Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
JAUH sebelum gedung-gedung mewah dan wisatawan memadati pesisir Seychelles, pantai-pantai di kepulauan ini dikuasai oleh predator raksasa. Para pelaut awal sering menggambarkan pemandangan reptil besar yang beristirahat di pasir pantai atau berenang di perairan dangkal. Namun, sejak awal abad ke-19, keberadaan mereka lenyap tanpa jejak.
Kini, sebuah studi genetik terbaru dari Universität Potsdam berhasil memecahkan misteri dari mana hewan-hewan ini berasal dan bagaimana perjalanan lintas samudra membentuk kehidupan di pulau-pulau terpencil.
Sekitar 250 tahun lalu, sebelum manusia menetap secara permanen, buaya menggunakan hutan bakau dan laguna di Seychelles sebagai tempat berburu. Namun, kedatangan manusia pada 1770 mengubah segalanya. Konflik antara manusia dan predator besar pun tak terelakkan.
Hanya dalam kurun waktu 50 tahun sejak pemukiman pertama berdiri, populasi buaya musnah akibat perburuan intensif. Pada 1819, tidak ada lagi buaya hidup yang tersisa di Seychelles, menyisakan hanya beberapa tengkorak di koleksi museum.
Selama beberapa dekade, ilmuwan berdebat apakah buaya ini merupakan spesies unik Seychelles atau bagian dari kelompok global. Para peneliti kemudian mengekstrak DNA dari tengkorak museum yang berusia lebih dari seratus tahun menggunakan teknik canggih.
Hasilnya menunjukkan bahwa buaya Seychelles adalah spesies buaya muara (Crocodylus porosus). Tidak ditemukan bukti genetik yang mendukung teori adanya spesies pulau yang terpisah.
"Nenek moyang populasi Seychelles pasti telah hanyut setidaknya 3.000 kilometer melintasi Samudra Hindia untuk mencapai kepulauan terpencil tersebut, bahkan mungkin jauh lebih jauh lagi," ungkap Frank Glaw dari Bavarian State Collections of Natural History (SNSB).
Bagaimana reptil ini bisa menyeberangi lautan luas? Buaya muara memiliki kelenjar garam khusus untuk membuang kelebihan garam dari darah, memungkinkan mereka bertahan lama di air laut. Ditambah dengan tubuh yang kuat dan ekor berotot, mereka memanfaatkan arus samudra untuk bermigrasi lintas benua.
Bukti genetik mengungkapkan perjalanan samudra ini terjadi berkali-kali selama jutaan tahun. Pola haplotipe menunjukkan hubungan kuat antara populasi di Australia, Asia Tenggara, dan kepulauan Pasifik. Sebelum punah di Seychelles, jangkauan spesies ini membentang lebih dari 12.000 kilometer dari Pasifik hingga bagian barat Samudra Hindia.
Kehilangan buaya Seychelles menjadi pengingat nyata akan dampak kedatangan manusia terhadap satwa liar asli pulau. Penelitian ini juga menantang ide lama tentang pembagian subspesies buaya, menunjukkan perlindungan harus difokuskan pada populasi regional daripada sekadar label ilmiah.
Meskipun kini tak ada lagi buaya di Seychelles, ilmu pengetahuan telah berhasil menyusun kembali bab penting dalam sejarah alam kepulauan tersebut. Lautan dan reptil perkasa ini pernah membentuk ekosistem pulau dengan cara yang baru sekarang bisa kita pahami sepenuhnya.
Studi mendalam ini telah diterbitkan dalam jurnal Royal Society Open Science. (Earth/Z-2)
Keberadaan seekor buaya muara berukuran raksasa di area persawahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, akhirnya menemukan titik terang
BUAYA muara terus kedapatan memasuki area permukiman warga yang terdampak banjir di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Upaya evakuasi puluhan ekor buaya yang masih ada di dalam kolam pun dipandang perlu segera dilakukan untuk mengantisipasi tak terulang lepasnya kawanan satwa buas dilindungi tersebut.
WARGA Kelurahan Gebang Kecamatan Sidoarjo Kabupaten Sidoarjo, kembali dikejutkan dengan munculnya sejumlah buaya muara di sekitar sungai.
SEEKOR buaya muara menyerang warga Teluk Bayur, Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Buaya sepanjang 3 meter tersebut lalu ditangkap warga. Beruntung tidak ada korban jiwa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved