Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Industri Tambang Didorong Beralih ke Green Mining demi Turunkan Emisi

Despian Nurhidayat
11/3/2026 21:53
Industri Tambang Didorong Beralih ke Green Mining demi Turunkan Emisi
Media Gathering Akselerasi Green Mining: Dorong Operasional Tambang Rendah Karbon(SUN)

Transformasi menuju praktik green mining semakin menjadi perhatian di sektor pertambangan Indonesia seiring meningkatnya tuntutan global terhadap dekarbonisasi serta komitmen nasional dalam menurunkan emisi karbon. Industri pertambangan kini mulai didorong untuk mengintegrasikan pendekatan operasional yang lebih efisien, rendah emisi, dan berkelanjutan guna menjaga daya saing di tengah perubahan lanskap energi dunia.

Sebagai salah satu sektor strategis perekonomian nasional, industri pertambangan berkontribusi sekitar 10,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Namun, sektor ini juga tengah memasuki fase transisi penting sejalan dengan target nasional pengurangan emisi sebesar 31,89% pada 2030, sekaligus meningkatnya tuntutan standar keberlanjutan dalam rantai pasok global.

Salah satu tantangan utama dalam transformasi tersebut adalah tingginya ketergantungan operasional tambang terhadap bahan bakar fosil. Energi berbasis diesel masih banyak digunakan untuk pembangkit listrik di lokasi tambang terpencil maupun untuk mendukung mobilitas armada operasional. Kondisi ini tidak hanya berkontribusi terhadap tingginya emisi karbon, tetapi juga memengaruhi efisiensi biaya serta keandalan pasokan energi di area tambang.

Secara global, sektor pertambangan diperkirakan menyumbang sekitar 4%-7% emisi gas rumah kaca dunia, sehingga menjadikannya salah satu sektor penting dalam upaya transisi menuju ekonomi rendah karbon. Sejalan dengan itu, pelaku industri menilai bahwa sektor pertambangan nasional mulai menunjukkan kesiapan untuk mengadopsi praktik green mining. Meski demikian, implementasinya dinilai perlu dilakukan secara bertahap karena setiap lokasi tambang memiliki karakteristik operasional serta tantangan yang berbeda.

Ketua Komite Komunikasi dan Government Relations Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI-ICMA), Aditya Pratama, mengatakan transformasi menuju green mining kini semakin dipandang sebagai kebutuhan bisnis jangka panjang.

“Transformasi menuju green mining kini semakin dipandang sebagai kebutuhan bisnis jangka panjang. Tantangannya adalah bagaimana memastikan implementasi dapat berjalan lebih cepat dan lebih luas, didukung ekosistem teknologi yang semakin siap serta kolaborasi yang kuat antara pelaku industri, pemerintah, dan penyedia solusi,” ujarnya.

Dalam praktiknya, penerapan green mining memerlukan pendekatan sistem energi yang dirancang secara menyeluruh sesuai kebutuhan operasional di setiap site tambang. Integrasi antara sumber energi terbarukan, sistem penyimpanan energi, serta teknologi pemantauan operasional menjadi salah satu pendekatan yang mulai dipertimbangkan untuk mendukung operasional tambang yang lebih efisien dan rendah emisi.

Pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di area tambang dinilai semakin relevan karena mampu menjawab beberapa kebutuhan sekaligus, seperti mengurangi ketergantungan terhadap diesel, meningkatkan efisiensi biaya operasional, serta memperkuat ketahanan pasokan energi di lokasi terpencil. Dukungan sistem penyimpanan energi berbasis baterai juga membuat pemanfaatan energi surya lebih adaptif terhadap kebutuhan operasional tambang yang dinamis.

CEO SUN Energy, Jefferson Kuesar, mengatakan strategi green mining yang efektif harus melihat karakter operasional tambang secara menyeluruh.

“Strategi green mining yang efektif perlu melihat karakter operasional tambang secara menyeluruh. Integrasi antara energi surya, penyimpanan energi, dan sistem monitoring menjadi penting agar perusahaan tambang dapat menekan emisi sekaligus menjaga efisiensi dan kontinuitas operasi,” ujarnya.

Selain dari sisi pembangkitan energi, elektrifikasi armada operasional juga mulai dilihat sebagai langkah strategis berikutnya dalam mendukung operasional tambang yang lebih rendah emisi. Mobilitas armada merupakan salah satu komponen utama dalam rantai operasional tambang sehingga transformasi menuju kendaraan listrik dinilai dapat memberikan dampak signifikan baik dari sisi lingkungan maupun efisiensi operasional.

CEO SUN Mobility, Karina Darmawan, menjelaskan bahwa elektrifikasi armada harus dipandang sebagai bagian dari transformasi operasional yang lebih luas.

“Implementasi elektrifikasi armada perlu disesuaikan dengan karakteristik tambang, mulai dari jenis armada, rute operasional, intensitas penggunaan, hingga kesiapan infrastruktur pengisian daya. Jika dirancang dengan tepat, elektrifikasi dapat membantu perusahaan tambang menekan emisi sekaligus meningkatkan efisiensi biaya operasional,” katanya.

Ke depan, keberhasilan transformasi green mining tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi, tetapi juga oleh kolaborasi yang kuat antara berbagai pemangku kepentingan.

Melalui pendekatan energi terintegrasi, SUN Energy telah mulai mengembangkan solusi yang mencakup pembangunan PLTS, sistem penyimpanan energi baterai (BESS), infrastruktur pengisian kendaraan listrik, serta elektrifikasi armada operasional sebagai bagian dari upaya mendukung transformasi menuju praktik green mining di Indonesia. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya