Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Tanaman Tropis Kini Berbunga "Berantakan" Akibat Perubahan Iklim

Thalatie K Yani
27/2/2026 11:00
Tanaman Tropis Kini Berbunga
Ilustrasi(freepik)

SELAMA ini, wilayah tropis dianggap sebagai zona yang relatif "aman" dari dampak ekstrem perubahan musim. Namun, sebuah analisis mendalam terhadap catatan botani selama lebih dari 200 tahun mengungkap fakta yang mengkhawatirkan, tanaman tropis kini berbunga jauh lebih awal dari jadwal alaminya.

Penelitian yang dipimpin Skylar Graves dan Erin Manzitto-Tripp dari University of Colorado Boulder ini membongkar asumsi lama bahwa tanaman di dekat khatulistiwa tidak sensitif terhadap perubahan iklim. Faktanya, beberapa spesies kini mengalami pergeseran waktu berbunga yang bukan lagi hitungan hari, melainkan bulan.

Data Dua Abad Ungkap Tren Mengkhawatirkan

Para peneliti mengumpulkan data dari lebih dari 8.000 spesimen bunga yang tersimpan di museum dan herbarium sejak 1794 hingga 2024. Melalui catatan sejarah ini, ditemukan pola yang konsisten, rata-rata waktu berbunga bergeser sekitar dua hari setiap dekade.

Meskipun angka rata-rata terlihat kecil, akumulasi selama satu atau dua abad menghasilkan perubahan yang drastis. Sebagai contoh, semak Ghanan rattlepod kini berbunga 17 hari lebih awal dibandingkan periode 1950-an. Lebih ekstrem lagi, pohon Brazilian amaranth berbunga sekitar 80 hari lebih lambat daripada 70 tahun yang lalu.

Tropis Tak Lagi Kebal

Di wilayah beriklim sedang, perubahan suhu musiman adalah pemicu utama tanaman berbunga. Karena suhu di wilayah tropis cenderung stabil sepanjang tahun, banyak ilmuwan sebelumnya menduga tanaman di sana tidak akan terlalu terdampak oleh pemanasan global.

Studi ini mematahkan teori tersebut. Skala perubahan yang ditemukan di wilayah tropis ternyata setara dengan apa yang terjadi di wilayah kutub dan beriklim sedang. Ini menunjukkan spesies tropis sama responsifnya terhadap pergeseran pola iklim.

Ancaman Putusnya Rantai Makanan

Waktu berbunga adalah "pelatuk" bagi seluruh rangkaian interaksi ekosistem. Penyerbuk seperti lebah dan burung mengandalkan jadwal bunga yang dapat diprediksi. Begitu juga dengan hewan pemakan buah yang berperan menyebarkan biji.

"Jika tanaman menggeser waktu berbunganya tetapi hewan yang bergantung padanya tidak bergeser pada kecepatan yang sama, maka akan terjadi kerusakan hubungan yang telah terjalin lama," flag penelitian tersebut. Bayangkan sebuah tanaman yang hanya bisa diserbuk oleh satu jenis serangga. Jika bunga mekar di luar waktu munculnya serangga tersebut, maka penyerbukan akan gagal, produksi biji menurun, dan hewan yang memakan buahnya akan kehilangan sumber pangan.

Herbarium Sebagai Mesin Waktu

Salah satu poin menarik dari studi ini adalah pemanfaatan koleksi herbarium sebagai sumber data primer. Spesimen bunga yang dikeringkan sejak 1820-an bukan sekadar barang antik, melainkan rekaman akurat tentang apa yang mekar, di mana, dan kapan.

"Karya ini menyoroti spesimen herbarium lebih dari sekadar alat taksonomi. Mereka adalah sumber data masif dengan skala geografis dan waktu yang jauh melampaui apa yang bisa dicapai seorang peneliti seumur hidupnya," ujar Graves.

Temuan ini menjadi peringatan bagi konservasi global, mengingat wilayah tropis menampung sebagian besar biodiversitas planet ini. Ketika jadwal bunga bergeser, dampaknya akan terasa di seluruh jaring makanan, mulai dari populasi serangga hingga migrasi burung. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya