Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
SUHU panas ekstrem bukan lagi sekadar masalah kenyamanan, melainkan ancaman nyata yang mulai menghentikan manusia dari aktivitas harian paling sederhana. Berjalan kaki, membersihkan rumah, hingga bekerja di luar ruangan kini menjadi aktivitas yang berisiko tinggi akibat perubahan iklim.
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Health mengungkapkan pemanasan global telah mengubah batasan fisik tubuh manusia dalam menangani cuaca panas. Para peneliti dari The Nature Conservancy, Arizona State University, dan beberapa lembaga lainnya menemukan lonjakan tajam jumlah jam berbahaya bagi aktivitas normal sejak tahun 1950-an.
Berbeda dengan penelitian suhu konvensional, studi ini fokus pada aspek "livability" atau kelayakan huni, yakni kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri melalui keringat. Jennifer Vanos, profesor di Arizona State University, menjelaskan fokus riset ini.
"Sebagian besar studi panas berfokus pada seberapa panas suhu yang dirasakan. Studi ini mengajukan pertanyaan berbeda, Apa yang dapat dilakukan tubuh manusia dengan aman dalam panas tersebut?" ujar Vanos.
Menggunakan model khusus bernama HEAT Lim, peneliti menganalisis bagaimana kelembapan tinggi menghambat proses penguapan keringat. Jika tubuh tidak dapat melepaskan panas cukup cepat, suhu inti tubuh akan naik dan memicu kelelahan panas (heat exhaustion) hingga sengatan panas (heatstroke).
Data iklim dari tahun 1950 hingga 2024 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kelompok dewasa muda (18-40 tahun) kini menghadapi jam berbahaya dua kali lipat lebih banyak dibandingkan pertengahan abad ke-20. Namun, beban terberat dipikul oleh lansia.
Bagi mereka yang berusia di atas 65 tahun, paparan panas berbahaya meningkat dari 600 jam menjadi sekitar 900 jam per tahun. Di wilayah tropis, panas ekstrem bahkan membatasi aktivitas fisik lansia selama seperempat hingga sepertiga waktu dalam setahun. Hal ini disebabkan oleh penurunan kemampuan tubuh lansia dalam mengatur sirkulasi darah dan produksi keringat.
Wilayah Asia Selatan dan Barat Daya, termasuk Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab, mencatat kondisi paling parah. Di India, diperkirakan terjadi lebih dari satu triliun "jam-orang" setiap tahun di mana panas ekstrem membatasi aktivitas aman bagi lansia.
Luke Parsons, penulis utama dari The Nature Conservancy, memberikan peringatan keras terkait ketergantungan pada bahan bakar fosil.
"Kecuali kita berhenti membakar minyak, batu bara, dan gas, maka batasan pada kelayakan huni yang disebabkan oleh panas ekstrem hanya akan menjadi lebih umum dan meluas, terutama saat populasi global menua," tegas Parsons.
Penelitian ini menjadi pengingat mendesak bagi pemerintah di seluruh dunia untuk segera memperbaiki infrastruktur pendinginan, perencanaan kota, dan perlindungan bagi komunitas rentan sebelum ambang batas kemampuan manusia benar-benar terlampaui. (Earth/Z-2)
Penelitian terbaru menunjukkan jamur patogen seperti Aspergillus berpotensi menyebar lebih luas akibat perubahan iklim dan resistensi obat, meningkatkan risiko infeksi pada manusia.
Ekspedisi CEFAS mengungkap rahasia laut dalam Karibia. Ditemukan gunung bawah laut, "blue hole" raksasa, hingga terumbu karang purba yang tak tersentuh perubahan iklim.
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Ilmuwan mengungkap penyebab zona gelap di lapisan es Greenland. Debu kaya fosfor memicu pertumbuhan alga yang mempercepat pencairan es akibat perubahan iklim.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved