Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Cerita Magistus Miftah: Dari Warung Pecel Ayam ke Layar Lebar

Basuki Eka Purnama
25/2/2026 20:11
Cerita Magistus Miftah: Dari Warung Pecel Ayam ke Layar Lebar
Magistus Miftah(Antara/Instagram @magistus_tarot)

KISAH sukses sering kali datang dari jalan yang tak terduga. Hal inilah yang dialami instruktur tari pendatang baru, Magistus Miftah, yang kini melangkah ke dunia seni peran melalui film Ghost in the Cell garapan sutradara Joko Anwar. 

Film yang akan tayang di bioskop mulai 16 April mendatang ini menjadi debut Miftah setelah ia berhasil menembus audisi yang diikuti ratusan pendaftar.

Keunikan kisah Miftah bermula dari sebuah momen sederhana di warung pecel ayam bersama sahabatnya. Saat itu, sahabatnya melontarkan dukungan spontan, "Kak, lu gue tungguin main film, filmnya Bang Joko Anwar."

Meski sempat ragu karena merasa dirinya hanyalah seorang penari, Miftah memilih untuk mengaminkan ucapan tersebut. Tak disangka, sebulan kemudian, takdir seolah menjawab. 

Sahabatnya mengirimkan tangkapan layar iklan casting film Ghost in the Cell yang diunggah rumah produksi Come And See Pictures.

"Aku langsung melihat kayak, 'Wah, Tuhan, ini nyata. Inilah waktunya'," ucap Miftah, dikutip Rabu (25/2). 

Ia merasa karakter Novilham dalam naskah tersebut sangat cocok dengan dirinya, bahkan seolah diciptakan untuknya.

Ketertarikan Miftah sempat berubah menjadi rasa takut saat membaca skenario. Pasalnya, isi naskah tersebut terasa sangat personal dan mirip dengan kehidupan pribadinya. 

Ia sempat curiga bahwa tim penulis telah mengamati kesehariannya. Namun, keraguan itu terjawab saat ia mengetahui bahwa naskah tersebut sebenarnya sudah selesai ditulis sejak 2018, jauh sebelum proses audisi dimulai.

"Ternyata memang skripnya sudah ada jauh lebih lama dari audisi aku. Tapi begitu aku baca, kayak, 'Ini aku banget', gitu. Dan itu seram sih, gitu. Aku rasanya kayak takut kayak, 'Nih aku lagi dipantau ya', gitu," jelas Miftah.

Dalam proses produksi, Joko Anwar memberikan ruang kreatif yang luas bagi Miftah untuk mendalami karakter Novilham. Salah satunya adalah permintaan sutradara untuk memasukkan istilah-istilah unik yang sering digunakan Miftah saat mengajar tari.

Miftah pun membawa bahasa kesehariannya, seperti instruksi koreografi yang terdengar jenaka dalam adegan di dalam sel penjara: "keramas, keramas, sabunan, tetes gedes tetes gedes, turun, nengok." 

Setelah memastikan bahwa istilah-istilah tersebut sopan dan aman dari sensor, Miftah merasa bangga bisa membawakan karakter Novilham dengan gaya yang sangat otentik. 

Baginya, keterlibatan di proyek besar ini adalah bukti nyata dari manifestasi yang ia aminkan di warung pecel ayam beberapa waktu lalu. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya