Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DI sudut perpustakaan kantor yang sunyi saya membaca berita ini: Venice atau Venesia, salah satu kota eksotis di Italia, terendam banjir. Kejadiannya sih berlangsung pekan lalu dan mungkin kini telah surut.
Namun ada sejumlah persoalan yang mengendap di kepala saya dari berita tersebut. Konon, katanya (kata beberapa media yang layak dipercaya tentunya, salah satunya AFP), itulah banjir terbesar dalam setengah abad terakhir yang melanda kota itu. Ketinggian air hampir mencapai 2 meter. Barangkali mirip seperti di Jakarta ketika dilanda banjir besar pada 2002 yang memaksa saya tidur di kantor lantaran sejumlah wilayah tergenang dan akses transportasi terputus.
Seperti pejabat di Tanah Air, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte kabarnya juga ikut berbasah-basah meninjau lokasi yang dilanda "acqua alta" alias air pasang di Venice, tersebut. Beberapa pemain timnas Italia juga ikutan nyemplung berkunjung, termasuk dua legenda azzuri, Roberto Mancini dan Gianluca Vialli. Venice, kata Vialli yang pernah jadi bintang dan melatih di Chelsea, ibarat pemain yang tengah cedera dan mesti segera pulih.
Conte, sang perdana menteri bahkan menyebut musibah itu sebagai pukulan langsung ke jantung negaranya. Pemerintah Italia, kata dia, siap mengganti ongkos rumah yang rusak terdampak banjir hingga 5.000 Euro atau sekitar Rp77,5 juta. Sementara pelaku usaha, yang memiliki toko ataupun restoran, dapat mengklaim ganti rugi hingga 20 ribu Euro atau sekitar Rp310 juta sebagai kompensasi.
Namun, persoalannya bukan sekadar ganti rugi atau uang kerohiman. Tidak sesederhana itu. Pemerintah setempat melihat ada hal yang jauh lebih krusial, yakni dampak perubahan iklim yang diduga menjadi salah satu penyebab kota itu nyaris tenggelam.
Melalui akun twitter-nya, Wali Kota Venesia, Luigi Brugnaro menyebut musibah ini sebagai dampak perubahan iklim. Ongkosnya, kata dia, akan jauh lebih mahal. "Masa depan kota ini terancam. Kami tidak mau hidup seperti ini lagi," cicitnya.
Venesia, kota kanal romantis yang bergantung pada kunjungan wisatawan, memang jadi porak-poranda akibat banjir. Sejumlah sekolah, toko, dan museum, tutup. Begitu juga dengan tempat-tempat wisata lainnya. Gaby Brueckner, pelancong asal Jerman mengaku khawatir dampak perubahan iklim bakal membuat Venice makin amblas. Meski gagal mengunjungi spot-spot eksotis, turis seperti Gaby mungkin masih bisa nyengir. Setidaknya dia masih bisa berswafoto meski dengan latar belakang air pasang. Yang manyun tentu warga, terutama para pengelola restoran dan toko souvenir. Rezeki mereka ambyar.
"Inilah yang akan makin sering terjadi di kawasan mediterania. Pemanasan global akan menghancurkan planet kita jika tidak segera ada tindakan nyata," kata Menteri Lingkungan Hidup Italia, Sergio Costa dalam akun Facebook-nya.
Pemerintah setempat bukannya tinggal diam. Sebuah proyek infrastruktur masif yang diberi nama MOSE telah dirancang sejak 2003. Namun, proyek pembangunan tanggul untuk melindungi kota tersebut dari banjir, tak kunjung rampung. Para insinyur bahkan menemukan sejumlah kejanggalan, beberapa bagian besinya banyak yang berkarat.
Ah, saya lantas jadi teringkat proyek Giant Sea Wall alias tanggul raksasa yang diproyeksikan untuk melindungi wilayah pesisir di utara Jakarta. Apa kabarnya ya? Semoga saja pembangunannya terus dikebut dan segera rampung. Kita semua tentu tak ingin Batavia alias Jakarta yang tanahnya tiap tahun amblas sekitar 7,5 cm ini, bernasib sama seperti Venesia. (X-12)
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi cincin pohon pinus di Spanyol mengungkap anomali cuaca paling ekstrem sejak 1500-an. Ketidakstabilan curah hujan kini mencapai titik kritis.
Analisis mendalam Avatar: Fire and Ash sebagai metafora krisis iklim. Menghubungkan 'Bangsa Abu' dengan data kebakaran hutan global 2025-2026.
Cuaca 2026 semakin tak menentu. Simak panduan medis menjaga imunitas tubuh, mencegah penyakit pancaroba, dan tips menghadapi gelombang panas (heatwave).
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
SEBANYAK 112 rumah di Desa Bakalan, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tergenang luapan Kali Kedunggigil, Rabu (11/2).
Pompa air bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai dipasang di sejumlah titik banjir di Kabupaten dan Kota Pekalongan yang hingga kini masih terendam dengan ketinggian air 30-120 cm.
HUJAN dengan intensitas tinggi yang terjadi sejak Senin (9/2) siang menyebabkan sebuah tanggul aliran Sungai Citalahab jebol dan meluapnya Sungai Ciseel.
Sebanyak 20 sumur bor berteknologi RO dibangun di wilayah terdampak banjir Aceh untuk menyediakan air bersih dan mendukung pemulihan warga.
Gerakan Jaga Jakarta Bersih libatkan 171 ribu warga bersama Pramono Anung dan Jusuf Kalla. Aksi rutin ini untuk cegah banjir dan kota nyaman.
Analisa cuaca harian menjadi pijakan utama dalam pengambilan keputusan strategis.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved