Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Studi Ungkap Hutan Arktik Runtuh Hanya dalam 300 Tahun Saat Bumi Memanas

Thalatie K Yani
28/1/2026 11:32
Studi Ungkap Hutan Arktik Runtuh Hanya dalam 300 Tahun Saat Bumi Memanas
Ilustrasi(freepik)

CATATAN sedimen terbaru dari Laut Norwegia memberikan gambaran langka sekaligus peringatan keras mengenai seberapa cepat alam dapat hancur ketika suhu planet meningkat. Penelitian ini mengungkap bahwa pada periode pemanasan global ekstrem di masa lalu, hutan pesisir di sepanjang tepian Arktik runtuh hanya dalam waktu beberapa abad.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini dipimpin oleh Mei Nelissen, peneliti dari Royal Netherlands Institute for Sea Research (NIOZ) dan Universitas Utrecht. Penelitian ini menyoroti bagaimana ekosistem darat dapat berubah drastis dari penyimpan karbon menjadi pelepas karbon, yang memperparah pemanasan jauh setelah pemicu awalnya dimulai.

Runtuhnya Hutan dan Dominasi Pakis

Melalui catatan serbuk sari dan spora, tim peneliti menemukan keruntuhan cepat hutan konifer (tumbuhan munjung) di dekat pantai Arktik seiring melonjaknya kadar CO2. Tekanan panas dan air mengurangi peluang bertahan hidup pohon, yang kemudian digantikan oleh tanaman pakis.

“Kami dapat melihat bahwa dalam jangka waktu maksimal 300 tahun sejak dimulainya peningkatan ledakan CO2, vegetasi yang didominasi konifer menghilang di lokasi yang diteliti dan banyak pakis muncul,” ujar Nelissen.

Pengambilalihan oleh pakis ini berlangsung selama ribuan tahun, menunjukkan pemulihan ekologis jauh tertinggal di belakang lonjakan pemanasan awal.

Kebakaran Hutan dan Erosi Massal

Runtuhnya ekosistem ini memicu efek domino. Fragmen arang dalam sedimen menunjukkan bahwa kebakaran hutan menjadi lebih sering terjadi. Kebakaran mengubah kayu menjadi asap dan abu, melepaskan cadangan karbon yang tersimpan di hutan ke atmosfer.

Kondisi tanah yang hangus dan tanpa akar pohon membuat lahan menjadi sangat rentan terhadap erosi. Saat hujan melanda, tanah hutan terbawa arus ke laut. Erosi ini juga menyingkap kerogen, materi organik purba yang terkunci di dalam batuan sedimen. Ketika terpapar oksigen, mikrob mulai memecah materi ini dan melepaskan karbon yang telah terkubur selama jutaan tahun.

Cermin Masa Kini: Paleocene-Eocene Thermal Maximum (PETM)Peristiwa pemanasan cepat ini dikenal sebagai Paleocene-Eocene Thermal Maximum (PETM) yang terjadi 56 juta tahun lalu. Meskipun pemicu pastinya masih misterius, kemungkinan kombinasi dari ketidakstabilan metana hidrat dan aktivitas vulkanik, efeknya pada laut sangat merusak, menyebabkan pengasaman laut yang menghambat organisme pembentuk cangkang.

Nelissen mencatat meskipun peristiwa masa lalu ini sangat ekstrem, laju emisi manusia saat ini jauh lebih mengkhawatirkan.

“Saat ini, emisi CO2 sekitar 2-10 kali lebih cepat daripada saat PETM, namun laju peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer pada waktu itu adalah yang paling mendekati peningkatan yang disebabkan oleh emisi manusia,” jelas Nelissen.

Studi ini menjadi peringatan bahwa emisi yang cepat memberikan sedikit waktu bagi ekosistem untuk menyesuaikan diri. Melindungi hutan dan tanah memang dapat membatasi emisi tambahan, namun hal itu tidak dapat menggantikan kebutuhan mendesak untuk memangkas penggunaan bahan bakar fosil. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya