Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
TRANSFORMASI menuju ekonomi rendah karbon menjadi prioritas bagi banyak perusahaan di Indonesia. Salah satu yang menegaskan komitmen seriusnya adalah TBS Energi Utama Tbk (TBS), yang tengah memperluas portofolionya ke sektor pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular melalui acara TBS Re/Define.
Sesi diskusi bertajuk Building a Circular Future yang menjadi bagian dari kegiatan tersebut dihadiri oleh para pelaku industri, investor, akademisi, dan pembuat kebijakan, serta menjadi wadah dialog strategis tentang masa depan pengelolaan limbah di Indonesia.
SVP Corporate Strategy TBS Nafi Sentausa mengungkapkan TBS mengembangkan portofolio bisnis pengelolaan limbah melalui kemitraan lintas sektor untuk menciptakan solusi yang terintegrasi.
"Strategi ini untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan dan profitabilitas. Kami berkomitmen untuk menjadi perusahaan karbon netral pada 2030," ujarnya dalam keterangan resmi.
Dalam diskusi tersebut, Gundy Cahyadi, Research Director Prasasti Center for Policy Studies menyoroti kompleksitas permasalahan limbah di Indonesia yang terus meningkat setiap tahun. Menurutnya, ada tiga faktor utama yang menyebabkan growing waste problem di Tanah Air.
Pertama, karena pertumbuhan populasi yang terus meningkat. Kedua, perubahan pola konsumsi masyarakat yang cenderung ke produk fast fashion dan makanan dengan kemasan berlebih.
"Dan ketiga, infrastruktur pengelolaan limbah di Indonesia masih sangat kurang,” ujar Gundy.
Ia menambahkan, sekitar 40% limbah di Indonesia tergolong mismanaged waste atau tidak dikelola dengan baik, yang sebagian besar berakhir dengan dibakar secara terbuka. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan polusi udara dan bau tidak sedap, tetapi juga berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat dan perubahan iklim.
Namun di tengah tantangan tersebut, Gundy melihat tren positif semakin banyak perusahaan mulai melirik sektor pengelolaan limbah sebagai peluang bisnis baru.
"Yang menarik adalah semakin banyak perusahaan yang masuk ke sektor ini, termasuk TBS yang melakukan beberapa akuisisi strategis dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya.
Langkah TBS memperluas portofolio bisnis ke pengelolaan limbah merupakan bagian dari upaya diversifikasi perusahaan dari energi konvensional menuju model bisnis hijau. Strategi ini melengkapi portofolio keberlanjutan TBS yang juga mencakup energi terbarukan, kendaraan listrik, dan pengelolaan limbah industri.
Diperlukan dukungan kebijakan dan investasi
Meski peluang sektor ini terbuka lebar, Gundy menekankan pentingnya dukungan kebijakan yang lebih kuat dari pemerintah. Ia menilai, kebijakan makroekonomi dan regulasi menjadi penentu arah pertumbuhan industri pengelolaan limbah di Indonesia.
"Advokasi kebijakan diperlukan untuk memperkuat regulasi dan meningkatkan kesadaran publik terhadap urgensi pengelolaan limbah," tegasnya.
Keterlibatan investor juga menjadi faktor kunci dalam mempercepat pembangunan infrastruktur sirkular. Model public-private partnership (PPP) dinilai mampu menjembatani kesenjangan pendanaan untuk proyek pengelolaan limbah yang membutuhkan investasi awal besar.
Dalam konteks ini, TBS memposisikan dirinya sebagai mitra strategis bagi sektor publik dan swasta dengan mengintegrasikan pendekatan bisnis dan keberlanjutan. Melalui kolaborasi lintas sektor, TBS berharap dapat menciptakan solusi yang tidak hanya efisien secara ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat lingkungan jangka panjang. (E-1)
Kontribusinya tercermin melalui penguatan desain hijau, efisiensi energi, serta pendampingan teknis pada proyek rendah karbon.
Kolaborasi dengan Indonesia menjadi bukti nyata bahwa aksi iklim yang ambisius dapat berjalan seiring dengan kemajuan ekonomi.
Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim (PRKBI) merupakan salah satu pilar utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Kerja sama antara KIE dan KMI merupakan upaya bersama untuk mendorong pengelolaan karbon yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat kontribusi industri terhadap transisi energi rendah emisi.
Industri jasa keuangan dan para pelaku di dalamnya memegang peranan penting dalam mendukung pencapaian ekonomi rendah karbon, atau ekonomi hijau.
Pengelolaan limbah Harita Nickel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, dinilai dijalankan dengan standar tinggi serta memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
“Harus ada IPAL, dari setiap pabrik atau pengelola katering harus diolah sehingga air yang keluar ke selokan itu sudah bersih,”
ASOSIASI Pengusaha Pengelola Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Aspel B3) Indonesia melantik pengurus baru di Batam, Kepulauan Riau.
Kelola limbah organik dengan bijak! Daur ulang jadi kompos, energi, atau pakan ternak. Solusi ramah lingkungan untuk bumi lestari.
Prosedur pembuangan limbah dilakukan dengan cermat setiap malam hingga pagi, tanpa terkecuali.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved