Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKITAR 252 juta tahun yang lalu, Bumi mengalami bencana terbesar dalam sejarah kehidupan: peristiwa kepunahan massal yang dikenal sebagai “Great Dying”, yang memusnahkan sekitar 90% spesies di planet ini. Namun, yang masih menjadi misteri selama ini adalah mengapa Bumi menjadi sangat panas setelahnya.
Kini, tim peneliti internasional menemukan jawaban mengejutkan: runtuhnya hutan tropis adalah penyebab utama. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications, Rabu (3/7), dan memberikan gambaran yang mengerikan tentang dampak jangka panjang pemanasan global, terutama jika hutan hujan tropis masa kini ikut lenyap akibat ulah manusia.
Selama ini, peristiwa Great Dying dikaitkan dengan letusan dahsyat di wilayah Siberian Traps yang melepaskan gas rumah kaca dalam jumlah besar. Letusan tersebut memicu pemanasan global ekstrem, yang menyebabkan ekosistem darat dan laut runtuh serta lautan menjadi asam.
Namun, yang belum bisa dijelaskan selama puluhan tahun adalah mengapa suhu tetap panas dalam jangka waktu begitu lama. Bahkan setelah aktivitas vulkanik berhenti.
Menurut Zhen Xu, peneliti dari University of Leeds, tingkat pemanasan saat itu jauh melampaui peristiwa lain dalam sejarah Bumi. Bersama timnya, ia meneliti data fosil yang dikumpulkan selama puluhan tahun oleh para geolog China, dan memetakan keberadaan tumbuhan sebelum, selama, dan sesudah peristiwa kepunahan.
Hasil analisis mereka menunjukkan bahwa lenyapnya hutan tropis menyebabkan Bumi kehilangan salah satu mekanisme alami terpenting untuk menyerap karbon dioksida. Dengan tidak adanya pepohonan dan tumbuhan, karbon tetap bertahan di atmosfer dan membuat suhu terus meningkat.
Selain menyerap karbon, hutan juga mendukung proses pelapukan silikat — reaksi kimia antara batuan dan air hujan yang membantu mengurangi karbon di atmosfer. Akar pohon mempercepat proses ini. Namun, saat hutan mati, seluruh sistem karbon Bumi terganggu.
Profesor Michael Benton, pakar paleontologi dari University of Bristol yang tidak terlibat dalam studi ini, menyebut temuan ini sebagai bukti bahwa hilangnya hutan dapat menyebabkan peningkatan CO2 yang tak terkendali dalam jangka panjang.
Menurut para peneliti, studi ini memberikan peringatan keras: jika pemanasan global yang disebabkan manusia terus berlanjut dan menyebabkan keruntuhan hutan hujan tropis, Bumi bisa memasuki titik kritis (tipping point) yang membuat pemulihan iklim menjadi sangat sulit — bahkan jika seluruh emisi karbon dihentikan.
Profesor Benjamin Mills, penulis utama studi ini, menegaskan bahwa meski hutan hujan masa kini mungkin lebih tahan panas dibanding jutaan tahun lalu, kita tetap menghadapi risiko besar.
“Jika kita memanaskan hutan tropis terlalu jauh, sejarah sudah menunjukkan apa yang akan terjadi. Dan itu sangat buruk,” kata Mills. (CNN/Z-2)
Industri minyak dan gas (migas) global kini berada di bawah mikroskop regulasi lingkungan yang semakin ketat, terutama terkait emisi gas rumah kaca.
Studi terbaru mengungkap bagaimana pemanasan global di zaman Paleogen mengubah pola hujan menjadi tidak menentu. Apakah ini gambaran masa depan Bumi?
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Panas ekstrem juga bisa merusak sistem aliran air di dalam pohon. Udara dapat masuk ke saluran air tanaman, sehingga aliran air terhambat.
Riset terbaru mengungkap ekspansi titik panas laut dalam memicu munculnya badai monster di atas Kategori 5. Ilmuwan usulkan klasifikasi baru "Kategori 6".
Para ilmuwan menilai tingkat kecerahan Bumi melalui pengukuran albedo, yakni kemampuan planet memantulkan sinar Matahari kembali ke luar angkasa.
Burung purba memiliki keunggulan dalam pola makan. Paruh tanpa gigi memungkinkan mereka memakan biji-bijian dan sumber makanan sederhana yang masih tersedia.
Penelitian internasional menemukan kebakaran liar tetap ada di Bumi pasca kepunahan massal Permian, meski bukti arang tampak hilang.
Penelitian terbaru menemukan kepunahan massal akhir Permian, yang dikenal sebagai Great Dying, mungkin tidak seburuk yang diperkirakan bagi tumbuhan.
PENELITIAN terbaru mengungkapkan bahwa peristiwa kepunahan massal sekitar 201,6 juta tahun yang lalu disebabkan oleh dingin vulkanik yang menandai berakhirnya periode Trias
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) akan melakukan revitalisasi sebanyak 59 bahasa daerah di tahun 2023.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved