Headline
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Kumpulan Berita DPR RI
KADAR garam di Samudra Hindia bagian selatan, tepatnya di lepas pantai barat Australia, dilaporkan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Fenomena "penawaran" air laut ini terjadi dengan kecepatan yang mengejutkan para peneliti dan diyakini bukan sekadar anomali lokal biasa.
Sebuah studi terbaru yang dipimpin para ilmuwan dari University of Colorado Boulder berpendapat fenomena ini merupakan bagian dari pergeseran skala besar akibat perubahan iklim. Pemanasan global dinilai telah mengubah pola angin dan arus laut selama beberapa dekade terakhir, yang berujung pada berubahnya cara air tawar bergerak di samudra planet ini.
Kadar garam atau salinitas adalah ukuran jumlah garam yang terlarut dalam air laut. Secara rata-rata, air laut memiliki salinitas sekitar 3,5%. Namun, distribusi garam ini tidak merata di seluruh dunia. Terdapat zona tropis luas yang membentang dari Samudra Hindia bagian timur hingga Pasifik bagian barat yang dikenal sebagai "kolam air tawar Indo-Pasifik". Di wilayah ini, air permukaan secara alami lebih tawar karena curah hujan yang tinggi dan tingkat penguapan yang rendah.
"Kami melihat pergeseran skala besar tentang bagaimana air tawar bergerak melalui samudra," ujar Weiqing Han, profesor di Departemen Ilmu Atmosfer dan Kelautan, CU Boulder. "Hal ini terjadi di wilayah yang memainkan peran kunci dalam sirkulasi samudra global."
Penurunan kadar garam ini memicu kekhawatiran besar karena salinitas adalah penggerak utama sistem sirkulasi laut global yang dikenal sebagai sirkulasi termohalin. Sistem ini bertindak seperti sabuk konveyor raksasa yang mentransportasikan panas, garam, dan air tawar ke seluruh dunia.
Dalam sistem ini, air permukaan yang hangat dan lebih tawar dari Indo-Pasifik mengalir menuju Samudra Atlantik, yang berperan menjaga iklim tetap sejuk di wilayah Eropa Barat. Di Atlantik Utara, air tersebut mendingin, menjadi lebih asin dan lebih padat, sehingga akhirnya tenggelam ke dasar samudra sebelum mengalir kembali ke selatan menuju Samudra Hindia dan Pasifik.
Para peneliti memperingatkan perubahan salinitas di wilayah Samudra Hindia bagian selatan dapat menciptakan efek domino. Gangguan pada sistem sirkulasi ini tidak hanya memengaruhi interaksi antara laut dan atmosfer, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekosistem laut dan pola iklim global yang selama ini kita kenal. (Earth/Z-2)
Peneliti menemukan pola kadar garam (salinitas) di Pasifik Barat saat musim semi dapat memperkuat intensitas El Niño hingga 20%.
Studi terbaru mengungkap sejak 2015, Antartika telah kehilangan es laut seluas Greenland dan mengalami peningkatan kadar garam di laut permukaan.
Studi terbaru mengungkap suhu panas ekstrem kini membatasi aktivitas fisik manusia, terutama lansia. Simak wilayah yang paling terdampak dan risiko kesehatan yang mengintai.
Penelitian terbaru menunjukkan jamur patogen seperti Aspergillus berpotensi menyebar lebih luas akibat perubahan iklim dan resistensi obat, meningkatkan risiko infeksi pada manusia.
Ekspedisi CEFAS mengungkap rahasia laut dalam Karibia. Ditemukan gunung bawah laut, "blue hole" raksasa, hingga terumbu karang purba yang tak tersentuh perubahan iklim.
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Ilmuwan mengungkap penyebab zona gelap di lapisan es Greenland. Debu kaya fosfor memicu pertumbuhan alga yang mempercepat pencairan es akibat perubahan iklim.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved