Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
Upaya mendorong sistem logistik rendah karbon dinilai menjadi langkah penting dalam mendukung komitmen iklim nasional, termasuk pencapaian target FOLU Net Sink 2030 dan penurunan emisi dalam Second Nationally Determined Contribution (NDC). Hal ini mengemuka dalam forum Green Logistics Talk yang digelar di Jakarta, Kamis (19/2).
Forum bertema Measuring, Reducing, and Managing Carbon Footprint in Logistics for Indonesia’s Climate Commitment ini mempertemukan unsur pemerintah, pelaku usaha, serta jejaring profesional lintas kawasan. Diskusi menyoroti pentingnya integrasi kebijakan kehutanan, efisiensi rantai pasok, serta pengukuran jejak karbon yang akuntabel sebagai fondasi ekonomi berkelanjutan.
Project Director FOLU NC-1 sekaligus Dewan Penasehat Ahli FOLU Net Sink 2030, Agus Justianto, menegaskan bahwa pengelolaan emisi karbon seharusnya dilihat sebagai bagian dari pembangunan yang bertanggung jawab.
“Pendekatan yang kita dorong bukan menghentikan pembangunan, tetapi memastikan setiap aktivitas ekonomi berjalan lebih efisien, bijak, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia telah menetapkan komitmen dalam Second NDC dan FOLU Net Sink 2030, yang menempatkan sektor kehutanan dan penggunaan lahan sebagai penyerap bersih emisi pada 2030. Dalam konteks ini, kontribusi lintas sektor, termasuk logistik, menjadi faktor penentu keberhasilan.
“Dunia usaha, termasuk sektor logistik, memiliki peran besar melalui efisiensi energi, inovasi teknologi, serta penerapan sistem pengukuran dan pelaporan emisi yang akuntabel,” katanya.
Agus juga menyebut bahwa rehabilitasi hutan dan penanaman pohon menjadi langkah konkret dalam kerangka FOLU. Hingga kini, implementasi FOLU NC-1 telah mencakup lebih dari 17 ribu hektare dengan peningkatan cadangan karbon lebih dari 34 ribu ton CO2e.
Sementara itu, Founder PT Arrakasta Nusalink Logistik Indonesia (ANL Logistics), Netty Sri Rejeki, menilai sektor logistik siap berperan dalam mendukung target iklim nasional.
“Sebagai negara kepulauan, logistik adalah nadi konektivitas nasional. Namun setiap kilometer perjalanan memiliki jejak karbon, dan di sinilah tanggung jawab kami dimulai,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa transformasi logistik tidak hanya berkaitan dengan efisiensi operasional, tetapi juga reformasi sistem melalui pengukuran jejak karbon berbasis standar internasional.
“Kami berkomitmen membangun sistem logistik yang lebih tangguh, rendah karbon, dan berdaya saing global,” tambahnya.
Dari sisi akademik, Wakil Rektor I Universitas Logistik dan Bisnis Internasional (ULBI), Agus Purnomo, menegaskan bahwa logistik hijau harus menjadi bagian dari agenda strategis pembangunan nasional.
“Transformasi menuju green logistics harus menjadi bagian integral dari kebijakan pembangunan nasional,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan transformasi tersebut.
“Kita perlu menyiapkan generasi profesional logistik yang mampu memahami keterkaitan antara kebijakan publik, inovasi teknologi, dan pengelolaan rantai pasok berkelanjutan,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi dalam mendorong standar serta indikator kinerja yang selaras dengan agenda ESG dan target penurunan emisi nasional.
Forum Green Logistics Talk diharapkan menjadi ruang dialog yang mempertemukan kebijakan, praktik industri, inovasi teknologi, dan peran organisasi profesi dalam mempercepat sistem distribusi yang efisien, rendah emisi, dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi multipihak tersebut, Indonesia berupaya memperkuat integrasi kebijakan FOLU dan transformasi industri guna mendukung pencapaian target iklim nasional sekaligus memperkuat posisi dalam ekonomi hijau global.
Kontribusinya tercermin melalui penguatan desain hijau, efisiensi energi, serta pendampingan teknis pada proyek rendah karbon.
Sekitar 40% limbah di Indonesia tergolong mismanaged waste atau tidak dikelola dengan baik, yang sebagian besar berakhir dengan dibakar secara terbuka.
Kolaborasi dengan Indonesia menjadi bukti nyata bahwa aksi iklim yang ambisius dapat berjalan seiring dengan kemajuan ekonomi.
Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim (PRKBI) merupakan salah satu pilar utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Kerja sama antara KIE dan KMI merupakan upaya bersama untuk mendorong pengelolaan karbon yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat kontribusi industri terhadap transisi energi rendah emisi.
THE Chartered Institute of Logistics and Transport (CILT) menganugerahkan Chartered Fellowship Member kepada Yukki Nugrahawan Hanafi sebagai Dewan Penasihat.
Plt. Direktur Utama CTP, Erwan Dwi Winanto, mengungkapkan pihaknya tengah fokus pada upaya integrasi tarif dengan ruas tol lain di Jakarta guna meningkatkan daya saing biaya angkut.
Perhelatan Inacraft 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) bukan sekadar ajang pameran kriya tahunan.
Sejumlah kapal yang tiba di beberapa pelabuhan harus menunggu 5-6 hari untuk dapat sandar dan melakukan bongkar muat barang.
Upaya efisiensi operasional di sektor pelayaran mulai menghasilkan dampak nyata bagi kinerja lingkungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved