Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
LAUTAN di seluruh dunia menyerap lebih banyak panas pada 2025 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejak pengukuran modern dimulai sekitar tahun 1960. Menurut analisis terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Advances in Atmospheric Science, fenomena ini menjadi indikator kuat betapa cepatnya perubahan iklim terjadi.
Lautan berperan krusial dalam menyeimbangkan suhu bumi dengan menyerap lebih dari 90% kelebihan panas yang terperangkap di atmosfer akibat emisi gas rumah kaca. Namun, akumulasi panas yang terus meningkat membuat lautan kini berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan.
Para ilmuwan mengukur kandungan panas laut dalam satuan zettajoule. Hasil studi dari berbagai lembaga kredibel, termasuk NOAA dan Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, menunjukkan lautan menyerap tambahan 23 zettajoule energi panas pada 2025. Angka ini melonjak drastis dibandingkan penyerapan tahun 2024 yang sebesar 16 zettajoule.
Untuk memberi gambaran betapa besarnya energi tersebut, John Abraham, profesor di University of St. Thomas sekaligus salah satu penulis studi ini, memberikan perumpamaan yang mencengangkan kepada Wired.
"Tahun lalu adalah tahun pemanasan yang sangat gila," kata John Abraham.
Energi sebesar 23 zettajoule dalam satu tahun setara dengan ledakan 12 bom atom Hiroshima di dalam lautan setiap detiknya. Lonjakan ini menandai rekor panas laut selama sembilan tahun berturut-turut, urutan rekor terpanjang yang pernah tercatat dalam sejarah.
Kenaikan suhu laut bukan sekadar angka di atas kertas. Lautan yang lebih panas secara langsung memengaruhi frekuensi dan intensitas gelombang panas laut, mengubah sirkulasi atmosfer, dan mengacaukan pola curah hujan global.
Suhu air yang panas menjadi "bahan bakar" bagi badai tropis yang lebih merusak. Sepanjang tahun lalu, pemanasan global diduga kuat menjadi pemicu dampak destruktif dari Badai Melissa di Jamaika dan Kuba, hujan monsun ekstrem di Pakistan, hingga banjir besar di Lembah Mississippi Tengah.
Dalam laporan tersebut, para peneliti menegaskan bahwa hasil ini adalah bukti nyata adanya ketidakseimbangan sistem iklim bumi.
"Pemanasan laut terus memberikan dampak yang mendalam pada sistem Bumi," tulis para penulis dalam studi tersebut.
Wilayah lautan yang mencatat suhu terpanas pada 2025 meliputi Atlantik tropis dan selatan, Laut Mediterania, Samudra Hindia bagian utara, serta Samudra Selatan. Kondisi ini memperingatkan dunia selama emisi gas rumah kaca tidak ditekan, lautan akan terus menyimpan "bom waktu" energi yang mengancam stabilitas cuaca di daratan. (Live Science/Z-2)
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi cincin pohon pinus di Spanyol mengungkap anomali cuaca paling ekstrem sejak 1500-an. Ketidakstabilan curah hujan kini mencapai titik kritis.
Analisis mendalam Avatar: Fire and Ash sebagai metafora krisis iklim. Menghubungkan 'Bangsa Abu' dengan data kebakaran hutan global 2025-2026.
Cuaca 2026 semakin tak menentu. Simak panduan medis menjaga imunitas tubuh, mencegah penyakit pancaroba, dan tips menghadapi gelombang panas (heatwave).
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
Analisis global terhadap 31.000 spesies pohon mengungkap tren mengkhawatirkan: spesies pohon yang tumbuh lambat mulai punah, digantikan pohon cepat tumbuh yang rapuh.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Meski perubahan iklim mengancam es laut, beruang kutub di Svalbard justru ditemukan lebih sehat dan gemuk. Apa rahasianya?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved