Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
SUHU panas ekstrem bukan lagi sekadar masalah kenyamanan, melainkan ancaman nyata yang mulai menghentikan manusia dari aktivitas harian paling sederhana. Berjalan kaki, membersihkan rumah, hingga bekerja di luar ruangan kini menjadi aktivitas yang berisiko tinggi akibat perubahan iklim.
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Health mengungkapkan pemanasan global telah mengubah batasan fisik tubuh manusia dalam menangani cuaca panas. Para peneliti dari The Nature Conservancy, Arizona State University, dan beberapa lembaga lainnya menemukan lonjakan tajam jumlah jam berbahaya bagi aktivitas normal sejak tahun 1950-an.
Berbeda dengan penelitian suhu konvensional, studi ini fokus pada aspek "livability" atau kelayakan huni, yakni kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri melalui keringat. Jennifer Vanos, profesor di Arizona State University, menjelaskan fokus riset ini.
"Sebagian besar studi panas berfokus pada seberapa panas suhu yang dirasakan. Studi ini mengajukan pertanyaan berbeda, Apa yang dapat dilakukan tubuh manusia dengan aman dalam panas tersebut?" ujar Vanos.
Menggunakan model khusus bernama HEAT Lim, peneliti menganalisis bagaimana kelembapan tinggi menghambat proses penguapan keringat. Jika tubuh tidak dapat melepaskan panas cukup cepat, suhu inti tubuh akan naik dan memicu kelelahan panas (heat exhaustion) hingga sengatan panas (heatstroke).
Data iklim dari tahun 1950 hingga 2024 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kelompok dewasa muda (18-40 tahun) kini menghadapi jam berbahaya dua kali lipat lebih banyak dibandingkan pertengahan abad ke-20. Namun, beban terberat dipikul oleh lansia.
Bagi mereka yang berusia di atas 65 tahun, paparan panas berbahaya meningkat dari 600 jam menjadi sekitar 900 jam per tahun. Di wilayah tropis, panas ekstrem bahkan membatasi aktivitas fisik lansia selama seperempat hingga sepertiga waktu dalam setahun. Hal ini disebabkan oleh penurunan kemampuan tubuh lansia dalam mengatur sirkulasi darah dan produksi keringat.
Wilayah Asia Selatan dan Barat Daya, termasuk Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab, mencatat kondisi paling parah. Di India, diperkirakan terjadi lebih dari satu triliun "jam-orang" setiap tahun di mana panas ekstrem membatasi aktivitas aman bagi lansia.
Luke Parsons, penulis utama dari The Nature Conservancy, memberikan peringatan keras terkait ketergantungan pada bahan bakar fosil.
"Kecuali kita berhenti membakar minyak, batu bara, dan gas, maka batasan pada kelayakan huni yang disebabkan oleh panas ekstrem hanya akan menjadi lebih umum dan meluas, terutama saat populasi global menua," tegas Parsons.
Penelitian ini menjadi pengingat mendesak bagi pemerintah di seluruh dunia untuk segera memperbaiki infrastruktur pendinginan, perencanaan kota, dan perlindungan bagi komunitas rentan sebelum ambang batas kemampuan manusia benar-benar terlampaui. (Earth/Z-2)
FENOMENA Godzilla El Nino berpotensi menekan produksi pertanian nasional akibat kekeringan berkepanjangan dan dapat meningkatkan risiko gagal panen.
Menhut Raja Juli Antoni, melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, Suzuki Norikazu. Ia mendorong investasi karbon dan pengelolaan mangrove
Produk Indonesia tidak akan bisa bersaing jika konsistensi mutu dan kandungan gizinya diabaikan, atau bahkan sampai memanipulasi konsumen.
BRIN dan FAO perkuat kolaborasi global untuk transformasi sektor peternakan berkelanjutan melalui riset, inovasi, dan teknologi berbasis sains.
Elon Musk usulkan satelit AI untuk mengatur radiasi Matahari. Konsep ini picu debat karena risiko besar bagi iklim global.
Studi terbaru mengungkap bendungan berang-berang mampu mengubah sungai menjadi penyerap karbon alami yang efektif. Solusi murah untuk atasi perubahan iklim?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved