Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA memiliki beragam makanan dan minuman manis yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, seperti produk kemasan, teh di kaki lima, biskuit, dan permen, yang mudah ditemukan dan sering dikonsumsi berbagai kalangan.
Mengonsumsi makanan atau minuman manis dapat meningkatkan suasana hati karena gula merangsang otak untuk melepaskan serotonin dan dopamin, neurotransmitter yang berperan dalam sistem penghargaan otak, sehingga mood menjadi lebih baik.
Sayangnya, gula tidak hanya memberikan kebahagiaan, tetapi juga bisa menyebabkan kecanduan. Ketika perasaan bahagia hilang, otak ingin merasakannya lagi, sehingga saat kadar gula turun, muncul keinginan untuk mengonsumsi makanan manis.
Menurut Kementerian Kesehatan dalam Permenkes Nomor 30 Tahun 2013, batas konsumsi gula harian adalah 50 gram (4 sendok makan) untuk dewasa dan 25 gram (2 sendok makan) untuk anak-anak, dengan asumsi kadar gula darah normal.
Jika berlebihan dan sudah kecanduan, dapat menyebabkan kadar gula tubuh menjadi tidak terkontrol. Tentu saja, konsumsi gula berlebihan dapat mengancam kesehatan.
1. Diabetes
Konsumsi gula berlebih menyebabkan resistensi insulin, yaitu kondisi ketika tubuh kesulitan merespons hormon insulin yang mengatur kadar gula darah. Ini mengarah pada peningkatan kadar gula dalam darah dan akhirnya mengakibatkan diabetes tipe 2.
2. Obesitas
Asupan gula berlebih memberikan kalori tambahan tanpa rasa kenyang yang cukup, sehingga tubuh cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan. Lemak yang menumpuk, terutama di sekitar perut, meningkatkan risiko obesitas.
3. Penyakit Jantung
Gula berlebih dapat mempengaruhi kadar kolesterol dalam tubuh dengan meningkatkan kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL). Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya penyempitan pembuluh darah, yang pada akhirnya dapat menyebabkan penyakit jantung dan gagal jantung.
4. Penyakit Ginjal
Kelebihan gula dalam tubuh meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan hipertensi, yang semuanya dapat merusak ginjal. Kerusakan pada ginjal ini dapat menyebabkan nefropati diabetik, saat ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik untuk menyaring limbah darah.
5. Perlemakan Hati
Fruktosa, salah satu jenis gula, jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan akan diubah oleh hati menjadi lemak. Penumpukan lemak di hati dapat menyebabkan perlemakan hati, yang dapat memicu peradangan dan meningkatkan risiko penyakit hati berlemak.
6. Risiko Kanker
Meskipun gula tidak langsung menyebabkan kanker, konsumsi gula yang berlebihan dapat meningkatkan kadar insulin, yang merangsang pertumbuhan sel kanker. Obesitas akibat konsumsi gula juga meningkatkan peradangan, yang berhubungan dengan peningkatan risiko kanker seperti kanker payudara, usus besar, hati, dan pankreas.
7. Kerusakan Gigi (Karies Gigi)
Gula yang tertinggal di mulut menjadi makanan bagi bakteri, yang mengubah gula menjadi asam. Asam ini merusak email gigi dan dapat menyebabkan gigi berlubang jika tidak dibersihkan dengan baik melalui sikat gigi secara teratur.
8. Nyeri Sendi (Gout)
Kebiasaan mengonsumsi makanan manis berlebihan dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Penumpukan asam urat ini dapat menyebabkan peradangan pada sendi, memicu nyeri hebat yang dikenal dengan gout.
9. Jerawat dan Penuaan Kulit
Gula berlebih dapat merangsang produksi minyak berlebih pada kulit, yang dapat menyebabkan jerawat. Selain itu, konsumsi gula yang berlebihan juga meningkatkan proses glikasi, yang merusak kolagen dan elastin, dua komponen kulit untuk menjaga kekenyalan dan elastisitas kulit, yang pada akhirnya mempercepat penuaan kulit.
Oleh karena itu, mengontrol konsumsi gula perlu dilakukan. Jika sudah kecanduan, kurangi secara perlahan dengan memilih makanan rendah gula, menggantinya dengan pemanis alami, atau memperbanyak air putih untuk menjaga tubuh tetap sehat. (kementerian kesehatan/Z-1)
Makanan manis sederhana dapat memicu fluktuasi gula darah yang tidak stabil. Dampaknya, rasa lapar akan muncul lebih cepat saat sedang menjalankan ibadah puasa di siang hari.
Komposisi dan porsi makanan saat sahur berpengaruh langsung terhadap kestabilan gula darah seseorang.
Di tengah antusiasme menjalankan ibadah puasa, masyarakat diingatkan untuk tetap memperhatikan pola makan, khususnya dalam mengonsumsi asupan manis saat berbuka.
Berbagai hidangan takjil yang tinggi kandungan gula justru dapat memicu lonjakan kadar gula darah secara drastis dalam waktu singkat.
Makanan manis merupakan makanan dengan kandungan gula yang memberikan rasa manis, yang sebaiknya dikonsumsi secukupnya dan seimbang.
Gula dapat merangsang pelepasan serotonin dan endorfin di otak, yaitu zat kimia yang membuat perasaan lebih nyaman dan bahagia.
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan prinsip gizi seimbang dalam memilih menu berbuka puasa selama bulan Ramadan 2026.
Terdapat kecenderungan masyarakat memilih makanan dan minuman manis saat berbuka puasa sebagai upaya mengembalikan kadar gula darah yang menurun setelah berpuasa seharian.
Berbagai hidangan takjil yang tinggi kandungan gula justru dapat memicu lonjakan kadar gula darah secara drastis dalam waktu singkat.
Minuman manis umumnya tinggi kalori tetapi rendah nutrisi, sehingga jika dikonsumsi berlebihan dapat berdampak buruk bagi kesehatan, seperti diabetes, obesitas, kerusakan gigi
Minuman manis umumnya tinggi kalori tetapi rendah nutrisi, sehingga jika sering dikonsumsi dapat berdampak buruk bagi kesehatan, seperti meningkatkan risiko diabetes
Minuman berenergi menjadi sorotan utama setelah sebuah studi kasus di Inggris mengungkapkan hubungan antara konsumsi berlebihan dan stroke ringan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved