Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
TAHUN 2023 mencatat gelombang panas laut (marine heatwaves/MHWs) terbesar, terlama, dan paling luas dalam sejarah pemantauan. Penelitian terbaru menunjukkan fenomena ini dipicu perubahan iklim dan bisa menjadi sinyal awal menuju titik balik iklim (climate tipping point).
MHWs adalah periode berkepanjangan di mana suhu laut meningkat jauh di atas normal. Dampaknya bisa merusak ekosistem laut, seperti menyebabkan pemutihan karang, kematian massal biota laut, hingga mengganggu perikanan dan budidaya laut.
“Gelombang panas laut kini menjadi salah satu ancaman paling serius bagi ekosistem laut di seluruh dunia,” kata Ryan Walter, ahli kelautan dari California Polytechnic State University.
Dalam studi yang dipublikasikan 24 Juli di jurnal Science, para ilmuwan menganalisis data satelit dan sirkulasi laut. Hasilnya, 96% lautan dunia terdampak MHWs pada 2023, dengan durasi empat kali lebih lama dari rata-rata historis.
Area paling parah mencakup Atlantik Utara, Pasifik Tropis, Pasifik Selatan, dan Pasifik Utara. Gelombang panas di Atlantik Utara berlangsung hingga 525 hari, sementara Pasifik Barat Daya mencatat rekor terluas.
Penyebab utamanya antara lain peningkatan radiasi matahari karena berkurangnya tutupan awan, melemahnya angin, dan perubahan arus laut.
Para peneliti menduga pola 2023 bisa menandai pergeseran mendasar dinamika laut yang mungkin menjadi tanda awal titik balik iklim. Di mana dampak perubahan iklim menjadi tak terbalikkan.
Namun, hal ini masih diperdebatkan. “Titik balik iklim sulit diprediksi karena banyak umpan balik antara laut dan atmosfer,” jelas Walter.
Selain perubahan iklim, El Niño besar pada 2023 juga berperan. Fenomena ini melepaskan panas dari lapisan laut dalam ke atmosfer, memperburuk gelombang panas.
Michael McPhaden, ilmuwan senior NOAA, mengakui 2023 adalah tahun luar biasa untuk MHWs, namun belum tentu titik balik iklim. “Tahun-tahun dengan El Niño besar memang cenderung mencatat suhu ekstrem,” katanya.
Terlepas dari perdebatan soal titik balik, gelombang panas laut ekstrem jelas menegaskan kerentanan ekosistem dan mata pencaharian manusia.
MHWs merusak hutan kelp, padang lamun, dan terumbu karang yang menopang keanekaragaman hayati laut. Dampak ekonomi pun besar, mulai dari kerugian perikanan hingga perubahan habitat spesies.
Contohnya, ular laut berbisa dari perairan tropis pernah muncul di perairan California akibat air yang lebih hangat.
Sayangnya, fenomena ini diperkirakan akan terus terjadi. “Apa yang kita lihat adalah konsekuensi langsung dari perubahan iklim. Suhu ekstrem di laut dan atmosfer akan makin sering muncul,” kata McPhaden. (Live Science/Z-2)
Studi terhadap 5 juta kelahiran di Afrika dan India mengungkap tren mengejutkan, paparan panas saat hamil menurunkan jumlah bayi laki-laki yang lahir.
Berbeda dengan aksi penanaman biasa, program ini mencakup pendampingan nursery (pembibitan) bagi masyarakat lokal.
Kehidupan masyarakat pesisir di Karimunjawa mengalami perubahan karena dampak dari perubahan iklim yang terus menerus.
PERWAKILAN Perempuan Nelayan Sumatra Utara, Jumiati, mengungkapkan perubahan iklim membuat cuaca sulit diprediksi. Itu berdampak pada banyaknya nelayan di kampungnya kesulitan melaut.
Studi terbaru mengungkap tanaman tropis mengalami pergeseran waktu berbunga hingga 80 hari. Fenomena ini mengancam rantai makanan dan kelangsungan hidup hewan.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved