Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA beberapa dekade terakhir, Bumi menghadapi lonjakan suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Lapisan es di Kutub Utara mencair dengan cepat, gelombang panas melanda berbagai benua, dan pola cuaca ekstrem semakin sering muncul.
Semua ini membuat orang-orang menjadi waspada. Apakah pemanasan global yang kita alami saat ini bisa membawa konsekuensi yang tak terduga bagi masa depan planet ini?
Pada awal 1970-an, serangkaian musim dingin ekstrem sempat membuat sejumlah ilmuwan menduga Bumi sedang menuju zaman es baru. Namun, di penghujung dekade itu, keadaan justru berbalik, suhu global meningkat. Sejak saat itu, pemerintah dan kelompok lingkungan di berbagai negara mulai gencar menekan emisi karbon untuk membalikkan pemanasan global.
Di tengah upaya tersebut, muncul pertanyaan baru: apakah pemanasan global sebenarnya menahan kita dari memasuki zaman es berikutnya? Dan jika tren ini berhasil dibalik, mungkinkah Bumi justru kembali membeku?
Sepanjang sejarah geologinya, Bumi mengalami perubahan ekstrem antara masa panas dan masa dingin. Faktor seperti perubahan orbit terhadap Matahari, pergeseran arus laut, hingga variasi komposisi atmosfer berperan besar dalam mengatur suhu global.
Zaman es terakhir berakhir sekitar 12.000 tahun lalu, menandai dimulainya periode interglasial. Namun peningkatan gas rumah kaca akibat aktivitas manusia membuat suhu Bumi naik jauh lebih cepat dibanding siklus alami sebelumnya.
Sebagian ilmuwan berpendapat pemanasan global dapat menunda pendinginan besar berikutnya. Panas yang terperangkap di atmosfer berfungsi layaknya selimut, menjaga agar Bumi tidak kembali membeku.
Namun teori lain justru menyebutkan sebaliknya: pemanasan ekstrem bisa mengganggu sirkulasi laut, khususnya Arus Teluk (Gulf Stream) yang berperan menghangatkan wilayah Eropa. Ketika es di Kutub Utara mencair, air tawar yang mengalir ke Samudra Atlantik Utara dapat memperlambat arus tersebut.
Penelitian menunjukkan arus ini telah melemah sekitar 30% dibanding masa lalu. Jika terus menurun, Eropa berpotensi mengalami penurunan suhu ekstrem, semacam “zaman es mini” yang bersifat lokal.
Sejumlah ilmuwan kini menyoroti potensi geoengineering, sebuah rekayasa iklim berskala besar sebagai cara untuk mengurangi pemanasan global. Salah satu metode yang banyak dibahas adalah Solar Radiation Management (SRM), yakni penyemprotan partikel ke atmosfer agar sebagian cahaya Matahari dipantulkan kembali ke luar angkasa.
Meski terdengar menjanjikan, para peneliti memperingatkan bahwa tanpa pengawasan ketat, SRM dapat menyebabkan “overcooling” atau pendinginan ekstrem di beberapa wilayah, menyerupai zaman es buatan manusia. Efek lain yang dikhawatirkan adalah terganggunya pola hujan dan sirkulasi laut.
Hingga kini, para ahli belum mencapai kesepakatan pasti mengenai apakah membalikkan pemanasan global benar-benar dapat memicu zaman es baru. Studi dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menegaskan perubahan iklim yang terjadi saat ini tidak akan pulih dalam waktu singkat.
Dengan kata lain, sekalipun manusia berhasil menekan emisi karbon, kemungkinan Bumi kembali membeku masih sangat jauh. Ribuan tahun dari sekarang, bukan dalam masa hidup generasi kita saat ini. (How Stuff Works/Swiss Re/Z-2)
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Meski perubahan iklim mengancam es laut, beruang kutub di Svalbard justru ditemukan lebih sehat dan gemuk. Apa rahasianya?
Di tengah krisis iklim yang kian nyata, arah kebijakan negara disebut belum beranjak dari pendekatan lama yang justru memperparah kerusakan lingkungan.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi terbaru mengungkap kanguru raksasa purba ternyata mampu melompat dalam durasi singkat untuk menghindari predator, mematahkan teori sebelumnya.
Peneliti berhasil merekonstruksi DNA badak berbulu dari jaringan di perut serigala Siberia. Temuan ini mengungkap penyebab mengejutkan di balik kepunahan mereka.
Penemuan tengkorak kuda zaman es dalam kondisi utuh di wilayah tambang beku Klondike, Yukon, Kanada, menarik perhatian para ilmuwan dan publik.
Penelitian terbaru menemukan kemiringan Bumi terhadap Matahari mengontrol pergerakan lapisan es selama 800.000 tahun terakhir, menentukan awal dan akhir delapan zaman es.
Peneliti menemukan bentuk lahan besar di Laut Utara yang menunjukkan lapisan es raksasa yang menutupi wilayah tersebut sekitar satu juta tahun lalu pada pertengahan Zaman Es.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved