Headline
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Kumpulan Berita DPR RI
AHLI Geologi Bumi - Paleoseismolog, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mudrik Rahmawan Daryono, mengatakan bahwa kejadian gempa bumi Poso yang terjadi pada 17 Agustus 2025 berada dekat di Sesar Tokararu dan masih banyak hal yang belum diketahui dari lokasi tersebut.
“Sesar Tokararu ini lebih banyak pengetahuan yang tidak diketahuinya dari pada yang telah diketahui,” ungkapnya kepada Media Indonesia, Senin (18/8).
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa sebuah Sesar dikatakan aktif harus diikuti oleh parameter sesar yang rinci dan jelas, yaitu meliputi jalur sesar aktifnya yang sangat bergantung dengan jenis data yang digunakan, resolusi data DEMNAS sekitar 7 meter tidak cukup, dan memerlukan dataset kelas LiDAR dengan resolusi sekitar 30 centimeter dan mampu menembus tutupan pohon.
Selain itu, Sesar aktif juga memiliki kecepatan geser yang diperoleh dari penelitian geodesi dan juga penelitian paleoseismologi rinci. Besaran gempa bumi maksimum yang diperoleh dari mengukur panjang Sesar aktif dan/atau mengetahui dari hasil paleoseismologi rinci.
“Diperlukan juga kejadian gempa bumi besar yang pernah terjadi di masa lampau yang diperoleh dari catatan sejarah gempa bumi dan/atau rekaman geologi dan periode ulang atau bahasa awamnya adalah ulang tahun gempa bumi,” ujar Mudrik.
Sesar Tokararu sendiri dikatakan merupakan sesar yang dipelajari dari dataset DENMAS resolusi 7 meter dan informasi yang dimiliki Indonesia saat ini hanya rekaman seismologi dari BMKG.
“Melihat panjangnya Sesar Tokararu dari dataset DEMNAS ini, Sesar ini masuk dalam kelas yang mampu menghasilkan gempa bumi magnitudo 7. Gempa bumi yang barusan terjadi masih jauh di bawah perkiraan maksimal kekuatan yang dapat dihasilkan oleh Sesar Tokararu ini,” tuturnya.
Mudrik menegaskan bahwa bisa jadi ini adalah gempa bumi cabang dari sesar utama Sesar Tokararu yang belum terpetakan. Bisa jadi pula ini adalah bagian dari segmen dari Sesar Tokararu yang belum terpetakan.
“Bisa jadi ini gempa bumi satu selesai, tidak akan ada susulan yang lebih besar lagi atau bukan gempa bumi pembuka/foreshock. Hemat katanya sebagai peneliti, saya tidak tahu. Untuk menjawabnya diperlukan penelitian yang lebih lanjut,” tegas Mudrik.
Oleh sebab itu, menurutnya kewaspadaan adalah upaya yang paling baik. Mitigasi dan pengurangan dampak buruk adalah ilmu yang penting untuk dipahami dan dilaksanakan masyarakat sekitar Poso dan Sulawesi.
Di tengah kemajuan teknologi, satu pertanyaan besar masih menghantui para ilmuwan, kapan dan di mana gempa besar berikutnya akan mengguncang?
Gempa dangkal M 4,9 guncang Konawe Kepulauan, Sultra, Kamis (26/3). Getaran terasa kuat hingga Kendari dan Konsel dipicu aktivitas Sesar Naik Tolo.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) gempa Sumba tersebut terjadi pada pukul 18.41 WIB.
DUA bangunan rumah warga di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dilaporkan rusak terdampak gempa 4,2 magnitudo, Minggu (15/3). Kedua bangunan itu berada di dua lokasi berbeda.
BMKG melaporkan gempa bumi tektonik di Laut Selatan Sukabumi, Jawa Barat hari ini 13 Maret 2026 dini hari pukul 02.18 WIB. berdasarkan BMKG gempa terkini itu tak berpotensi tsunami
Gempa bumi 5,4 magnitudo yang terjadi berpusat di Kota Sukabumi kedalaman 43 kilometer tidak berpotensi tsunami.
Minggu 17 Agustus 2025 pukul 05.38.52 WIB wilayah Poso dan sekitarnya, Sulawesi Tengah diguncang gempa tektonik.
GEMPA bumi berkekuatan magnitudo 6,0 mengguncang wilayah Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, pada Minggu (17/8), telah menyebabkan 32 orang yang mengalami luka-luka di Kabupaten Poso
Poso, Provinsi Sulawesi Tengah diguncang gempa bumi, Kamis (24/7). Gempa bumi itu merupakan gempa dangkal dan tidak berpotensi tsunami
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved