Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTRIS Anna Kendrick, 39, memutuskan untuk menyumbangkan uang yang dia hasilkan dari film barunya kepada korban kejahatan kekerasan. Hal itu dilakukan setelah Netflix membeli film Woman of the Hour yang dibintangi dan disutradarai Kendrick. Film itu tayang perdana di Festival Film Toronto 2023.
Kendrick menyumbangkan penghasilannya dari film tersebut kepada Rape, Abuse & Incest National Network (RAINN) atau Jaringan Nasional Pemerkosaan, Pelecehan & Inses, dan The National Center for Victims of Violent Crime (Pusat Nasional untuk Korban Kejahatan dengan Kekerasan).
Kendrick mengingat saat dia membawa film tersebut ke Toronto International Film Festival (TIFF) tahun lalu, ia berpikir bahwa itu bukanlah usaha yang menghasilkan uang. Ia mengaku telah mencurahkan semua sumber daya untuk pembuatan film tersebut.
“Baru (saat) seminggu sebelum TIFF, saya berpikir 'Oh, film ini akan menghasilkan uang’. Ya Tuhan, saya bertanggung jawab untuk ini dan kemudian rasanya, 'Oh, akan ada pertukaran uang,' dan saya bertanya pada diri sendiri, 'Apakah Anda merasa jijik dengan hal ini?',” kata Kendrick seperti dilansir dari People, Kamis (31/10).
Ia mengaku tidak berniat menghasilkan uang dari film itu. "Uang tersebut akan disalurkan atau telah disalurkan ke RAINN dan The National Center for Victims of Violent Crime. Ini merupakan wilayah yang rumit tetapi rasanya hal itulah yang harus saya lakukan,” ungkap Kendrick.
Woman of the Hour terinspirasi oleh kisah Cheryl Bradshaw dan pertemuannya dengan Rodney Alcala, seorang pembunuh berantai di kehidupan nyata pada tahun 1970-an.
Dalam film tersebut, karakter Kendrick berperan dalam sebuah episode The Dating Game dan bertemu Alcala setelah dia terpilih sebagai kontestan biasa di tengah "pembunuhan selama setahun", seperti tertulis dalam sinopsis resmi untuk film tersebut.
Film yang juga dibintangi Tony Hale, Daniel Zovatto, Nicolette Robinson, Pete Holmes, Autumn Best, Kathryn Gallagher dan Kelley Jakle, melacak pembunuhan Alcala selama tahun 1970-an dan pertemuannya dengan Bradshaw selama dan setelah perekaman episode Dating Game tersebut.
Film baru ini menandai debut penyutradaraan Kendrick. Dia berkata bahwa dia benar-benar bersenang-senang membuat lagu periode dan memainkan semuanya seperti tahun tujuh puluhan. Woman of the Hour telah tayang di Netflix. (Z-1)
Dalam trailer film Monster Pabrik Rambut (Sleep No More), aktor Iqbaal Ramadhan tampil sangat berbeda dari yang ditampilkan di berbagai film yang ia bintangi sebelumnya.
Teaser Lastri: Arawah Kembang Desa menjadi pembuka yang kuat sekaligus emosional, karena menampilkan sosok almarhum Gary Iskak sebagai Turenggo, serta Hana Saraswati sebagai Lastri.
Berlatar di sebuah penjara di Indonesia yang dikuasai kekerasan dan ketidakadilan, Ghost in the Cell bukan sekadar film genre yang menawarkan ketegangan.
Kehadiran hantu-hantu senior tersebut di film Sebelum Dijemput Nenek berfungsi untuk melengkapi teror yang ditebar oleh antagonis utama, Mbah Marsiyem.
Lebih dari 90 persen anggota Netflix di Indonesia menonton konten Indonesia pada 2025, dan 35 tayangan Indonesia berhasil masuk dalam daftar Top 10 Global Netflix.
The Bluff membawa penonton ke Kepulauan Cayman, sebuah wilayah yang kaya akan nilai sejarah dan budaya. Di sinilah kisah Ercell "Bloody Mary" Bodden dimulai.
Teaser Lastri: Arawah Kembang Desa menjadi pembuka yang kuat sekaligus emosional, karena menampilkan sosok almarhum Gary Iskak sebagai Turenggo, serta Hana Saraswati sebagai Lastri.
Aktor pemenang Piala Emmy, Timothy Busfield, 68, telah menjalani persidangan perdana setelah menyerahkan diri kepada pihak berwenang di Albuquerque, New Mexico.
Nopek Novian mengaku melakukan riset mendalam dengan mengamati berbagai referensi aktor yang pernah memerankan tokoh serupa, salah satunya adalah budayawan senior Sujiwo Tejo.
Menurut Oki Rengga, keberanian untuk mencoba genre yang berbeda merupakan upayanya untuk terus meningkatkan kualitas dan kapasitas akting di industri film tanah air.
Keberhasilan Oki Rengga dalam membawakan dialek Jawa tanpa jejak dialek Sumatra di film Sebelum Dijemput Nenek mengundang rasa penasaran mengenai proses pendalaman karakternya.
Melampaui sekadar akting di depan kamera, para aktor seperti Sri Isworowati, Dodit Mulyanto, hingga Oki Rengga harus menghadapi tantangan fisik dan emosional yang cukup berat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved