Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Paparan Panas Ekstrem Terbukti Percepat Penuaan Sel pada Lansia hingga 14 Bulan

Thalatie K Yani
25/1/2026 09:00
Paparan Panas Ekstrem Terbukti Percepat Penuaan Sel pada Lansia hingga 14 Bulan
Ilustrasi(freepik)

GELOMBANG panas ekstrem yang melanda berbagai belahan dunia kini tidak hanya mengancam kenyamanan, tetapi mulai merusak bagian dalam tubuh manusia. Sebuah studi terbaru mengungkapkan paparan suhu tinggi yang berkepanjangan dapat mempercepat proses penuaan biologis, terutama pada lansia.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari University of Southern California (USC) menghubungkan paparan panas luar ruangan yang berulang dengan penuaan biologis yang lebih cepat pada orang dewasa berusia 56 tahun ke atas. Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances ini menyoroti bagaimana kerusakan seluler yang tersembunyi dapat terakumulasi menjadi masalah kesehatan yang jauh lebih besar.

Penuaan di Tingkat Seluler

Para peneliti menggunakan metode yang disebut epigenetic age, yakni estimasi laboratorium terhadap keausan sel berdasarkan data darah. Melalui analisis terhadap sekitar 3.600 peserta, tim menemukan mereka yang tinggal di wilayah dengan frekuensi hari panas yang tinggi memiliki usia biologis beberapa bulan lebih tua dibandingkan rekan sebaya mereka.

Di wilayah dengan setidaknya 140 hari per tahun bersuhu di atas 32 derajat Celsius (90 derajat Fahrenheit), terjadi percepatan penuaan biologis hingga 14 bulan.

“Ini menunjukkan bahwa paparan panas kronis mungkin memiliki dampak substansial pada proses penuaan tubuh, serupa dengan gaya hidup utama dan stresor lingkungan lainnya,” ujar Eunyoung Choi, peneliti utama dan rekan pascadoktoral di USC Leonard Davis School of Gerontology.

Mengapa Tubuh Lansia Lebih Rentan?

Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk membuang panas menjadi kurang efisien. Hal ini memaksa jantung dan ginjal bekerja lebih keras. Penurunan kemampuan termoregulasi, sistem pengatur suhu tubuh, dapat mengurangi produksi keringat dan aliran darah ke kulit.

Stres akibat panas dapat mengubah metilasi DNA, yaitu tanda kimia kecil yang membantu mengontrol aktivitas gen. Perubahan ini tetap bertahan bahkan setelah suhu menurun.

“Dengan berfokus pada penuaan epigenetik, kami berharap dapat mengungkap efek panas yang tersembunyi pada tubuh, yang bisa menjadi pendahulu penting sebelum berkembang menjadi dampak kesehatan yang lebih serius,” tambah Choi.

Desain Kota dan Perlindungan Lingkungan

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya desain lingkungan yang proaktif. Area perkotaan yang padat sering kali memerangkap panas (urban heat island), membuat suhu di blok jalan jauh lebih panas daripada di taman kota.

Langkah-langkah sederhana seperti menambah peneduh di halte bus hingga kunjungan rutin kepada warga senior saat gelombang panas dapat menekan risiko. Mengingat banyak lansia mengonsumsi obat-obatan yang memengaruhi rasa haus atau kemampuan berkeringat, perhatian dari lingkungan sekitar menjadi sangat krusial.

Hasil studi ini menegaskan bahwa panas bukan sekadar fenomena cuaca, melainkan stresor klinis yang secara nyata mengubah lintasan kesehatan manusia sehari-hari. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya