Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
BUMI diperkirakan akan melampaui ambang batas pemanasan global 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri dalam waktu kurang dari satu dekade, menurut laporan terbaru United Nations Environment Programme (UNEP) yang dirilis Selasa (4/11).
Dalam Laporan Emissions Gap 2025, UNEP menegaskan untuk menjaga suhu global tetap di bawah batas tersebut, dunia harus memangkas emisi gas rumah kaca hingga 55% dari tingkat tahun 2019 pada 2035. Namun, upaya yang dilakukan negara-negara saat ini dinilai jauh dari memadai, sehingga hampir tidak ada peluang target itu tercapai.
“Melihat besarnya pemangkasan yang dibutuhkan, waktu yang sangat terbatas, dan situasi politik yang sulit, kenaikan suhu di atas 1,5°C hampir pasti akan terjadi dalam dekade mendatang,” tulis perwakilan UNEP dalam laporan tersebut.
Komitmen untuk membatasi kenaikan suhu global di bawah 1,5°C, dan tidak melebihi 2°C, sebelumnya telah disepakati dalam Perjanjian Paris 2015. Target ini ditetapkan berdasarkan kajian ilmiah yang menunjukkan bahwa setiap kenaikan suhu kecil dapat memperburuk bencana iklim seperti kebakaran hutan, kekeringan, dan gelombang panas ekstrem.
Menurut Kirsten Zickfeld, profesor ilmu iklim di Simon Fraser University, Kanada, manusia masih dapat beradaptasi dengan dampak pemanasan 1,5°C. Namun, “kenaikan di atas itu sangat berbahaya, terutama bagi negara berkembang dan negara kepulauan kecil,” ujarnya.
Dampak kenaikan suhu 2°C akan jauh lebih parah dibanding 1,5°C. Populasi global yang terpapar panas ekstrem bisa meningkat dua kali lipat, es laut di Arktik akan mencair setiap 10 tahun sekali (dibanding 100 tahun pada 1,5°C), terumbu karang bisa rusak hingga 29% lebih parah, dan lapisan permafrost yang mencair bisa meningkat 38%.
Untuk menahan pemanasan di bawah 2°C, dunia perlu memangkas emisi 35% pada 2035. Namun, komitmen iklim negara-negara saat ini justru mengarahkan dunia menuju kenaikan suhu 2,3°C hingga 2,5°C, bahkan bisa mencapai 2,8°C pada tahun 2100 jika tidak ada perubahan kebijakan besar.
Meski begitu, laporan tahun ini sedikit lebih positif dibanding tahun lalu, yang memperkirakan pemanasan bisa mencapai 3,1°C. Namun UNEP menegaskan penurunan kecil itu sebagian besar karena perbaikan metodologi, bukan peningkatan nyata dalam aksi iklim global.(Live Science/Z-2)
Industri minyak dan gas (migas) global kini berada di bawah mikroskop regulasi lingkungan yang semakin ketat, terutama terkait emisi gas rumah kaca.
Gagasan bahwa suatu hari Bumi akan memiliki 25 jam dalam sehari bukanlah mitos. Secara ilmiah, hal itu memungkinkan.
LINGKUNGAN binaan masih menjadi kontributor utama konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca.
INDONESIA menegaskan komitmennya terhadap penurunan emisi gas rumah kaca melalui pengajuan Second Nationally Determined Contribution (Second NDC) kepada Sekretariat UNFCCC.
Penerapan ekonomi sirkular dapat menurunkan emisi gas rumah kaca, sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi secara signifikan pada 2035.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved