Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Rahasia Kematian Badak Berbulu Terungkap dari Perut Serigala Purba

Thalatie K Yani
19/1/2026 09:26
Rahasia Kematian Badak Berbulu Terungkap dari Perut Serigala Purba
Ilustrasi(earth)

SEBUAH penemuan luar biasa muncul dari sisa jaringan tubuh yang tersimpan selama ribuan tahun di dalam perut serigala purba. Temuan ini memberikan pandangan baru yang langka mengenai hari-hari terakhir badak berbulu (woolly rhinoceros) sebelum dinyatakan punah dari muka bumi.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Genome Biology and Evolution ini dilakukan para ilmuwan dari Center for Palaeogenetics, sebuah kolaborasi antara Universitas Stockholm dan Museum Sejarah Alam Swedia. Hasilnya mengejutkan, alih-alih mengalami kemunduran genetik yang lambat, badak berbulu ternyata tetap sehat dan stabil hingga saat-saat terakhirnya. Hal ini mengindikasikan bahwa kepunahan mereka terjadi secara mendadak, bukan karena proses penurunan populasi yang panjang.

Temuan Unik di Dalam Permafrost

Kisah ini bermula di lapisan tanah beku (permafrost) dekat desa Tumat, timur laut Siberia. Di sana, para ilmuwan menemukan bangkai serigala beku yang di dalam perutnya terdapat potongan jaringan tubuh yang masih terawetkan. Melalui penanggalan radiokarbon, jaringan tersebut diketahui berusia sekitar 14.400 tahun.

Analisis DNA kemudian mengonfirmasi jaringan itu milik seekor badak berbulu (Coelodonta antiquitatis). Ini merupakan salah satu sampel badak berbulu termuda yang pernah diidentifikasi, menjadikannya kunci penting untuk memahami akhir dari spesies tersebut.

“Mengurutkan seluruh genom hewan Zaman Es yang ditemukan di dalam perut hewan lain belum pernah dilakukan sebelumnya,” ujar Camilo Chacón-Duque, penulis senior penelitian ini.

Stabil Hingga Akhir

Para peneliti membandingkan genom ini dengan dua genom badak berbulu lainnya yang lebih tua, yakni dari individu yang hidup 18.000 dan 49.000 tahun lalu. Biasanya, spesies yang menuju kepunahan akan menunjukkan tanda-tanda perkawinan sedarah (inbreeding) dan penurunan keragaman genetik. Namun, data menunjukkan hal yang berbeda.

“Analisis kami menunjukkan pola genetik yang mengejutkan stabil, tanpa ada perubahan tingkat perkawinan sedarah selama puluhan ribu tahun sebelum kepunahan badak berbulu,” kata Edana Lord, mantan peneliti pascadoktoral di Center for Palaeogenetics.

Kondisi genetik yang sehat ini menggeser spekulasi penyebab kepunahan. Jika badak berbulu mampu bertahan selama 15.000 tahun berdampingan dengan manusia di Siberia, maka perburuan oleh manusia kemungkinan besar bukan penyebab utamanya.

Iklim Sebagai Tersangka Utama

Para peneliti kini lebih menyoroti faktor eksternal yang masif, yaitu pemanasan global ekstrem di akhir Zaman Es.

“Hasil kami menunjukkan bahwa badak berbulu memiliki populasi yang layak selama 15.000 tahun setelah manusia pertama tiba di timur laut Siberia, yang menunjukkan pemanasan iklim, dan bukan perburuan manusia, yang menyebabkan kepunahan,” tegas Love Dalén, Profesor Genomik Evolusioner.

Pesan mendalam dari temuan ini adalah bahwa kepunahan tidak selalu berupa proses yang lambat. Terkadang, sebuah spesies bisa tampak sangat stabil, namun kemudian menghilang seketika saat habitat mereka runtuh lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk beradaptasi. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya