Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Kadar Garam Samudra Hindia Menurun Drastis, Sinyal Bahaya Perubahan Iklim?

Thalatie K Yani
13/2/2026 13:43
Kadar Garam Samudra Hindia Menurun Drastis, Sinyal Bahaya Perubahan Iklim?
Ilustrasi(freepik)

KADAR garam di Samudra Hindia bagian selatan, tepatnya di lepas pantai barat Australia, dilaporkan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Fenomena "penawaran" air laut ini terjadi dengan kecepatan yang mengejutkan para peneliti dan diyakini bukan sekadar anomali lokal biasa.

Sebuah studi terbaru yang dipimpin para ilmuwan dari University of Colorado Boulder berpendapat fenomena ini merupakan bagian dari pergeseran skala besar akibat perubahan iklim. Pemanasan global dinilai telah mengubah pola angin dan arus laut selama beberapa dekade terakhir, yang berujung pada berubahnya cara air tawar bergerak di samudra planet ini.

Pergeseran "Kolam" Air Tawar

Kadar garam atau salinitas adalah ukuran jumlah garam yang terlarut dalam air laut. Secara rata-rata, air laut memiliki salinitas sekitar 3,5%. Namun, distribusi garam ini tidak merata di seluruh dunia. Terdapat zona tropis luas yang membentang dari Samudra Hindia bagian timur hingga Pasifik bagian barat yang dikenal sebagai "kolam air tawar Indo-Pasifik". Di wilayah ini, air permukaan secara alami lebih tawar karena curah hujan yang tinggi dan tingkat penguapan yang rendah.

"Kami melihat pergeseran skala besar tentang bagaimana air tawar bergerak melalui samudra," ujar Weiqing Han, profesor di Departemen Ilmu Atmosfer dan Kelautan, CU Boulder. "Hal ini terjadi di wilayah yang memainkan peran kunci dalam sirkulasi samudra global."

Ancaman terhadap "Sabuk Konveyor" Global

Penurunan kadar garam ini memicu kekhawatiran besar karena salinitas adalah penggerak utama sistem sirkulasi laut global yang dikenal sebagai sirkulasi termohalin. Sistem ini bertindak seperti sabuk konveyor raksasa yang mentransportasikan panas, garam, dan air tawar ke seluruh dunia.

Dalam sistem ini, air permukaan yang hangat dan lebih tawar dari Indo-Pasifik mengalir menuju Samudra Atlantik, yang berperan menjaga iklim tetap sejuk di wilayah Eropa Barat. Di Atlantik Utara, air tersebut mendingin, menjadi lebih asin dan lebih padat, sehingga akhirnya tenggelam ke dasar samudra sebelum mengalir kembali ke selatan menuju Samudra Hindia dan Pasifik.

Para peneliti memperingatkan perubahan salinitas di wilayah Samudra Hindia bagian selatan dapat menciptakan efek domino. Gangguan pada sistem sirkulasi ini tidak hanya memengaruhi interaksi antara laut dan atmosfer, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekosistem laut dan pola iklim global yang selama ini kita kenal. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya