Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
EMISI bahan bakar fosil dunia mencapai rekor tertinggi, sementara komitmen negara-negara dalam menekan pemanasan global masih jauh dari target. Dua laporan terbaru mengungkap, dunia kini berada di jalur menuju kenaikan suhu 2,6°C pada akhir abad ini, level yang berpotensi membawa bencana global.
Menurut pembaruan Climate Action Tracker, rencana pemotongan emisi yang disampaikan berbagai negara untuk Konferensi Iklim COP30 di Brasil dinilai tidak cukup kuat untuk menahan laju pemanasan global. Proyeksi suhu tersebut sama seperti tahun lalu dan jauh melampaui batas aman yang disepakati dalam Perjanjian Paris 2016, yakni menjaga kenaikan suhu global di bawah 2°C.
“Dunia pada suhu 2,6°C berarti bencana global,” kata Bill Hare, CEO Climate Analytics. Ia memperingatkan pemanasan sebesar ini dapat memicu “tipping points” yang menyebabkan keruntuhan sirkulasi Samudra Atlantik, hilangnya terumbu karang, mencairnya lapisan es, hingga perubahan Amazon menjadi sabana.
“Itu berarti akhir dari pertanian di Inggris dan Eropa, kekeringan dan gagal monsun di Asia serta Afrika, serta gelombang panas mematikan,” ujarnya.
Laporan Global Carbon Project (GCP) juga menemukan emisi fosil tahun 2025 diperkirakan naik 1%, meski laju peningkatannya telah menurun dibanding dekade sebelumnya. Dalam 10 tahun terakhir, kenaikan emisi rata-rata turun menjadi 0,8% per tahun dari sebelumnya 2%. Pertumbuhan energi terbarukan kini hampir menyamai peningkatan kebutuhan energi dunia, meski belum sepenuhnya mengimbangi.
Sejak Revolusi Industri, suhu bumi telah naik sekitar 1,3°C, akibat deforestasi dan pembakaran bahan bakar fosil. Dampaknya telah terasa dalam bentuk badai, kebakaran hutan, kekeringan, dan bencana alam ekstrem di berbagai belahan dunia.
Namun, sekitar 100 negara saja yang telah memperbarui komitmen iklimnya, jauh dari cukup untuk membatasi krisis. Proyeksi terbaru bahkan menunjukkan sedikit kemunduran. Pemanasan kini diperkirakan mencapai 2,2°C, sebagian besar dipengaruhi oleh penarikan Amerika Serikat dari Perjanjian Paris.
Mantan wakil presiden AS Al Gore menyebut kondisi ini sebagai “kegilaan.”
“Berapa lama lagi kita akan terus menaikkan termostat bumi hingga bencana ini semakin parah?” ujarnya. “Jika kita terus memperlakukan langit sebagai saluran pembuangan terbuka, beberapa hal akan mustahil untuk diadaptasi.”
Sementara itu, Prof Corinne Le Quéré dari University of East Anglia menyatakan meski emisi belum menurun secepat yang dibutuhkan, laju pertumbuhannya melambat berkat lonjakan energi terbarukan.
“Kebijakan iklim terbukti bekerja, kita mampu membelokkan kurva emisi secara global,” katanya.
Laporan GCP memperkirakan konsentrasi karbon di atmosfer mencapai 425 bagian per juta (ppm) pada 2025, naik dari 280 ppm di era praindustri. Para ilmuwan memperingatkan melemahnya kemampuan hutan tropis Asia Tenggara dan Amerika Selatan dalam menyerap karbon kini justru mengubahnya menjadi sumber emisi baru.
Dengan situasi yang kian genting, para peneliti menyerukan agar negara-negara di COP30 mempercepat penghapusan bahan bakar fosil dan memperkuat investasi energi bersih sebelum terlambat. (The Guardian/Z-2)
Peneliti ETH Zurich temukan emisi gas rumah kaca dari danau hitam Kongo berasal dari gambut purba ribuan tahun.
Upaya mendorong sistem logistik rendah karbon dinilai menjadi langkah penting dalam mendukung komitmen iklim nasional, termasuk pencapaian target FOLU Net Sink 2030.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan rencana pembangunan PLTSa di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.
PT Medco Energi Internasional, melalui anak usahanya Medco E&P Grissik, memperkuat upaya pengurangan emisi melalui penerapan nitrogen gas blanketing.
Upaya efisiensi operasional di sektor pelayaran mulai menghasilkan dampak nyata bagi kinerja lingkungan.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Kehidupan masyarakat pesisir di Karimunjawa mengalami perubahan karena dampak dari perubahan iklim yang terus menerus.
PERWAKILAN Perempuan Nelayan Sumatra Utara, Jumiati, mengungkapkan perubahan iklim membuat cuaca sulit diprediksi. Itu berdampak pada banyaknya nelayan di kampungnya kesulitan melaut.
Studi terbaru mengungkap tanaman tropis mengalami pergeseran waktu berbunga hingga 80 hari. Fenomena ini mengancam rantai makanan dan kelangsungan hidup hewan.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti ETH Zurich temukan emisi gas rumah kaca dari danau hitam Kongo berasal dari gambut purba ribuan tahun.
Peneliti menemukan pola kadar garam (salinitas) di Pasifik Barat saat musim semi dapat memperkuat intensitas El Niño hingga 20%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved