan dari Universitas Bremen, memaparkan bahwa karakteristik dasar toleransi panas ini berakar dalam secara biologis dan tidak dapat diadaptasi dengan cepat terhadap kondisi iklim baru.
"Kenaikan suhu dapat berdampak masif pada populasi serangga, terutama di wilayah dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Karena serangga menjalankan fungsi sentral dalam ekosistem sebagai penyerbuk, pengurai, dan predator, terdapat ancaman konsekuensi yang luas bagi seluruh ekosistem," tegas Peters.
Data lapangan yang dikumpulkan sepanjang 2022 dan 2023 di Afrika Timur dan Amerika Selatan menunjukkan proyeksi yang suram, terutama untuk wilayah Amazon.
"Jika ekosistem global terus memanas tanpa kendali, suhu di masa depan diperkirakan akan menyebabkan stres panas kritis bagi hingga separuh dari spesies serangga di sana," ujar Holzmann.
Mengingat serangga mencakup sekitar 70 persen dari seluruh spesies hewan yang dikenal manusia, kegagalan mereka dalam beradaptasi bukan sekadar masalah biologi kecil, melainkan ancaman nyata bagi fondasi kehidupan di bumi. (Science Daily/Z-2)
PENCEMARAN pestisida di Sungai Cisadane dapat ditangani melalui restorasi ekosistem sungai lewat rehabilitasi zona riparian menurut peneliti BRIN
Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, insan pers, dan pelaku industri dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Wamen UMKM Helvi Moraza menegaskan pentingnya penguatan ekosistem usaha, konektivitas rantai pasok, serta digitalisasi layanan agar UMKM
CIFOR-ICRAF Indonesia bersama Kelompok Kerja Solutions for Integrated Land and Seascape Management in Indonesia (Pokja SOLUSI) Sulawesi Tengah menggelar konsultasi publik.
kemandirian daerah dapat dicapai melalui penguatan regulasi inovasi dan perluasan replikasi praktik-praktik yang terbukti efektif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved