Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGAI bagian dari rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-70, Centre for Sustainable Energy and Resources Management-Universitas Nasional (Unas), menjadi tuan rumah dampak perubahan iklim atau climate change terhadap ekosistem dan jasa lingkungan serta mitigasinya.
Simposium internasional pertama dalam seri Dies Natalis ke-70 Unas tersebut akan diselenggarakan di Grand Ballroom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, pada Kamis (9/1). Topik perdana pada simposium ini adalah konservasi primata Indonesia dan perubahan iklim.
Unas akan menghadirkan pembicara nasional dan internasional dengan keahlian yang mereka miliki seperti perubahan iklim, ekologi primata dan konservasi. Simposium yang digelar Unas terselenggara atas dukungan PT. North Sumatera Hydro Energy.
Mitigasi pemanasan global
Prof. Dr. Jatna Supriatna selaku Direktur Research Center for Climate Change (RCCC) dari Universitas Indonesia mengatakan, “Indonesia saat ini adalah penghasil emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar keempat di dunia.
Menurut Prof Jatna, penggerak utama emisi adalah efek gabungan dari pertanian, kehutanan dan penggunaan lahan lainnya (44%) dan pembangkit energi (37%).
Prof. Dr. Gusti Zakaria Anshari selaku peneliti di Universitas Tanjung Pura mengatakan,"Selain pengeringan rawa dan hutan gambut Indonesia yang luas sebagai akibat perubahan penggunaan lahan telah menghasilkan peningkatan emisi GRK.”
Jika tidak dimonitor perubahan iklim dan faktor-faktor penggeraknya, Prof Gusti mengatakan bahwa hal itu menghasilkan risiko signifikan bagi ekosistem hutan tropis yang mendukung primata Indonesia dan jasa lingkungan yang vital lainnya.
Simposium diselenggarakaqn untuk mengatasi perubahan iklim serta mengurangi beban ekonomi dari impor bahan bakar fosil, berdasarkan komitmen iklim Indonesia.
Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia berencana untuk mengurangi emisi GRK sebesar 29-41% pada tahun 2030. Upaya yang dilakukan untuk menekan GRL dengan penggunaan alternatif energi rendah karbon seperti pembangkit listrik tenaga air (hidro) dan panas bumi, menjaga kelestarian hutan.
Simposium juga digelar untuk memberikan pemahaman yang lebih holistik tentang interaksi potensial dari perubahan iklim dan ekologi primata di Indonesia.
Dr. Sugardjito, Direktur Pusat Studi Energi Berkelanjutan dan Manajemen Sumber Daya (CSERM) Unas juga menambahkan bahwa topik pembahasan simposium mengupas prediksi perubahan iklim; dampak potensial proses biofisik penting; dampak potensial terhadap fisiologi dan perilaku primata serta soal penggunaan lahan. (OL-09)
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti Cornell University merilis peta global yang mengungkap 70% emisi lahan pertanian berasal dari sawah padi dan pengeringan lahan gambut.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi cincin pohon pinus di Spanyol mengungkap anomali cuaca paling ekstrem sejak 1500-an. Ketidakstabilan curah hujan kini mencapai titik kritis.
Analisis mendalam Avatar: Fire and Ash sebagai metafora krisis iklim. Menghubungkan 'Bangsa Abu' dengan data kebakaran hutan global 2025-2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved