Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Fosil yang Dikira Mammoth Ternyata Paus, Terungkap Setelah 70 Tahun

Muhammad Ghifari A
25/1/2026 08:26
Fosil yang Dikira Mammoth Ternyata Paus, Terungkap Setelah 70 Tahun
Photographs of the two epiphyseal plates, showing the underside and upper surface of each.(University of Alaska Museum of the North)

TULANG punggung fosil yang selama puluhan tahun diyakini sebagai milik mammoth berbulu ternyata berasal dari hewan yang sama sekali berbeda dan tak terduga.

Fosil tersebut pertama kali ditemukan arkeolog Otto Geist tahun 1951 dalam sebuah ekspedisi di pedalaman Alaska, tepatnya di utara Fairbanks, wilayah prasejarah yang dikenal sebagai Beringia. Temuan itu berupa dua lempeng epifisis dari tulang belakang mamalia berukuran sangat besar.

Berdasarkan lokasi penemuan dan ukuran tulangnya, Geist mengidentifikasikan fosil tersebut sebagai mammoth berbulu (Mammuthus primigenius). Penafsiran ini dianggap wajar, mengingat sisa-sisa megafauna dari akhir Zaman Pleistosen memang umum ditemukan di wilayah tersebut, dan ukuran tulang belakangnya setara dengan gajah.

Tulang-tulang itu kemudian disimpan dan diarsipkan di Museum of the North, Universitas Alaska, selama lebih dari 70 tahun tanpa penelitian lanjutan.

Terlalu Muda untuk Mammoth

Melalui program Adopt-a-Mammoth, museum akhirnya dapat melakukan penanggalan radiokarbon terhadap fosil tersebut. Namun, hasilnya justru memunculkan teka-teki baru.

Analisis isotop karbon menunjukkan usia fosil hanya sekitar 2.000-3.000 tahun, jauh lebih muda dari mammoth berbulu. Spesies yang diyakini telah punah sekitar 13.000 tahun lalu, kecuali beberapa populasi terisolasi yang bertahan hingga sekitar 4.000 tahun lalu.

Fosil mammoth dari akhir Holosen di pedalaman Alaska akan menjadi penemuan luar biasa, fosil mammoth termuda yang pernah tercatat,” tulis ahli biogeokimia Universitas Alaska Fairbanks, Matthew Wooller, bersama timnya dalam makalah yang telah ditinjau sejawat.

Namun sebelum menulis ulang sejarah kepunahan mammoth, para peneliti memilih untuk memastikan kembali identitas spesimen tersebut.

Petunjuk dari Jejak Kimia

“Data radiokarbon dan isotop stabil adalah tanda pertama bahwa ada sesuatu yang tidak beres,” tulis tim peneliti.

Fosil-fosil tersebut mengandung kadar isotop nitrogen-15 dan karbon-13 yang jauh lebih tinggi dari yang seharusnya ditemukan pada hewan pemakan rumput darat seperti mammoth. Pola isotop semacam ini justru lebih umum ditemukan pada hewan laut, karena unsur tersebut banyak terakumulasi dalam rantai makanan laut.

Belum pernah ditemukan mammoth di Beringia timur dengan sinyal kimia serupa. Apalagi mengingat pedalaman Alaska jauh dari sumber makanan laut.

“Ini menjadi petunjuk pertama spesimen tersebut kemungkinan berasal dari lingkungan laut,” jelas Wooller dan timnya.

Terungkap Lewat DNA

Para ahli sepakat identifikasi berdasarkan bentuk tulang saja tidak cukup. Untuk memastikan identitasnya, diperlukan analisis DNA purba.

Meski DNA inti sel telah rusak, para peneliti berhasil mengekstrak DNA mitokondria dan membandingkannya dengan DNA paus sikat Pasifik Utara (Eubalaena japonica) dan paus minke (Balaenoptera acutorostrata).

Hasilnya mengejutkan, fosil yang selama ini dikira mammoth ternyata merupakan sisa-sisa paus.

Misteri Baru

Meski identitas spesimen berhasil diungkap, misteri baru pun muncul. “Bagaimana sisa-sisa dua paus berusia lebih dari 1.000 tahun bisa ditemukan di pedalaman Alaska, lebih dari 400 kilometer dari garis pantai terdekat?” tulis Wooller dan timnya.

Para peneliti mengajukan beberapa kemungkinan. Salah satunya adalah paus tersesat yang masuk ke pedalaman melalui teluk atau sungai purba, meskipun skenario ini dinilai sangat kecil kemungkinannya mengingat ukuran paus dan kondisi perairan pedalaman Alaska.

Kemungkinan lain adalah tulang-tulang tersebut dibawa oleh manusia purba dari pesisir ke pedalaman sebuah praktik yang telah ditemukan di wilayah lain, meski belum pernah terdokumentasi di Alaska bagian dalam.

Opsi terakhir adalah kesalahan ilmiah atau administratif. Otto Geist mengumpulkan dan menyumbangkan banyak spesimen dari berbagai lokasi di Alaska pada awal 1950-an, sehingga kesalahan pencatatan lokasi fosil tidak sepenuhnya bisa dikesampingkan.

Penemuan ini menjadi pengingat mencengangkan bahwa kemiripan fisik antar mamalia besar baik darat maupun laut dapat menyesatkan tanpa dukungan analisis ilmiah modern.

Bahkan setelah disimpan selama lebih dari tujuh dekade di museum, fosil masih mampu mengungkap cerita baru tentang masa lalu Bumi yang tak terduga. (Science Alert/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya