Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Panas Perkotaan dan Ancaman Stres Termal di Kota-Kota Tropis

Insi Nantika Jelita
15/12/2025 20:38
Panas Perkotaan dan Ancaman Stres Termal di Kota-Kota Tropis
Ilustrasi(Dok Tata Logam)

LINGKUNGAN binaan masih menjadi kontributor utama konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca. Terutama di kota-kota beriklim panas dan lembap yang berkembang pesat, akibat kepadatan bangunan, minimnya ventilasi alami, dominasi material penyerap panas, serta keterbatasan ruang hijau dan badan air. 

Kondisi tersebut memicu fenomena pulau panas perkotaan, yakni suhu kawasan urban tetap lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya, khususnya pada malam hari ketika panas tersimpan dilepaskan secara perlahan. 

Di kota-kota tropis seperti Indonesia, kombinasi suhu tinggi, kelembapan ekstrem, angin yang lemah, dan radiasi matahari intens secara signifikan menurunkan kenyamanan termal luar ruang dan meningkatkan risiko stres panas, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. 

Seiring proyeksi perubahan iklim yang semakin memperparah kondisi tersebut, para ahli menekankan perlunya pendekatan pendinginan kota yang terpadu, hemat energi, dan berbasis alam melalui penguatan jaringan hijau dan biru, penggunaan material reflektif dan permeabel, ventilasi pasif, pengaturan morfologi kota, serta desain bangunan yang responsif terhadap iklim guna menekan beban panas sekaligus mengurangi konsumsi energi.

Ketua Asosiasi Rumah Modular Indonesia (ARMI) Nicolas Kesuma menyampaikan, metode konstruksi rumah modular dapat menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif dan memfasilitasi pertumbuhan ekonomi. Metode ini juga mampu memastikan keberlanjutan serta tanggung jawab sosial dan lingkungan. 

Metode ini mengadopsi teknologi produksi yang lebih bersih dan ramah lingkungan termasuk penggunaan energi terbarukan, pengelolaan limbah lebih baik dan pengurangan emisi. 

"Sehingga, dapat mengurangi dampak negatif industri terhadap lingkungan,” terang Nicolas dalam keterangannya di acara International Symposium and Workshop on Sustainable Buildings, Cities, and Communities (SBCC) 2025 di Jakarta, Senin (15/12).

Menurut dia, perakitan jenis bangunan dari bagian-bagian (modul-modul) juga tidak menimbulkan dampak apapun terhadap lingkungan. Sebab, setelah diproduksi di pabrik, kemudian diangkut ke lokasi konstruksi untuk dipasang menjadi bangunan lengkap.

Saat ini, kata Nicolas, modular housing dianggap menjadi solusi karena memiliki lima karakter konstruksi yang dibutuhkan industri sesuai tuntutan global. Kelima karakter itu adalah pengerjaan konstrusksi bangunan lebih cepat, kontrol kualitas bangunan terjamin, design lebih fleksibel, hemat biaya, dan ramah lingkungan.

SBCC 2025 digelar sebagai forum pertukaran pengetahuan, riset, dan praktik inovatif dalam menjawab tantangan iklim global dan lokal. SBCC 2025 merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Universitas Pendidikan Indonesia melalui University Center of Excellence for Low Carbon Building Materials and Energy (PUU MEB) dalam mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan lingkungan binaan yang rendah karbon, tangguh, dan layak huni. 

Kegiatan ini diselenggarakan oleh PUU MEB bekerja sama dengan BeCool Indonesia dan TataLogam Group, Inc, dengan melibatkan akademisi, organisasi profesi, instansi pemerintah, pelaku industri, serta arsitek terkemuka, termasuk pengembang teknologi atap sejuk dan rumah sejuk. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik