Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
LAHAN gambut merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar, terutama jika tidak dikelola dengan baik. Periset Pusat Riset Hortikultura BRIN Fahminuddin Agus menyatakan, oleh karena itu, perhitungan emisi baik yang berasal dari dekomposisi tanah maupun kebakaran, perlu dilakukan secara akurat untuk mendukung inventarisasi nasional dan pencapaian target iklim seperti FOLU Net Sink 2030.
“Di samping itu juga pentingnya memisahkan respirasi heterotrofik dari total fluks CO₂ dalam pelaporan emisi. Hal ini agar data yang disajikan benar-benar mencerminkan kontribusi dari proses dekomposisi gambut,” jelas Fahmuddin dalam keterangan resmi, Selasa (5/8).
Salah satu temuan penting yang disampaikannya adalah hubungan yang kuat antara tinggi muka air tanah (groundwater level/GWL) dan emisi karbon. Berdasarkan kajian Deshmukh dan Hirano, perubahan GWL sebesar 1 cm dapat berdampak besar baik menurunkan maupun meningkatkan emisi hingga hampir 1 ton CO₂ per hektar per tahun.
“Simulasi menunjukkan bahwa peningkatan GWL sebesar 20 cm pada dua juta hektar lahan sawit gambut berpotensi menurunkan emisi hingga 26 juta ton CO₂ setiap tahun. Namun, efektivitas pengurangan emisi ini sangat bergantung pada desain dan kepadatan kanal,” terang dia.
Lebih lanjut, Fahmuddin menekankan pentingnya peralihan ke metodologi Tier 3 dalam pelaporan emisi gas rumah kaca. Dengan menggunakan faktor emisi berbasis data lokal termasuk kondisi tanah, kedalaman gambut, dan intervensi seperti canal blocking. Indonesia dapat menyusun laporan yang lebih akurat, kredibel, dan sesuai konteks,” bebernya.
Untuk itu, ia mendorong peningkatan jumlah publikasi ilmiah dari hasil riset dalam negeri agar faktor-faktor emisi nasional dapat diakui secara internasional melalui Emission Factor Database (EFDB) IPCC. Di samping itu juga memperkuat posisi Indonesia dalam forum perubahan iklim global.
Periset Pusat Riset Ekologi BRIN Luthfan M. Nugraha menekankan, restorasi ekosistem gambut bukan hanya soal pemulihan aspek biofisik, tetapi juga soal keberlanjutan masyarakat yang hidup di sekitarnya.
“Hasil temuan lapangan kami menunjukan bahwa kita tidak bisa bicara soal perubahan iklim atau degradasi ekosistem, tanpa menyentuh kehidupan dan keberlanjutan penghidupan masyarakatnya,” ungkap Luthfan.
Ia menilai, pendekatan restorasi yang hanya berfokus pada aspek biofisik saja, tanpa melibatkan komunitas lokal, berisiko menjadi proyek yang tidak berkelanjutan. Karena itu, melalui riset di Desa Malikian, Kalimantan Barat sebagai wilayah yang dikenal kritis dan rawan kebakaran, Luthfan dan tim mengusung pendekatan community-based restoration.
“Kami tidak datang membawa solusi instan. Justru kami ingin belajar dan merancang bersama masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, riset ini dimulai dari identifikasi komoditas yang adaptif terhadap lahan gambut, pendirian sekolah lapang, hingga penyusunan modul pertanian ramah lingkungan. Semua dilakukan bersama warga, termasuk pengembangan pupuk organik cair, kompos, dan probiotik yang disesuaikan dengan karakteristik gambut setempat.
“Keberhasilan restorasi gambut tidak bisa dilepaskan dari peningkatan taraf hidup masyarakat. Tujuan kami sederhana, yaitu membangun sistem sosial-ekologis yang tahan iklim dan berbasis kemandirian lokal. Kami percaya, tidak ada restorasi gambut yang benar-benar berhasil tanpa itu,” tegasnya. (H-3)
Peneliti ETH Zurich temukan emisi gas rumah kaca dari danau hitam Kongo berasal dari gambut purba ribuan tahun.
Upaya mendorong sistem logistik rendah karbon dinilai menjadi langkah penting dalam mendukung komitmen iklim nasional, termasuk pencapaian target FOLU Net Sink 2030.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan rencana pembangunan PLTSa di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.
PT Medco Energi Internasional, melalui anak usahanya Medco E&P Grissik, memperkuat upaya pengurangan emisi melalui penerapan nitrogen gas blanketing.
Upaya efisiensi operasional di sektor pelayaran mulai menghasilkan dampak nyata bagi kinerja lingkungan.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Hal itu karena serangan Iran ke sejumlah negara tetangganya merupakan respons atas operasi militer AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
PENELITI dari BRIN kembali menambah daftar kekayaan biodiversitas Indonesia dengan mengidentifikasi dua spesies ngengat baru yang berasal dari Papua dan Sulawesi.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus berupaya mempercepat hilirisasi riset melalui program BRIN Goes to Industry.
Sarah Nuraini Siregar dari BRIN menyoroti penggunaan istilah "oknum" untuk anggota polisi, menegaskan tindakan individu mencerminkan institusi.
BRIN menjelaskan lubang besar di Aceh Tengah bukan fenomena sinkhole, melainkan longsoran geologi akibat batuan tufa rapuh, hujan lebat, dan faktor gempa bumi.
WILAYAH pesisir Indonesia menghadapi tekanan yang semakin kompleks, mulai dari abrasi, banjir rob, kenaikan muka air laut, hingga keterbatasan ruang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved