Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKITAR 700 juta tahun lalu, Bumi diperkirakan pernah sepenuhnya membeku dalam peristiwa yang dikenal sebagai “Snowball Earth". Saat itu hampir tak ada lautan atau danau yang tetap cair, bahkan di wilayah tropis. Lalu, apa yang memicu perubahan iklim ekstrem ini?
Sebuah studi baru mengungkap kombinasi iklim yang sudah dingin dan letusan gunung api raksasa menjadi pemicunya.
Sekitar 720 juta tahun lalu, letusan vulkanik yang dikenal sebagai Letusan Franklin melepaskan hamparan batuan baru yang membentang dari wilayah yang kini menjadi Alaska, Kanada utara, hingga Greenland. Letusan besar serupa pernah terjadi di masa lain, namun kali ini waktunya bertepatan dengan kondisi iklim yang sudah dingin.
Selain itu, pada masa tersebut tanaman darat belum berevolusi, sehingga proses pelapukan batuan terjadi sangat cepat.
Pelapukan kimia pada batuan segar dapat menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Dengan menggunakan model iklim, para peneliti menunjukkan bahwa erosi cepat di area seluas itu mampu menurunkan kadar karbon dioksida secara drastis, hingga akhirnya memicu Bumi masuk ke fase “bola salju”.
Temuan yang dipublikasikan di Journal of Geophysical Research: Planets ini juga menjelaskan mengapa letusan seukuran Franklin di masa lain tidak memicu Snowball Earth. Perbedaannya, kala itu iklim Bumi lebih hangat atau vegetasi sudah berkembang, sehingga pelapukan berlangsung lebih lambat dan efek pendinginan tidak sekuat yang terjadi 700 juta tahun lalu. (The Guardian/Z-2)
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
Analisis global terhadap 31.000 spesies pohon mengungkap tren mengkhawatirkan: spesies pohon yang tumbuh lambat mulai punah, digantikan pohon cepat tumbuh yang rapuh.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Meski perubahan iklim mengancam es laut, beruang kutub di Svalbard justru ditemukan lebih sehat dan gemuk. Apa rahasianya?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved