Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
RETAKAN pada es laut Arktik mungkin terlihat sepele dari ketinggian, namun penelitian terbaru menunjukkan celah-celah ini memiliki dampak besar terhadap iklim global. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Bulletin of the American Meteorological Society mengungkapkan perairan terbuka di antara es dan polusi dari ladang minyak di sekitarnya saling berinteraksi, memicu reaksi kimia yang mempercepat hilangnya es laut.
Penelitian yang dipimpin Dr. Jose Fuentes dari Pennsylvania State University ini dilakukan melalui kampanye udara CHACHA pada 2022. Selama penerbangan riset di atas Laut Beaufort dan Chukchi, para ilmuwan mencatat kadar nitrogen dioksida mencapai 60-70 bagian per miliar (ppb), angka yang mendekati ambang batas kesehatan Amerika Serikat di wilayah yang selama ini dianggap murni.
Retakan es di musim semi, yang dikenal sebagai leads, melepaskan panas dan uap air ke udara Arktik yang dingin. Fenomena ini menciptakan "asap laut" atau kabut tebal yang naik dari perairan terbuka. Ketika udara dingin yang ekstrem bertemu air yang lebih hangat, penguapan terjadi dengan cepat dan membentuk awan rendah.
Awan-awan ini memiliki peran ganda: memantulkan sinar matahari namun juga menghambat pelepasan panas dari lautan. Data menunjukkan bahwa aliran udara hangat dari retakan es ini mampu meningkatkan suhu udara di sekitarnya hingga 18F (10C), yang pada akhirnya memicu lebih banyak retakan pada lapisan es.
Masalah menjadi semakin kompleks ketika polusi industri dari ladang minyak dan gas Prudhoe Bay bercampur ke dalam atmosfer kutub. Emisi ini bereaksi dengan tumpukan salju yang asin di sepanjang garis pantai, melepaskan gas bromin ke udara.
"Kampanye lapangan ini adalah kesempatan yang belum pernah ada sebelumnya untuk mengeksplorasi perubahan kimiawi di lapisan batas," jelas Dr. Fuentes.
Begitu berada di udara, atom bromin bereaksi dan menghancurkan ozon di permukaan. Hilangnya ozon ini memungkinkan lebih banyak sinar matahari mencapai salju dan menipiskan es laut. Sinar matahari tambahan tersebut menghangatkan permukaan, yang kemudian memicu pelepasan bromin lebih banyak lagi, sebuah siklus perusakan yang terus berulang.
Interaksi antara retakan es dan polusi ladang minyak menciptakan "lingkaran setan" atau umpan balik negatif. Perairan terbuka dan perubahan kimia atmosfer mengubah tutupan awan, yang memengaruhi pemanasan permukaan dan membuka lebih banyak celah es.
Kondisi ini mencapai puncaknya saat penghancuran es di musim semi. Sayangnya, banyak model iklim saat ini sering kali mengabaikan detail kecil seperti retakan es sempit dan polusi lokal, sehingga prediksi pencairan es kutub sering kali tidak akurat.
Dengan profil vertikal atmosfer yang lebih mendalam dari riset ini, para ilmuwan berharap dapat menyempurnakan model prediksi iklim. Hal ini sangat krusial, mengingat pemanasan di Arktik telah melonjak jauh melampaui rata-rata global dalam beberapa dekade terakhir, yang berdampak langsung pada rute pelayaran, infrastruktur, dan masyarakat yang tinggal di wilayah kutub. (Earth/Z-2)
Studi terbaru mengungkap sisi emosional hilangnya gletser dunia. Dari tujuan wisata "kesempatan terakhir" hingga ritual pemakaman es, bagaimana manusia merespons kepunahan gletser?
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
Analisis global terhadap 31.000 spesies pohon mengungkap tren mengkhawatirkan: spesies pohon yang tumbuh lambat mulai punah, digantikan pohon cepat tumbuh yang rapuh.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved