Headline
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Kumpulan Berita DPR RI
ILMUWAN menemukan indikator baru yang dapat memicu fenomena El Niño menjadi lebih destruktif. Penelitian terbaru menunjukkan pola kadar garam (salinitas) laut di Samudra Pasifik Barat pada musim semi bertindak sebagai "booster" yang memperkuat intensitas El Niño yang akan datang.
Pola iklim Pasifik ini memiliki dampak global yang masif, mulai dari memicu banjir bandang di satu wilayah hingga kekeringan ekstrem di wilayah lain. Dengan mengidentifikasi sinyal salinitas ini bulan-bulan sebelum pemanasan puncak dimulai, para ahli berharap dapat memberikan peringatan dini yang lebih akurat.
Shineng Hu dari Duke University, melalui analisis data laut jangka panjang, mendemonstrasikan perubahan salinitas pada musim semi mendahului dan mengintensifkan pemanasan suhu laut. Pola yang berulang menunjukkan adanya air yang lebih tawar di khatulistiwa yang diapit oleh pita air yang lebih asin.
Perbedaan kadar garam ini secara halus mengubah kemiringan permukaan laut. Akibatnya, arus laut terdorong ke arah timur jauh sebelum suhu di Pasifik tengah melonjak.
"Arus laut dapat mengangkut air asin atau tawar ini dan mendistribusikan kembali salinitas samudra," jelas Hu.
Kadar garam memengaruhi berat air; air yang lebih asin bersifat lebih padat dan berat, sehingga menciptakan kemiringan permukaan laut yang mengarahkan aliran air hangat menuju Amerika, memperkuat siklus El Niño.
Untuk memastikan ini bukan sekadar kebetulan, tim peneliti menggunakan simulasi komputer. Mereka menyesuaikan kekuatan pola salinitas musim semi sambil membiarkan sistem iklim Pasifik lainnya berkembang secara alami.
"Pada dasarnya, kami menggunakan model untuk melihat apakah pola salinitas tertentu yang kami identifikasi dapat mengubah kondisi El Niño," kata Shizuo Liu, peneliti pascadoktoral di Duke University.
Hasilnya mengejutkan. Ketika simulasi dimulai dengan pola garam tersebut, El Niño tumbuh sekitar 20% lebih kuat, dan peluang terjadinya peristiwa ekstrem hampir berlipat ganda. Hal ini krusial karena El Niño yang lebih kuat berkaitan erat dengan gagal panen dan bencana alam yang lebih parah.
Meskipun satelit saat ini sudah mampu memetakan salinitas dari orbit, pengukurannya sering kali terlambat atau tidak merata karena terkendala awan dan laut yang bergolak. Selain itu, banyak model iklim saat ini yang masih menganggap remeh faktor kadar garam dan lebih fokus pada suhu dan angin.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters ini menekankan memasukkan faktor salinitas ke dalam pemodelan iklim sangat penting. Dengan pemantauan salinitas yang lebih konsisten dan perbaikan fisika model, peringatan dini bencana iklim dapat dipertajam, terutama di tengah kondisi dunia yang kian memanas. (Earth/Z-2)
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Studi terbaru mengungkap sejak 2015, Antartika telah kehilangan es laut seluas Greenland dan mengalami peningkatan kadar garam di laut permukaan.
Peneliti ETH Zurich temukan emisi gas rumah kaca dari danau hitam Kongo berasal dari gambut purba ribuan tahun.
Bencana longsor dan banjir melanda Minas Gerais, Brasil. 30 orang tewas dan 39 lainnya masih hilang di bawah puing-puing bangunan.
Peneliti Cornell University merilis peta global yang mengungkap 70% emisi lahan pertanian berasal dari sawah padi dan pengeringan lahan gambut.
Robot bawah laut otonom Mako diuji di Great Barrier Reef untuk menanam benih lamun secara presisi. Teknologi ini diklaim mampu mempercepat restorasi.
Ilmuwan temukan fakta mengejutkan dari fosil telinga ikan: rantai makanan terumbu karang menyusut drastis akibat aktivitas manusia. Simak dampaknya!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved