Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
FILM Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis bukan hanya menampilkan drama yang emosional, tetapi juga menyoroti dinamika keluarga yang kompleks.
Dalam konferensi pers, Dominique Sanda dan Surya Saputra berbagi pengalaman mereka memerankan karakter orangtua dalam film tersebut. Peran mereka sebagai ibu dan ayah membawa tantangan tersendiri, mengingat beratnya cerita yang dibawa oleh kedua karakter tersebut.

Baca juga : Para Pemain Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis Ungkap Tantangan dan Pembelajaran Selama Proses Syuting
Dominique Sanda, yang memerankan Devi—ibu dari Tari, berbagi tentang beratnya peran tersebut. Sebagai seorang istri dan ibu yang lebih sering mengalah, karakter Devi menuntut kedalaman emosi yang signifikan.
"Tentunya berat sekali, sejak awal aku baca naskahnya sama Mas Reka dan Mas Rosa itu aku udah mikir dan paham kalo ini peran yang lumayan berat dari segi bagaimana kita mendalami peran tersebut," ujar Dominique.
Ia menjelaskan membangun emosi dalam perannya bukanlah hal yang mudah, terutama saat syuting adegan-adegan intens.
Baca juga : Umay Shahab Ungkap Awal Mula Ide Film Bolehkah Sekali Saja Ku Kenangis
"Kita membangun emosinya itu nggak gampang, dan juga bagaimana tidak terbawa suasana saat syuting," lanjutnya.
Namun, Dominique merasa terbantu oleh dukungan dari sutradara serta interaksi dengan rekan-rekannya di set, seperti Surya Saputra dan Prilly Latuconsina, yang berperan sebagai putrinya, Tari.
"Cukup sulit namun banyak sekali mendapatkan bantuan dari sutradara dan juga cast lain yang interaksi langsung seperti Surya dan Prilly," tambahnya.
Baca juga : Junisya Aurelita Ungkap Lakukan Riset Mendalam Saat Tulis Skenario Film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis
Peran Dominique sebagai ibu yang berusaha kuat namun berada di bawah bayang-bayang suaminya, memberikan tantangan tersendiri. Namun, ia mampu menyampaikan pesan penting mengenai bagaimana seorang ibu tetap berjuang untuk keluarganya, meski menghadapi banyak tekanan.

Surya Saputra, yang memerankan Pras, ayah Tari, juga merasakan tantangan besar dalam peran ini.
Baca juga : Mengatasi Kesedihan Melalui Layar, Film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis Ajak Penonton Menyentuh Emosi
Berbeda dari karakter yang biasa ia mainkan, Pras adalah sosok suami dan ayah yang keras, baik dalam sikap maupun perkataan.
"Sebetulnya ini berat karena karakter Pras ini bukan saya banget, yang main fisik dan ngomong keras," ungkap Surya.
Karakter Pras bukan hanya keras secara fisik, tetapi juga menyimpan luka emosional yang mendalam.
"Yang membuat saya jatuh cinta adalah cerita di mana penggambaran Pras ini adalah sosok yang punya masalah, tapi dia sendiri bimbang untuk memahami dan mengakui kalau hal tersebut adalah masalah," jelasnya.
Pras digambarkan sebagai sosok yang melampiaskan kemarahan dan kebingungannya pada keluarganya, tidak mampu mengekspresikan perasaannya dengan sehat.
Surya menjelaskan bahwa karakter ini menunjukkan realitas banyak pria yang merasa kesulitan untuk terbuka tentang emosi mereka.
"Banyak dari kita yang tidak bisa untuk bercerita karena berpikir bahwa bercerita adalah hal yang menunjukkan kelemahan. Tapi hal tersebut salah, karena dengan kita bercerita, kita melepaskan emosi kita, dan dari situ solusi mulai terlihat," katanya.
Lewat perannya, Surya berharap bisa menyampaikan pesan bahwa tidak apa-apa bagi laki-laki untuk merasa sedih dan mengungkapkan perasaan mereka.
"Jadi untuk aku personal ini sangat bagus karena mau bilang kalau nggak papa untuk bersedih dan mengungkapkan itu," tutup Surya.
Dominique Sanda dan Surya Saputra menunjukkan betapa mendalamnya tantangan dalam peran mereka sebagai orangtua di film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis. Keduanya berhasil menyampaikan emosi kompleks yang melibatkan kekuatan, kerentanan, dan perjuangan batin yang tidak selalu mudah diungkapkan.
Film ini memberikan ruang bagi penonton untuk merenungkan pentingnya komunikasi emosional, terutama dalam keluarga, serta mengajarkan bahwa bercerita dan menunjukkan kelemahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan yang sebenarnya. (Z-1)
Sejak kemunculannya, Nussa telah menjadi ikon animasi yang lekat dengan nilai-nilai positif bagi anak-anak.
Christine Hakim tidak kuasa menahan air mata saat membagikan pengalamannya menghidupkan sosok Ibu Wibisana dalam film adaptasi novel karya Leila S Chudori, Laut Bercerita.
Menurut Dian Sastrowardoyo, sosok Kinan dalam film Laut Bercerita adalah representasi perempuan yang sangat inspiratif.
Reza Rahadian mengungkapkan bahwa dalam mendalami karakter Biru Laut, ia memilih untuk tetap setia pada pondasi awal yang telah dibangun penulis.
Joko Anwar memaparkan bahwa film Ghost in the Cell bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.
Suzzanna dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan sekadar tokoh hantu, melainkan representasi perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami wanita.
Christine Hakim tidak kuasa menahan air mata saat membagikan pengalamannya menghidupkan sosok Ibu Wibisana dalam film adaptasi novel karya Leila S Chudori, Laut Bercerita.
Reza Rahadian mengungkapkan bahwa dalam mendalami karakter Biru Laut, ia memilih untuk tetap setia pada pondasi awal yang telah dibangun penulis.
Film Ghost in the Cell garapan sutradara Joko Anwar menjadi debut Magistus Miftah setelah ia berhasil menembus audisi yang diikuti ratusan pendaftar.
Dalam pidato kemenangannya di BAFTA, Robert Aramayo memberikan penghormatan kepada John Davidson, seorang aktivis sindrom Tourette yang menjadi inspirasi di balik pembuatan film I Swear.
Katyana Mawira secara terbuka mengungkapkan impiannya untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Inggris Raya (UK) demi mengejar gelar di bidang ilmu pasti.
Kabar mengejutkan datang dari dunia hiburan Korea Selatan. Dua rising star generasi muda, Shin Eun Soo dan Yu Seon Ho, dikabarkan tengah menjalin hubungan asmara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved