Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Kebocoran "Gudang Karbon" Purba di Basin Kongo: Ancaman Baru Perubahan Iklim

Thalatie K Yani
25/2/2026 11:00
Kebocoran
Di pertemuan sungai Fimi dan Kasai di Republik Demokratik Kongo, air gelap dari lanskap hutan bertemu dengan air dari sabana, yang berwarna merah karena oksida besi(Matti Barthel / ETH Zurich)

JAUH di dalam Basin Kongo, hamparan lahan gambut luas selama ini berfungsi sebagai brankas raksasa yang mengunci simpanan karbon Bumi. Namun, penelitian terbaru mengungkap temuan mengkhawatirkan: brankas purba ini dilaporkan mulai "bocor" dan melepaskan karbon dioksida  (CO2) ke atmosfer dalam jumlah signifikan.

Penelitian yang dipimpin oleh tim dari ETH Zurich di Danau Mai Ndombe dan Danau Tumba, danau air hitam terbesar di Afrika, menunjukkan gas yang menguap bukan hanya berasal dari sisa tanaman baru, melainkan dari material gambut yang telah terkunci selama ribuan tahun.

Sinyal Bahaya dari Danau Air Hitam

Basin Kongo menyimpan sekitar sepertiga dari seluruh karbon lahan gambut tropis dunia, meskipun luasnya hanya mencakup 0,3% permukaan daratan planet ini. Dengan menggunakan metode penanggalan radiokarbon, ilmuwan menemukan fakta mengejutkan hingga 40% CO2 yang dilepaskan berasal dari gambut kuno.

"Kami terkejut menemukan bahwa karbon purba dilepaskan melalui danau tersebut," jelas Travis Drake, penulis utama studi yang diterbitkan di Nature Geoscience. "Cadangan karbon ini memiliki kebocoran, sehingga karbon purba bisa melarikan diri," tambah rekan penulis Matti Barthel.

Mengapa Karbon Purba Mulai Terlepas?

Sebelumnya, para ilmuwan meyakini karbon di Basin Kongo tetap terkunci secara permanen dan hanya akan terlepas dalam kondisi kekeringan ekstrem. Kini, mekanisme pasti bagaimana karbon tersebut "mobilisasi" dari tanah gambut ke air danau masih menjadi tanda tanya besar.

Para ahli mengkhawatirkan bahwa perubahan lingkungan akibat pemanasan global menjadi pemicu utamanya. Jika kondisi menjadi lebih kering, oksigen akan merambah lebih dalam ke lapisan gambut, mempercepat penguraian mikrob dan melepaskan lebih banyak gas rumah kaca ke langit.

Ancaman Ganda: Metana dan Deforestasi

Selain CO2, kadar air danau juga memengaruhi emisi metana (CH4). Ketika permukaan air danau menyusut selama musim kemarau, penguraian metana oleh mikroorganisme menjadi kurang efisien, sehingga lebih banyak gas berbahaya yang terlepas.

"Ketakutan kami adalah perubahan iklim akan merusak keseimbangan ini. Jika kekeringan menjadi lebih lama dan intens, danau air hitam di kawasan ini bisa menjadi sumber metana signifikan yang berdampak pada iklim global," ujar Profesor Johan Six dari ETH Zurich.

Tekanan manusia juga memperburuk keadaan. Dengan populasi Republik Demokratik Kongo yang diprediksi naik tiga kali lipat pada 2050, pembukaan lahan hutan untuk pertanian menjadi ancaman nyata. Deforestasi tidak hanya menghilangkan "paru-paru dunia", tetapi juga mengganggu siklus penguapan air yang selama ini menjaga lahan gambut tetap basah dan stabil.

Temuan ini diharapkan dapat menyempurnakan model iklim global yang selama ini kurang merepresentasikan peran lahan basah tropis, sekaligus menjadi peringatan keras bagi dunia untuk segera melindungi ekosistem kritis di Basin Kongo. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya