Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Sawah Padi dan Lahan Gambut Menjadi Penyumbang Emisi Terbesar

Thalatie K Yani
19/2/2026 14:00
Sawah Padi dan Lahan Gambut Menjadi Penyumbang Emisi Terbesar
Ilustrasi(freepik)

SELAMA ini, sektor pertanian jarang dipandang sebagai penyumbang polusi iklim utama dibandingkan industri atau transportasi. Namun, sebuah peta global terbaru mengungkapkan fakta mengejutkan. Sebagian kecil lahan pertanian ternyata bertanggung jawab atas mayoritas polusi iklim di sektor agrikultur.

Peneliti dari Cornell University menemukan tahun 2020, sekitar 70% emisi lahan pertanian berasal dari dua sumber utama, sawah padi yang tergenang dan lahan gambut yang dikeringkan. Melalui teknologi satelit dan pemodelan data, peta ini mampu memperkecil fokus hingga ke petak lahan selebar 6 mil untuk mengidentifikasi polusi dari tanaman tertentu.

Dua Kontributor Terbesar

Emisi lahan pertanian global mencapai 2,5 miliar ton setara karbon dioksida pada tahun 2020. Hampir separuh dari total tersebut berasal dari kawasan Asia Timur dan Pasifik. Padi menyumbang 43% dari total emisi lahan pertanian dunia.

Sawah padi menjadi "hotspot" karena kondisi tanah yang tergenang dalam waktu lama menciptakan lingkungan tanpa oksigen. Dalam kondisi ini, mikroba melepaskan metana, gas rumah kaca yang sangat kuat.

"Semuanya tentang padi. Di sanalah sumber terbesar dan peluang terbesar berada," ujar penulis utama studi, Mario Herrero, profesor sistem pangan berkelanjutan di Cornell University.

Selain padi, pengeringan lahan gambut juga menjadi masalah serius. Lahan gambut yang dikaya karbon akan melepaskan simpanannya ke atmosfer saat dikeringkan untuk keperluan tanam.

"Saya juga terkejut dengan pentingnya area lahan gambut, yang jauh lebih besar dari perkiraan," tambah Herrero.

Dilema Antara Iklim dan Ketahanan Pangan

Masalah utamanya adalah wilayah dengan emisi tertinggi sering kali merupakan lumbung pangan dunia. Oleh karena itu, kebijakan yang diambil tidak boleh mengancam pasokan pangan bagi miliaran orang.

Di zona intensitas tinggi, penggunaan pupuk sintetis yang berlebihan juga memicu emisi dinitrogen oksida, gas rumah kaca lain yang sangat berbahaya. Peneliti menyarankan penggunaan pupuk yang lebih presisi dan dosis yang lebih kecil sebagai solusi.

Peluang Mitigasi yang Terukur

Dengan peta sub-nasional ini, pemerintah kini dapat menentukan prioritas penggunaan dana mitigasi yang terbatas. Langkah-langkah seperti membasahi kembali (rewetting) lahan gambut atau menyesuaikan siklus air di sawah padi dapat dilakukan secara tepat sasaran.

"Yang belum pernah terjadi sebelumnya di sini adalah peta-peta ini menyediakan analisis sub-nasional yang krusial tentang di mana Anda memiliki peluang mitigasi. Ini penting karena dana mitigasi langka, dan kita perlu memprioritaskannya," tegas Herrero.

Keberhasilan langkah ini sangat bergantung pada kepercayaan petani, karena mereka adalah pihak pertama yang menanggung risiko saat praktik bertani berubah. Tantangan berikutnya bagi pemerintah dan perusahaan adalah berinvestasi pada sistem padi dan pengelolaan gambut tanpa mencekik pasokan pangan dunia. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya