Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Efisiensi Logistik Darat Bergantung pada Penguatan Data

Naufal Zuhdi
25/2/2026 08:26
Efisiensi Logistik Darat Bergantung pada Penguatan Data
ilustrasi(TransTrack)

Gangguan kecil dalam operasional logistik, seperti kendaraan yang tertahan di gudang, rute distribusi yang terhambat kemacetan, atau armada yang mengalami kerusakan mendadak, dapat terlihat sepele. Namun dalam skala industri, akumulasi kendala tersebut berpotensi memicu kerugian signifikan.

Memasuki 2026, isu efisiensi operasional semakin menjadi perhatian utama sektor logistik darat di Indonesia, seiring meningkatnya tuntutan terhadap kecepatan layanan dan transparansi informasi. Biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran 23% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dibanding sejumlah negara di kawasan. Dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga konsumen melalui harga barang yang lebih mahal serta distribusi yang kurang stabil.

Pertumbuhan e-commerce dan ekspansi industri manufaktur turut meningkatkan volume pengiriman. Namun, peningkatan aktivitas tersebut belum sepenuhnya diimbangi oleh modernisasi sistem operasional. Banyak perusahaan masih mengandalkan pelaporan manual serta koordinasi berbasis komunikasi konvensional.

Masalah seperti perjalanan tanpa muatan, kendaraan menganggur, dan konsumsi bahan bakar yang tidak terkontrol sering kali tidak terdeteksi secara akurat. Tanpa data terukur, pemborosan sulit dihitung, sementara tekanan biaya bahan bakar, tarif tol, dan suku cadang terus meningkat.

Di sisi pelanggan, ekspektasi juga berubah. Informasi posisi barang secara real-time kini menjadi standar. Ketika terjadi keterlambatan, pelanggan menuntut kejelasan penyebab serta estimasi waktu tiba yang akurat.

Pendekatan Berbasis Data

Pendekatan berbasis data mulai dipandang sebagai fondasi pengelolaan logistik modern. TransTRACK menghadirkan Fleet Management System untuk memantau armada, pengemudi, dan pengiriman dalam satu platform terintegrasi.

“Tahun 2026 menunjukkan satu kenyataan bahwa keunggulan logistik tidak lagi diukur dari jumlah armada, melainkan dari kemampuan mengendalikan data operasional secara real-time,” ujar Chief Technology Officer TransTRACK, Aris Pujud Kurniawan.

Sistem ini memungkinkan pemantauan posisi kendaraan secara langsung, pencatatan konsumsi bahan bakar, serta peringatan dini untuk kebutuhan perawatan.

“Tanpa sistem digital yang mampu memantau aktivitas armada secara real-time, perusahaan akan kesulitan mengidentifikasi sumber pemborosan yang tersembunyi,” tambahnya.

Implementasi platform ini disebut mampu menurunkan konsumsi bahan bakar hingga 25% serta meningkatkan utilisasi armada antara 15% hingga 40%. Selain itu, laporan otomatis juga mendukung kebutuhan audit dan kepatuhan regulasi.

“Metrik performa seperti biaya per perjalanan, ketepatan waktu, hingga waktu tunggu bongkar muat kini menjadi dasar objektif dalam pengambilan keputusan,” lanjutnya.

Sejumlah penerapan di lapangan menunjukkan hasil nyata. Perusahaan distribusi barang konsumsi, misalnya, berhasil meningkatkan ketepatan waktu pengiriman melalui fitur pelacakan langsung dan pengalihan rute saat terjadi kemacetan.

Di sektor angkutan industri berat, pemantauan jam mesin membantu penjadwalan perawatan tanpa mengganggu operasional produksi. Transformasi logistik darat Indonesia bergantung pada kemampuan industri memanfaatkan data. Tantangan biaya tinggi, kemacetan, dan kompleksitas distribusi tidak cukup diatasi dengan penambahan armada semata.

Optimalisasi berbasis informasi real-time dinilai menjadi strategi penting untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan daya saing di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya