Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Ketegangan AS-Israel dan Iran: Harga Energi dan Biaya Logistik Global Mulai Tertekan

Basuki Eka Purnama
01/3/2026 19:37
Ketegangan AS-Israel dan Iran: Harga Energi dan Biaya Logistik Global Mulai Tertekan
Asap mengepul di Teheran, Iran akibat serangan Amerika Serikat dan Israel ke negara tersebut.(AFP/ATTA KENARE)

SERANGAN militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang memicu retaliasi lanjutan mulai membayangi stabilitas ekonomi global. Eskalasi konflik di Timur Tengah ini diprediksi akan mengganggu jalur distribusi rantai pasok dunia dan mendorong kenaikan harga komoditas energi secara signifikan.

Dewan Penasihat CILT Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pembina ALFI, Yukki Nugrahawan Hanafi, memperingatkan bahwa operasional militer skala besar atau Major Combat Operations yang melibatkan AS, Israel, dan Iran mengancam stabilitas politik dan ekonomi dunia. 

Menurutnya, sektor logistik dan rantai pasok dipastikan akan terganggu jika perdamaian tidak segera terwujud di kawasan tersebut.

“Eskalasi konflik ini langsung menarik perhatian dunia akan gangguan rantai pasok logistik global yang bisa menekan ekonomi banyak negara. Terlebih retaliasi Iran saat ini melakukan blokade di Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi minyak dan gas utama dari Timur Tengah ke berbagai negara,” ujar Yukki.

Dampak Nyata pada Harga Komoditas

Data per Sabtu (28/2) menunjukkan dampak langsung dari ketegangan ini, di mana harga minyak mentah jenis WTI menyentuh US$67 per barel dan Brent mencapai US$72,8 per barel.

Blokade di Selat Hormuz menjadi titik kritis karena jalur ini merupakan urat nadi bagi enam negara eksportir minyak utama, yaitu Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab (UAE), Kuwait, Qatar, dan Iran sendiri. 

Jika gangguan terus berlanjut, disrupsi impor minyak akan memukul negara-negara konsumen besar di Asia, termasuk India, China, Jepang, hingga kawasan Asia Tenggara.

Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu inflasi energi, menekan daya beli masyarakat, serta menghambat tren penurunan suku bunga global yang sangat dinantikan pasar.

Ancaman Bagi Ekonomi Indonesia

Bagi Indonesia, Yukki menilai ada dua dampak jangka pendek yang perlu diwaspadai pemerintah:

  1. Beban Fiskal dan Subsidi: Sebagai negara net importir minyak, Indonesia akan menghadapi kenaikan biaya impor. Jika harga minyak dunia melampaui asumsi APBN, beban subsidi energi akan membengkak, meningkatkan defisit fiskal, dan memicu inflasi domestik serta kenaikan biaya logistik.
  2. Volatilitas Nilai Tukar: Ketidakpastian global mendorong investor mengalihkan modal ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan emas. Arus modal keluar (capital outflow) dari pasar saham dan obligasi domestik berisiko memperlemah nilai tukar Rupiah.

Kedua hal ini perlu menjadi fokus perhatian pemerintah Indonesia agar segera mengkalkulasi kesiapan dalam menghadapi berbagai skenario lanjutan dari konflik ini bila berkepanjangan,” tegas Yukki. 

Ia pun berharap stabilitas di kawasan Timur Tengah dapat segera pulih demi menjaga pertumbuhan ekonomi global yang sebelumnya sudah tertekan oleh dinamika tarif dagang global sepanjang 2025. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya