Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
EMISI bahan bakar fosil dunia mencapai rekor tertinggi, sementara komitmen negara-negara dalam menekan pemanasan global masih jauh dari target. Dua laporan terbaru mengungkap, dunia kini berada di jalur menuju kenaikan suhu 2,6°C pada akhir abad ini, level yang berpotensi membawa bencana global.
Menurut pembaruan Climate Action Tracker, rencana pemotongan emisi yang disampaikan berbagai negara untuk Konferensi Iklim COP30 di Brasil dinilai tidak cukup kuat untuk menahan laju pemanasan global. Proyeksi suhu tersebut sama seperti tahun lalu dan jauh melampaui batas aman yang disepakati dalam Perjanjian Paris 2016, yakni menjaga kenaikan suhu global di bawah 2°C.
“Dunia pada suhu 2,6°C berarti bencana global,” kata Bill Hare, CEO Climate Analytics. Ia memperingatkan pemanasan sebesar ini dapat memicu “tipping points” yang menyebabkan keruntuhan sirkulasi Samudra Atlantik, hilangnya terumbu karang, mencairnya lapisan es, hingga perubahan Amazon menjadi sabana.
“Itu berarti akhir dari pertanian di Inggris dan Eropa, kekeringan dan gagal monsun di Asia serta Afrika, serta gelombang panas mematikan,” ujarnya.
Laporan Global Carbon Project (GCP) juga menemukan emisi fosil tahun 2025 diperkirakan naik 1%, meski laju peningkatannya telah menurun dibanding dekade sebelumnya. Dalam 10 tahun terakhir, kenaikan emisi rata-rata turun menjadi 0,8% per tahun dari sebelumnya 2%. Pertumbuhan energi terbarukan kini hampir menyamai peningkatan kebutuhan energi dunia, meski belum sepenuhnya mengimbangi.
Sejak Revolusi Industri, suhu bumi telah naik sekitar 1,3°C, akibat deforestasi dan pembakaran bahan bakar fosil. Dampaknya telah terasa dalam bentuk badai, kebakaran hutan, kekeringan, dan bencana alam ekstrem di berbagai belahan dunia.
Namun, sekitar 100 negara saja yang telah memperbarui komitmen iklimnya, jauh dari cukup untuk membatasi krisis. Proyeksi terbaru bahkan menunjukkan sedikit kemunduran. Pemanasan kini diperkirakan mencapai 2,2°C, sebagian besar dipengaruhi oleh penarikan Amerika Serikat dari Perjanjian Paris.
Mantan wakil presiden AS Al Gore menyebut kondisi ini sebagai “kegilaan.”
“Berapa lama lagi kita akan terus menaikkan termostat bumi hingga bencana ini semakin parah?” ujarnya. “Jika kita terus memperlakukan langit sebagai saluran pembuangan terbuka, beberapa hal akan mustahil untuk diadaptasi.”
Sementara itu, Prof Corinne Le Quéré dari University of East Anglia menyatakan meski emisi belum menurun secepat yang dibutuhkan, laju pertumbuhannya melambat berkat lonjakan energi terbarukan.
“Kebijakan iklim terbukti bekerja, kita mampu membelokkan kurva emisi secara global,” katanya.
Laporan GCP memperkirakan konsentrasi karbon di atmosfer mencapai 425 bagian per juta (ppm) pada 2025, naik dari 280 ppm di era praindustri. Para ilmuwan memperingatkan melemahnya kemampuan hutan tropis Asia Tenggara dan Amerika Selatan dalam menyerap karbon kini justru mengubahnya menjadi sumber emisi baru.
Dengan situasi yang kian genting, para peneliti menyerukan agar negara-negara di COP30 mempercepat penghapusan bahan bakar fosil dan memperkuat investasi energi bersih sebelum terlambat. (The Guardian/Z-2)
PT Medco Energi Internasional, melalui anak usahanya Medco E&P Grissik, memperkuat upaya pengurangan emisi melalui penerapan nitrogen gas blanketing.
Upaya efisiensi operasional di sektor pelayaran mulai menghasilkan dampak nyata bagi kinerja lingkungan.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Peneliti Universitas Rochester berhasil menyulap tungsten karbida menjadi katalis yang lebih hebat dari platinum untuk mendaur ulang plastik dan mengolah CO2.
TruCarbon membuka akses program percobaan TruCount secara gratis khusus bagi perusahaan tercatat Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 20 Januari–30 Juni 2026.
Kerusakan padang lamun di pesisir Jawa dan sebagian Sumatra berpotensi menjadi salah satu sumber emisi karbon tersembunyi terbesar di Indonesia.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Meski perubahan iklim mengancam es laut, beruang kutub di Svalbard justru ditemukan lebih sehat dan gemuk. Apa rahasianya?
Di tengah krisis iklim yang kian nyata, arah kebijakan negara disebut belum beranjak dari pendekatan lama yang justru memperparah kerusakan lingkungan.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved