Headline
Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.
Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, sektor pertanian jarang dipandang sebagai penyumbang polusi iklim utama dibandingkan industri atau transportasi. Namun, sebuah peta global terbaru mengungkapkan fakta mengejutkan. Sebagian kecil lahan pertanian ternyata bertanggung jawab atas mayoritas polusi iklim di sektor agrikultur.
Peneliti dari Cornell University menemukan tahun 2020, sekitar 70% emisi lahan pertanian berasal dari dua sumber utama, sawah padi yang tergenang dan lahan gambut yang dikeringkan. Melalui teknologi satelit dan pemodelan data, peta ini mampu memperkecil fokus hingga ke petak lahan selebar 6 mil untuk mengidentifikasi polusi dari tanaman tertentu.
Emisi lahan pertanian global mencapai 2,5 miliar ton setara karbon dioksida pada tahun 2020. Hampir separuh dari total tersebut berasal dari kawasan Asia Timur dan Pasifik. Padi menyumbang 43% dari total emisi lahan pertanian dunia.
Sawah padi menjadi "hotspot" karena kondisi tanah yang tergenang dalam waktu lama menciptakan lingkungan tanpa oksigen. Dalam kondisi ini, mikroba melepaskan metana, gas rumah kaca yang sangat kuat.
"Semuanya tentang padi. Di sanalah sumber terbesar dan peluang terbesar berada," ujar penulis utama studi, Mario Herrero, profesor sistem pangan berkelanjutan di Cornell University.
Selain padi, pengeringan lahan gambut juga menjadi masalah serius. Lahan gambut yang dikaya karbon akan melepaskan simpanannya ke atmosfer saat dikeringkan untuk keperluan tanam.
"Saya juga terkejut dengan pentingnya area lahan gambut, yang jauh lebih besar dari perkiraan," tambah Herrero.
Masalah utamanya adalah wilayah dengan emisi tertinggi sering kali merupakan lumbung pangan dunia. Oleh karena itu, kebijakan yang diambil tidak boleh mengancam pasokan pangan bagi miliaran orang.
Di zona intensitas tinggi, penggunaan pupuk sintetis yang berlebihan juga memicu emisi dinitrogen oksida, gas rumah kaca lain yang sangat berbahaya. Peneliti menyarankan penggunaan pupuk yang lebih presisi dan dosis yang lebih kecil sebagai solusi.
Dengan peta sub-nasional ini, pemerintah kini dapat menentukan prioritas penggunaan dana mitigasi yang terbatas. Langkah-langkah seperti membasahi kembali (rewetting) lahan gambut atau menyesuaikan siklus air di sawah padi dapat dilakukan secara tepat sasaran.
"Yang belum pernah terjadi sebelumnya di sini adalah peta-peta ini menyediakan analisis sub-nasional yang krusial tentang di mana Anda memiliki peluang mitigasi. Ini penting karena dana mitigasi langka, dan kita perlu memprioritaskannya," tegas Herrero.
Keberhasilan langkah ini sangat bergantung pada kepercayaan petani, karena mereka adalah pihak pertama yang menanggung risiko saat praktik bertani berubah. Tantangan berikutnya bagi pemerintah dan perusahaan adalah berinvestasi pada sistem padi dan pengelolaan gambut tanpa mencekik pasokan pangan dunia. (Earth/Z-2)
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved