Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
Koloni anak-anak Penguin Kaisar musnah tahun lalu karena pemanasan global mengikis rumah-rumah es mereka. Demikian temuan sebuah penelitian yang diterbitkan pada Kamis (25/4).
Studi yang dilakukan oleh British Antarctic Survey menemukan tingkat es laut yang sangat rendah pada tahun 2023 berkontribusi pada tahun terburuk kedua yang menyebabkan kematian anak penguin kaisar sejak pengamatan dimulai pada tahun 2018.
Studi itu juga menembukan fakta meskipun burung-burung tersebut berupaya untuk beradaptasi dengan lanskap yang semakin menyusut, mereka tidak berdaya.
Baca juga : Dunia Diingatkan untuk Mengantisipasi Dampak Perubahan Iklim
“Bencana ekologis ini terjadi setelah terjadinya bencana kegagalan pembiakan pada tahun 2022, yang menandakan dampak jangka panjang terhadap populasi tersebut,” kata penulis studi Peter Fretwell kepada AFP.
Penguin Kaisar berkembang biak di platform es laut, dan anak penguin menetas pada musim dingin antara akhir Juli dan pertengahan Agustus (lihat grafis).
Bayi penguin ini dipelihara oleh induknya hingga bulunya tahan air, biasanya pada bulan Desember menjelang musim panas mencair. Namun jika es mencair terlalu dini, anak-anak penguins tersebut berisiko tenggelam dan kedinginan.
Baca juga : Sah! Tahun 2023 Merupakan Tahun Terpanas Bumi
“Empat belas dari 66 koloni penguin, yang masing-masing dapat menghasilkan beberapa ratus hingga beberapa ribu anak penguin dalam setahun, terkena dampak hilangnya es laut pada awal tahun 2023,” kata penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Antarctic Science tersebut.
“Hasilnya adalah tingkat kematian yang tinggi atau bahkan total. Namun tahun 2023 tidak seburuk yang kami khawatirkan”, kata Fretwell. Rekor 19 koloni yang terkena dampak paling buruk terjadi tahun sebelumnya.
Solusi Sementara
Baca juga : Wapres Sebut Masalah Lingkungan Perlu Diselesaikan dengan Saksama
Studi ini juga menemukan bahwa beberapa koloni, terutama yang hancur pada tahun sebelumnya, telah berpindah untuk mencari kondisi yang lebih baik ke gunung es, lapisan es, atau tempat yang lebih stabil. es laut.
Meskipun langkah-langkah tersebut memberikan harapan bahwa burung-burung tersebut dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan, Fretwell memperingatkan bahwa hal tersebut hanyalah sebuah solusi sementara.
“Penguin mempunyai keterbatasan dalam jumlah adaptasi yang bisa mereka lakukan. Hanya ada sedikit tempat yang bisa mereka datangi,” ujarnya.
Sebaliknya, Fretwell mengatakan manusia perlu beradaptasi dengan mengurangi emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pencairan es untuk mengurangi ancaman utama yang dihadapi spesies ini.(AFP/M-3)
Ilmuwan temukan empat spesies baru "springtail" di Cagar Alam Yintiaoling, Tiongkok. Meski sekecil butiran beras, makhluk ini punya peran besar bagi kesehatan tanah.
Analisis global terhadap 31.000 spesies pohon mengungkap tren mengkhawatirkan: spesies pohon yang tumbuh lambat mulai punah, digantikan pohon cepat tumbuh yang rapuh.
Indonesia menegaskan komitmen dalam melindungi keanekaragaman hayati dunia melalui penguatan hutan adat, perlindungan satwa liar, dan pemberantasan kejahatan satwa.
Tak hanya penting untuk aktivitas warga kota, Tebet Eco Park juga menjadi habitat bagi para satwa. Di antaranya adalah burung, reptil, hingga amfibi.
Senyawa alami memiliki keragaman struktur kimia dan mekanisme aksi yang menjadikannya sumber utama dalam pengembangan agen preventif penyakit kronis.
"Kami melihat akar masalah sesungguhnya adalah perusakan ekosistem hulu sampai hilir dari daerah aliran sungai dan kelalaian tata ruang yang terjadi secara sistematik,”
Kehidupan masyarakat pesisir di Karimunjawa mengalami perubahan karena dampak dari perubahan iklim yang terus menerus.
PERWAKILAN Perempuan Nelayan Sumatra Utara, Jumiati, mengungkapkan perubahan iklim membuat cuaca sulit diprediksi. Itu berdampak pada banyaknya nelayan di kampungnya kesulitan melaut.
Studi terbaru mengungkap tanaman tropis mengalami pergeseran waktu berbunga hingga 80 hari. Fenomena ini mengancam rantai makanan dan kelangsungan hidup hewan.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti ETH Zurich temukan emisi gas rumah kaca dari danau hitam Kongo berasal dari gambut purba ribuan tahun.
Peneliti menemukan pola kadar garam (salinitas) di Pasifik Barat saat musim semi dapat memperkuat intensitas El Niño hingga 20%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved