Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
GELOMBANG skeptisisme melanda Greenland setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeklaim telah mencapai kesepakatan terkait masa depan pulau di Arktik tersebut. Bagi penduduk lokal di ibu kota Nuuk, pernyataan Trump yang dilontarkan di Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos dianggap tidak berdasar.
Sebelumnya, Trump menyatakan telah mencapai "kerangka kesepakatan" yang memuaskan ambisinya setelah bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte. Meski demikian, Trump tidak memberikan rincian apakah kesepakatan tersebut mencakup pengalihan kontrol wilayah ke tangan Amerika Serikat, sebuah tuntutan yang terus ia suarakan selama berminggu-minggu melalui retorika tajam.
Warga Nuuk yang diwawancarai memberikan reaksi dingin terhadap kabar tersebut. Mickel Nielsen, 47, seorang teknisi lokal, secara terbuka menyebut klaim tersebut sebagai isapan jempol belaka.
"Sama sekali bohong. Dia berbohong," tegas Nielsen kepada AFP. "Saya tidak percaya satu kata pun yang dia ucapkan, dan saya rasa saya bukan satu-satunya."
Sentimen serupa diungkapkan oleh Anak, 64, seorang petugas layanan kesehatan. Ia menekankan kedaulatan warga lokal atas tanah mereka. "Trump? Saya tidak percaya padanya. Greenland milik warga Greenland," ujarnya singkat.
Warga lainnya, Miki, menyebut pernyataan pemimpin AS itu sulit untuk dipercaya karena inkonsistensinya. "Dia bisa mengatakan sesuatu dan dua menit kemudian mengatakan hal yang sebaliknya," ucapnya.
Reaksi keras juga datang dari ranah politik. Anggota Parlemen Denmark asal Greenland, Aaja Chemnitz, menegaskan bahwa tidak boleh ada keputusan yang diambil tanpa melibatkan pemerintah dan rakyat Greenland secara langsung.
“NATO sama sekali tidak punya hak untuk merundingkan apa pun tanpa kami, Greenland. Tidak ada keputusan tentang kami tanpa kami,” tegas Chemnitz. Ia juga menambahkan bahwa campur tangan NATO terhadap urusan wilayah dan sumber daya mineral mereka adalah hal yang "benar-benar gila."
Di sisi lain, juru bicara NATO, Allison Hart, menyebut pembicaraan Trump dengan Mark Rutte berlangsung "sangat produktif." Diskusi tersebut berfokus pada kekhawatiran Trump mengenai keamanan Arktik dari pengaruh Rusia dan Tiongkok.
"Negosiasi antara Denmark, Greenland, dan Amerika Serikat akan terus berlanjut dengan tujuan memastikan bahwa Rusia dan Tiongkok tidak pernah mendapatkan pijakan di Greenland," jelas Hart.
Meski demikian, data jajak pendapat Januari 2025 menunjukkan jurang perbedaan yang besar antara keinginan Washington dan rakyat Greenland. Sebanyak 85 persen warga Greenland menentang bergabung dengan Amerika Serikat, sementara hanya enam persen yang mendukung rencana tersebut.
LEMBAGA think tank GIF menilai kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) menunjukkan kecenderungan yang semakin agresif dan koersif dalam merespons dinamika geopolitik global.
Megatsunami Greenland menjadi salah satu fenomena alam paling mengejutkan dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa ini bukan tsunami biasa.
PARA menteri luar negeri Uni Eropa untuk pertama kali dalam pertemuan pada Kamis (29/1) menyebut Amerika Serikat sebagai ancaman bagi benua tersebut.
Peristiwa ini bermula pada September 2023, namun detail penyebabnya baru terungkap melalui laporan penelitian internasional yang dirilis pada akhir 2024.
Menlu Sugiono menegaskan menjaga kepentingan nasional harus tetap menjadi prioritas utama dalam setiap langkah kebijakan luar negeri Indonesia.
Menlu Sugiono menegaskan Indonesia akan terus mendorong terciptanya perdamaian serta stabilitas internasional melalui jalur diplomasi dan penguatan kerja sama global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved