Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
NEGARA-negara kaya dan miskin harus berinvestasi sekarang untuk melindungi dari dampak perubahan iklim atau membayar lebih mahal lagi nanti. Demikian peringatan yang disampaikan komisi global dalam paparannya di Beijing, Tiongkok, Selasa (10/9).
Menurut laporan komisi yang dibentuk antara lain oleh pendiri Microsoft Bill Gates dan CEO Bank Dunia Kristalina Georgieva itu, dana US$1,8 triliun untuk lima bidang utama selama dekade berikutnya tidak hanya akan membantu menyangga dampak terburuk dari pemanasan global tetapi juga dapat menghasilkan lebih dari US$7 triliun.
"Kami adalah generasi terakhir yang dapat mengubah arah perubahan iklim, dan kami adalah generasi pertama yang kemudian harus hidup dengan konsekuensinya," kata mantan Ketua PBB Ban Ki-moon, yang memimpin komisi itu.
"Tunda dan bayar, atau rencanakan dan makmur," katanya, berbagi slogannya dari komisi yang diketuai bersama oleh Bill Gates dan CEO Bank Dunia Kristalina Georgieva.
Komisi global untuk adaptasi itu menyatakan, berinvestasi sekarang dalam sistem peringatan dini, infrastruktur tahan iklim, perlindungan mangrove, pertanian yang ramah lingkungan, dan peningkatan sumber daya air tawar, dapat mendatangkan manfaat berlipat.
Hutan bakau atau mangrove, misalnya, akan melindungi dari gelombang badai dan bertindak sebagai pembibitan untuk perikanan komersial.
"Tindakan global untuk memperlambat perubahan iklim mejang menjanjikan, tetapi tidak cukup. Kita harus berinvestasi dalam upaya besar-besaran untuk beradaptasi dengan kondisi yang kini tak terhindarkan," kata laporan itu.
"Tanpa tindakan nyata tersebut, pada 2030 perubahan iklim dapat mendorong lebih dari 100 juta orang di negara-negara berkembang di bawah garis kemiskinan," kata laporan itu lagi.
Menteri lingkungan hidup Tiongkok Li Ganjie - yang negaranya adalah pencemar karbon top dunia - menyebut praktik adaptasi terhadap perubahan iklim telah menjadi persyaratan inheren dalam pembangunan berkelanjutan di negaranya.
Dalam 25 tahun sejarah negosiasi iklim PBB, upaya adaptasi telah jauh tertinggal dari agenda dibandingkan dengan mitigasi atau pengurangan emisi karbon. Itu sudah lama dilihat sebagai masalah yang hanya memengaruhi negara miskin dan berkembang.
Tapi banjir besar baru-baru ini dan serangkaian badai besar di Amerika Serikat, serta gelombang panas yang ganas di Eropa dan Jepang, telah menunjukkan bahwa kekayaan bukanlah perisai yang memadai.
Dominic Molloy, salah seorang penulis laporan itu dari Departemen Pembangunan Internasional Inggris mengatakan fokus baru pada tindakan adaptasi tidak boleh mengurangi kebutuhan untuk mengurangi polusi karbon.
"Kami benar-benar perlu melakukan keduanya, mengurangi emisi dan beradaptasi," kata Molloy kepada AFP. "Tujuan dari komisi ini adalah untuk meningkatkan visibilitas adaptasi, tidak bergeser dari mitigasi."( AFP/A-2)
Industri minyak dan gas (migas) global kini berada di bawah mikroskop regulasi lingkungan yang semakin ketat, terutama terkait emisi gas rumah kaca.
Studi terbaru mengungkap bagaimana pemanasan global di zaman Paleogen mengubah pola hujan menjadi tidak menentu. Apakah ini gambaran masa depan Bumi?
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Panas ekstrem juga bisa merusak sistem aliran air di dalam pohon. Udara dapat masuk ke saluran air tanaman, sehingga aliran air terhambat.
Riset terbaru mengungkap ekspansi titik panas laut dalam memicu munculnya badai monster di atas Kategori 5. Ilmuwan usulkan klasifikasi baru "Kategori 6".
Para ilmuwan menilai tingkat kecerahan Bumi melalui pengukuran albedo, yakni kemampuan planet memantulkan sinar Matahari kembali ke luar angkasa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved