Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Dino Patti Djalal Nilai Wacana Mediasi Prabowo di Konflik Iran-AS-Israel tak Realistis

Ferdian Ananda Majni
01/3/2026 18:58
Dino Patti Djalal Nilai Wacana Mediasi Prabowo di Konflik Iran-AS-Israel tak Realistis
Presiden Prabowo Subianto (kiri).(Biro Pers Sekretariat presiden.)

MANTAN Dubes RI untuk Amerika Serikat (AS), Dino Patti Djalal, mengkritisi serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran serta menilai wacana mediasi Presiden Prabowo Subianto tidak realistis. Ia mendorong Indonesia mengambil sikap tegas sesuai prinsip politik luar negeri bebas aktif.

Dino mengaku terkejut dan prihatin atas serangan tersebut, terlebih karena terjadi pada bulan Ramadan dan menyasar negara mayoritas Muslim.

“Kita semua shock melihat serangan Amerika dan Israel terhadap Iran. Dan kita terutama prihatin karena ini serangan terhadap suatu negara Islam di bulan Ramadan," kata Dino dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, @dinopattidjalal, Minggu (1/3).

Dalam pandangannya terkait serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, Dino menilai konflik tersebut berpotensi berlangsung lama.

Ia berpandangan bahwa tujuan serangan bukan sekadar menghentikan kapasitas nuklir Iran, tetapi juga untuk menggulingkan pemerintahan di Teheran. Berbagai instrumen disebut akan digunakan, mulai dari kekuatan militer, tekanan politik dan ekonomi, hingga operasi intelijen.

"Perang ini juga akan menyeret pihak-pihak luar dan menyebarkan guncangan di luar wilayah Iran," sebutnya.

Ia menambahkan, Iran memiliki jaringan politik dan militer yang signifikan di kawasan Timur Tengah sehingga konflik berpotensi meluas. Menurut Dino, sekalipun terjadi pergantian pemerintahan di Teheran, hal itu tidak otomatis membenarkan aksi militer dari sisi moral maupun hukum internasional.

Dalam poin berikutnya, Dino menegaskan bahwa Iran merupakan pihak yang diserang, bukan pihak yang menyerang. Ia menilai kegagalan perundingan tidak dapat dijadikan alasan pembenaran penggunaan kekuatan militer.

Dino juga menyinggung peran Oman sebagai mediator yang sebelumnya menyatakan adanya kemajuan signifikan dalam perundingan antara Washington dan Teheran.

Ia memperingatkan bahwa pendekatan penyelesaian konflik melalui kekuatan militer berisiko mengganggu stabilitas dan perdamaian internasional

Dino turut menanggapi pernyataan pemerintah yang menyebut Presiden RI Prabowo Subianto siap terbang ke Teheran untuk menjadi penengah konflik. Sebagai akademisi dan diplomat senior, ia mempertanyakan realisme gagasan tersebut.

"Dan ini secara politik, diplomatik dan juga logistik, tidak mungkin terjadi. Ini akan menjadi political suicide atau bunuh diri politik bagi Presiden Prabowo di dalam negeri," ujarnya.

"Saya sunggu tidak tahu, darimana datangnya ide yang menakjubkan ini, agar Presiden Prabowo terbang ke Taheran untuk menjadi mediator konflik segitiga ini," paparnya.

"Ini tidak realistis dan tidak akan mungkin terjadi. Kita harus jujur mengenai hal ini," ucapnya.

Menurut Dino, Amerika Serikat jarang bersedia dimediasi pihak ketiga dalam situasi serangan militer. Ia juga menilai belum terdapat tingkat kedekatan atau kepercayaan yang memadai antara Pemerintah Indonesia saat ini dengan Iran untuk memediasi konflik sebesar itu.

"Ego AS sebagai negara superpower terlalu tinggi untuk menerima itu," sebutnya.

Selain itu, ia menilai kecil kemungkinan Presiden AS Donald Trump atau Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bersedia terlibat dalam skema mediasi di Teheran.

Dino juga menyebut bahwa upaya mediasi akan mengharuskan adanya pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menurutnya sangat sulit secara politik dan diplomatik.

"Presiden Trump kali ini tidak mau Indonesia ikut campur, karena moodnya pada saat ini sedang gelap mata untuk menumbangkan pemerintah Iran," lanjutnya

Alih-alih mencari peran sebagai mediator, Dino mendorong Indonesia untuk menegaskan posisi secara lugas dan konsisten dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif serta komitmen terhadap hukum internasional.

"Menurut saya yang paling penting bagi Indonesia bukan mencari peran sebagai juru damai dalam konflik ini karena ini tidak realistis tapi justru untuk menegaskan posisi Indonesia secara jelas, secara tegas dan secara lugas. Kita harus berani menyatakan apa yang benar-benar dan apa yang salah-salah apapun risikonya," tuturnya.

Menurut Dino, langkah tersebut penting untuk menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang berprinsip dan tidak mudah dipandang remeh oleh negara adidaya.

Ia bahkan menyarankan agar Presiden Prabowo mempertimbangkan menulis surat kepada Presiden Trump untuk menangguhkan pengiriman pasukan perdamaian Indonesia dalam International Stabilization Force (ISF) di Gaza, sembari mengkaji perkembangan situasi di Timur Tengah.

"Kita tidak ingin misi perdamaian Indonesia menyimpang dari mandat ISF, meskipun tidak disengajai," ucapnya.

Indonesia harus menghindari risiko, pasukan Indonesia terjebak dalam komplikasi, yang mungkin timbul dari konflik segita AS-Israel dan Iran yang masih akan terus berkembang.

"Pikirkan secara matang-matang dan seksama, validasi sejarah jauh lebih penting daripada validasi dari Gedung Putih,” pungkasnya. (Fer/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya