Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
ANCAMAN dari jamur patogen kini menjadi perhatian para ilmuwan di seluruh dunia. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan beberapa jenis jamur berbahaya berpotensi menyebar lebih luas akibat perubahan iklim, peningkatan suhu global, serta penggunaan fungisida yang intensif di sektor pertanian.
Setiap hari, manusia sebenarnya menghirup ratusan spora jamur mikroskopis yang melayang di udara. Sebagian besar spora tersebut tidak berbahaya dan bahkan tidak meninggalkan dampak apa pun pada tubuh manusia. Namun, sebagian lainnya berasal dari jenis jamur yang dapat menyebabkan infeksi serius, merusak tanaman pangan, hingga mengganggu keseimbangan ekosistem.
Sebagian besar jamur memang berperan penting sebagai pengurai alami di lingkungan. Meski begitu, beberapa jenis dapat berubah menjadi patogen yang menyerang manusia, hewan, maupun tanaman. Dalam kondisi tertentu, jamur tersebut dapat menimbulkan dampak besar, mulai dari gangguan kesehatan hingga kerugian ekonomi yang signifikan.
Penelitian yang dilakukan Dr. Norman van Rhijn bersama tim dari The University of Manchester, Inggris, mencoba memetakan kemungkinan penyebaran beberapa spesies jamur berbahaya hingga akhir abad ini. Mereka meneliti tiga jenis jamur dari kelompok Aspergillus, yaitu A. flavus, A. fumigatus, dan A. niger.
Dengan menggunakan model iklim global, para peneliti memproyeksikan bagaimana perubahan suhu, kelembapan, dan cuaca ekstrem dapat memengaruhi penyebaran spora jamur. Dalam salah satu skenario yang menggambarkan masa depan dengan emisi karbon tinggi, sejumlah wilayah di Eropa diperkirakan akan menjadi habitat yang semakin cocok bagi jamur tersebut.
Hasil pemodelan menunjukkan wilayah penyebaran Aspergillus flavus di Eropa dapat meningkat sekitar 16%. Kondisi ini berpotensi menambah sekitar satu juta orang yang berisiko terpapar infeksi.
Sementara itu, Aspergillus fumigatus yang dikenal sebagai penyebab utama penyakit aspergilosis invasif diperkirakan akan memperluas wilayah penyebarannya hingga 77,5% di Eropa. Jika proyeksi tersebut terjadi, hingga sembilan juta orang tambahan dapat berada dalam risiko infeksi.
Menariknya, dampak perubahan iklim terhadap jamur tidak selalu sama di setiap wilayah. Di beberapa bagian Afrika, suhu yang semakin panas justru diperkirakan menjadi terlalu ekstrem bagi sebagian jenis jamur untuk bertahan hidup.
Infeksi jamur dari kelompok Aspergillus dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia, terutama pada mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah. Pasien dengan infeksi yang resistan terhadap obat antijamur bahkan memiliki tingkat kematian lebih dari 50%.
Masalah lain muncul dari penggunaan fungisida jenis azole di sektor pertanian. Bahan kimia ini digunakan untuk melindungi tanaman seperti gandum dan kacang tanah dari serangan jamur. Namun, obat antijamur yang digunakan dalam dunia medis memiliki struktur yang hampir serupa.
Kesamaan tersebut dapat mendorong jamur mengembangkan resistensi terhadap obat, mirip dengan cara bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik. Akibatnya, infeksi jamur pada manusia menjadi semakin sulit diobati.
Dampaknya tidak hanya terasa di bidang kesehatan. Pertumbuhan jamur seperti Aspergillus juga dapat mencemari hasil panen dengan mikotoksin berbahaya. Di Amerika Serikat, misalnya, satu musim dengan pertumbuhan jamur tinggi dapat menyebabkan kerugian lebih dari satu miliar dolar pada industri jagung.
Meski ancamannya semakin dekat, penelitian tentang jamur masih tergolong terbatas dibandingkan dengan virus atau bakteri. Para ilmuwan memperkirakan terdapat sekitar 1,5 hingga 3,8 juta spesies jamur di dunia. Namun, kurang dari 10% di antaranya yang telah dideskripsikan secara resmi.
Keterbatasan data ini membuat pengembangan vaksin maupun obat antijamur baru menjadi lebih lambat.
Organisasi Kesehatan Dunia bahkan telah memasukkan beberapa jenis jamur patogen, termasuk Aspergillus dan Candida, ke dalam daftar prioritas patogen yang perlu diawasi secara global.
Para peneliti kini mendorong upaya pemantauan yang lebih terintegrasi, mulai dari pengawasan kualitas udara, pengambilan sampel di sektor pertanian, hingga pemantauan di rumah sakit. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mendeteksi penyebaran jamur berbahaya lebih dini.
Selain itu, pengurangan emisi gas rumah kaca, penggunaan fungisida yang lebih bijak, serta pengembangan obat antijamur baru juga dinilai penting untuk menekan ancaman tersebut. Tanpa langkah-langkah tersebut, jamur yang selama ini hanya dikenal sebagai pengurai alami berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan global di masa depan. (earth/Z-2)
Ekspedisi CEFAS mengungkap rahasia laut dalam Karibia. Ditemukan gunung bawah laut, "blue hole" raksasa, hingga terumbu karang purba yang tak tersentuh perubahan iklim.
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Ilmuwan mengungkap penyebab zona gelap di lapisan es Greenland. Debu kaya fosfor memicu pertumbuhan alga yang mempercepat pencairan es akibat perubahan iklim.
Peneliti menemukan bahwa kenaikan kadar CO2 di atmosfer mulai mengubah kimia darah manusia, termasuk kenaikan bikarbonat yang signifikan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved